
"Ma, Radit udah nggak mempermasalahkan itu lagi. Radit udah-" Radit mencoba mengalihkan topik pembicaraan tapi ucapannya malah dipotong oleh mamanya.
"Diam kamu Radit! Mama tidak bertanya sama kamu."
Tania dan Radit menunduk, mereka berdua takut menceritakan kejadian itu pada Bu Risna. Melihat keduanya terdiam, Bu Risna jadi menaruh curiga pada kedua anak itu.
"Jangan bilang kalian berdua sudah pernah melakukan hub---" ujar Bu Risna menyelidik.
"Eh nggak kok, Tante."
"Nggak kok Ma."
Spontan Radit dan Tania menjawab secara bersamaan memotong tuduhan Bu Risna. Mereka lalu saling tatap, sepertinya mereka berdua tahu apa yang dipikirkan oleh Bu Risna.
"Lalu kalian punya masalah apa? Ayo cerita!" seru Bu Risna penasaran."
Radit dan Tania kembali terdiam. Ada perasaan takut dan khawatir yang hinggap di diri mereka.
"Kalau kalian tidak mau cerita, mama tidak akan merestui hubungan kalian lagi," ancam Bu Risna.
Radit dan Tania terkejut mendengarkan ancaman Bu Risna. Tentu saja mereka tidak mau hal itu sampai terjadi. Biar bagaimana pun, restu orang tua lah yang paling utama dalam memulai sebuah hubungan ke jenjang yang lebih serius. Tanpa restu, mereka tidak mungkin melanjutkan hubungan mereka ke tahap selanjutnya.
"Baiklah Ma, kami akan menceritakan semuanya." ucap Radit dengan nada suara melemah sembari menunduk.
Mau tidak mau, mereka berdua pun harus menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Bu Risna. Mereka tidak mau Bu Risna berpikir yang tidak-tidak pada mereka. Apalagi mereka sampai tidak mendapatkan restu dari Bu Risna. Meskipun pada kenyataannya Radit memang hampir melakukan itu pada Tania.
Bu Risna sangat marah saat mengetahui kelakuan anaknya. Ia pun lalu menjewer telinga Radit saking kesalnya.
"Uh, dasar anak nakal! Kamu mau bikin malu keluarga, hah?!" ucap Bu Risna kesal lalu menjewer telinga Radit.
"Ampun Ma, ampun." ucap Radit sambil memegangi tangan Bu Risna yang sedang menjewer telinganya.
"Mau ditaro dimana muka Mama Radit ...? Muka Papa kamu, dan seluruh keluarga kita, hah?!"
"Ampun Ma ...."
"Hampir saja kamu mencoreng nama baik keluarga. Kamu jangan cuma mau enaknya aja, pikirkan juga akibatnya. Dasar anak bandel!"
Bu Risna memarahi Radit sambil masih menjewer telinga Radit.
"Ampun Ma, sakit ..." keluh Radit.
"Mama sama Papa sudah sering menasehati kamu. Nyatanya begitu kelakuan kamu Radit. Mama tuh gemes sama kamu, Nak ...."
Tania hanya menunduk, ia tidak mau berbicara apa-apa lagi. Ia juga takut kalau Bu Risna akan berbalik memarahinya juga.
Setelah meluapkan segala kekesalannya, Bu Risna pun akhirnya melepaskan jewerannya di telinga Radit. Telinga Radit sampai memerah akibat jeweran Bu Risna. Radit juga merasakan panas dan perih ditelinganya.
"Itu belum sebanding dengan dengan rasa malu yang kamu torehkan ke wajah kami, kalau seandainya kamu sampai berani melakukan itu Radit." jelas Bu Risna.
Bu Risna masih marah pada anaknya.
"Radit minta maaf Ma, Radit khilaf." ucap Radit.
"Khilaf, khilaf. Terus kalau Mama potong kepala burung kamu itu, terus Mama bilang khilaf, kamu mau terima begitu aja, iya?" tanya Bu Risna sambil menunjuk adik Radit.
"Yah enggaklah Ma, ini kan masa depan Radit. Masa Mama tega sih motong masa depan anak sendiri."
"Mama ih," ucap Radit cemberut.
"Tania, apa dikeluarga kamu ada yang tahu tentang masalah ini?" tanya Bu Risna.
"Nggak ada tante, Tania takut cerita." jawab Tania.
"Bagus, kalian harus menjaga rahasia ini baik-baik. Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Kalau sampai ayah kamu tahu, Tante tidak bisa menjamin apa yang akan Ayahmu lakukan pada anak nakal ini." ujar Bu Risna seraya menunjuk Radit.
"Iya Tante."
"Tante harap kamu mau memaafkan kesalahan Radit, yah." ujar Bu Risna ikut merasa bersalah karena kelakuan anak laki-lakinya.
Tania hanya mengangguk menanggapi ucapan Bu Risna.
***
Keesokan Harinya,
"Ting Tong, Ting Tong."
Pagi-pagi sekali sepertinya sudah ada seseorang yang ingin bertamu dirumah Hendra dan Tasya. Miko yang sedang duduk di ruang keluarga sambil terus mengawasi restorannya pun menghentikan aktifitasnya sejenak. Ia segera beranjak membukakan pintu untuk seseorang yang ada diluar sana. Karena Bi Ani sedang memasak didapur. Radit dan Tania sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.
Saat Miko memutar lalu menarik gagang pintu, ia mendapati seorang wanita cantik memakai atasan cukup ketat dengan bagian dada terbuka serta rok pendek di atas lutut. Dan sepertinya mereka seumuran. Wanita itu menenteng sebuah tas berukuran lumayan besar, seperti hendak mengungsi saja. Mata Miko bergerak naik turun menatap wanita itu dari atas sampai ke bawah secara berulang-ulang. Hingga akhirnya ia disadarkan oleh sapaan wanita itu.
"Permisi, Mas! Apa benar ini rumah Bapak Hendra dan Ibu Tasya?" tanya Wanita itu.
"Iya, benar. Ada keperluan apa yah Mba?" tanya Miko.
"Begini Mas, saya pembantu baru disini." jawab Wanita itu.
"Hah?!" Miko terkejut mendengarkan jawaban wanita itu.
"Nggak salah nih Hendra mau mempekerjakan wanita seperti ini dirumahnya." batin Miko.
"Kenapa Mas?" tanya Wanita itu.
"Eh, nggak kok. Silahkan masuk!" seru Miko.
"Makasih Mas. Oh iya, Mas yang punya rumah ini bukan?" tanya Wanita itu.
"Bukan. Ini rumah teman saya. Saya cuma numpang disini." jawab Miko.
"Oh, cuma numpang," gumam wanita itu.
"Apa?" tanya Miko.
"Eh, nggak kok, Mas. Kenalin, nama saya Santi. Nama, Mas siapa?" ujar Santi sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Miko.
"Lee Min Ho. Ikut saya," jawab Miko tanpa menerima uluran tangan Santi.
Miko sengaja tidak memberitahukan nama aslinya. Entah kenapa ia memiliki kesan buruk saat pertama kali melihat pembantu baru itu. Padahal mereka baru saja bertemu dan belum mengenal dengan baik satu sama lain.
Miko pun lalu beranjak masuk kedalam tanpa mempedulikan si Santi yang kewalahan membawa tas besarnya.
Huh! Sombong banget sih. Cuma numpang hidup dirumah orang aja, belagu. Awas aja yah, kalau nanti aku berhasil jadi nyonya besar di rumah ini, akan aku usir kamu keluar dari rumah ini.