How To Love You

How To Love You
Ibadah, Pahalanya Besar



Saat Hendra masuk ke dalam kamar mandi, Tasya memutuskan untuk mengecek grup Whatsapp-nya. Beberapa hari ini dia sangat sibuk dan tidak sempat membuka aplikasi hijau tersebut.


Tasya menjadi penasaran dengan isi percakapan teman-teman terdekatnya di grup whatsapp. Kehebohan apalagi yang dibahas oleh gadis-gadis rempong tersebut.


Setelah membuka aplikasi hijau itu, ternyata pesan masuk di ponsel Tasya sudah ramai, bahkan sudah ada ribuan pesan yang belum terbaca olehnya di grup.


Beberapa temannya juga mengiriminya pesan secara pribadi untuk menanyakan keberadaannya gadis itu. Itu karena Tasya menyembunyikan kabar pernikahannya kepada teman-temannya. Tidak ada satu pun teman kampusnya yang tahu kalau dia dan Hendra sudah menikah.


Saat itu Tasya tengah rebahan di atas sofa sambil membaca chat teman-temannya. Beberapa pesan juga ingin dia balas.


...----------------...


...Percakapan di Grup Chat...


...'Cewek² Rempong'...


^^^📱Darshy :^^^


^^^Woi temen-temen.^^^


^^^Ada yang tau gak^^^


^^^si @Tasya ke mana?🤔^^^


^^^📱Delly :^^^


^^^Iya nih, @Tasya ke mana sih?^^^


^^^Kangen nih😢^^^


^^^📱Yuni :^^^


^^^Nggak tau.^^^


^^^Tuh anak tadi aku japri^^^


^^^tapi kayannya udah beberapa^^^


^^^hari nggak aktif😒^^^


^^^📱Imha :^^^


^^^Aku kangen personil lengkap^^^


^^^kayak dulu kalo ke kantin^^^


^^^rame banget kayak pasar😂^^^


^^^📱 Icha :^^^


^^^Tau tuh. Tuh anak belakangan^^^


^^^ini sering bolos kuliah🤦🏼‍♀️^^^


^^^📱 Jusnhy :^^^


^^^Apa jangan-jangan dia^^^


^^^dibawa kabur sama🕴^^^


^^^📱Jusmhy :^^^


^^^@Jusnhy Hust🤫^^^


^^^Jangan asal ngomong.^^^


^^^📱Marnhy :^^^


^^^Iya @Jusnhy^^^


^^^Jangan asal ngomong.^^^


^^^Nanti orangnya marah.^^^


^^^📱 Jusnhy :^^^


^^^Guys,, bergosiplah selagi^^^


^^^orangnya nggak ada😆^^^


📱Tasya :


Ehem ehem. Siapa yang


berani gosipin aku hah?


Siapa?😤


^^^📱Jusnhy :^^^


^^^Kabooor🏃‍♀️^^^


^^^📱 Icha :^^^


^^^Tuh orangnya udah kabur.^^^


^^^Oia @Tasya, kapan kamu^^^


^^^masuk kuliah?^^^


^^^📱 Delly :^^^


^^^Iya kapan? Kangen nih.^^^


^^^Iya nih. Kita semua^^^


^^^nyariin kamu loh Tasy.^^^


^^^📱Darshy :^^^


^^^Aku juga. Kirain kamu sakit^^^


^^^makanya nggak masuk.^^^


(Note : Mereka menamai grup chat mereka dengan nama grup 'Cewek² Rempong')


...----------------...


Tasya tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan teman-temannya. Dia tidak tahu apakah Hendra akan mengizinkannya untuk masuk kuliah besok ataukah belum.


Jadi dia memutuskan untuk bertanya dulu pada suaminya baru menjawab pertanyaan teman-temannya di grup.


Saat Tasya tengah fokus menatap layar ponselnya, dia tidak menyadari kalau Hendra sudah keluar dari kamar mandi dan mendapati dirinya sedang rebahan di atas sofa.


Saat Hendra mendekat, Tasya akhirnya menyadari keberadaan suaminya tersebut. Dia pun buru-buru untuk bangun tapi Hendra langsung mencegahnya.


"Tetaplah seperti itu, Sayang. Jangan bergerak."


"Hm? Ada apa, Sayang?" Tasya bertanya karena kebingungan.


Hendra tidak menjawab. Dia malah semakin mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri istrinya.


Kak Hendra mau apa? Apa jangan-jangan dia ....


Seketika jantung Tasya berdetak sangat cepat. Dia mulai berpikiran yang aneh-aneh, membuat dirinya ketakutan saja.


Begitu Hendra mendekat, tiba-tiba saja dia mengangkat tubuh istrinya lalu menggendongnya menuju tempat tidur.


Tasya tiba-tiba saja berteriak saat Hendra mengangkat tubuh mungilnya.


"Ahh! Kamu mau apa, Sayang?"


Membayangkan hal yang tidak-tidak membuat Tasya semakin ketakutan. Seketika tubuhnya berubah menjadi kaku dan tegang. Hendra bahkan bisa mendengar detak jantungnya dengan jelas.


Hendra tersenyum. Sepertinya dia bisa membaca ketakutan istrinya.


"Kenapa kamu berbaring di sofa, Sayang? Kita 'kan punya tempat tidur. Apa kamu tidak ingin mencoba tempat tidur kita?" Hendra memang sengaja menggoda istrinya.


Tasya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pikirannya benar-benar sudah liar kemana-mana.


Tolong, jangan lakukan 'itu' padaku. Aku mohon. Aku benar-benar belum siap sama sekali.


Hendra membaringkan tubuh istrinya yang sudah gemetar ketakutan di atas tempat tidur dengan sangat lembut dan pelan. Matanya tidak bisa dia elakkan dari wajah cantik istrinya.


Hendra tersenyum, lalu ikut berbaring di samping istrinya. Dia lalu memeluk tubuh mungil Tasya dengan erat, lalu mendaratkan ciuman di pipi sang istri.


Ibu bilang tidak boleh menolak. Iya, tidak boleh menolak. Tasya ... tenangkan dirimu. Ini ibadah, pahalanya besar. Batinnya sambil memejamkan matanya kuat-kuat. Dia berusaha untuk menenangkan diri.


Tidak, tidak aku tidak mau melakukannya. Aku takut, aku takut sekali. Aku benar-benar belum siap. Ibu ... kenapa ibu jahat sekali? Kenapa mengatakan semua itu padaku? Aku 'kan jadi takut untuk menolak. Hiks hiks.


Tak terasa air mata Tasya mulai menetes dari ujung matanya. Hendra jadi terkejut melihatnya.


"Sayang, kenapa kamu menangis? Apa tadi aku menyakitimu saat aku tiba-tiba menggendongmu, hm?"


Hendra merasa kebingungan melihat istrinya menangis.


Tasya tidak menjawab. Tadinya dia hanya menangis dalam diam, tapi sekarang dia sudah mulai mengeluarkan sedikit suara.


"Huhuhu ...."


"Mana yang sakit, Sayang? Katakan padaku? Apakah ini? Ini? Atau ini?" Hendra bertanya sambil menyentuh beberapa bagian tubuh istrinya.


Tentu saja benda berharga yang ada pada bagian atas tubuh istrinya tidak terlewatkan untuk di sentuh. Mumpung Hendra punya kesempatan untuk pegang-pegang, dia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Toh yang disentuh istri sendiri, jadi sah sah saja.


Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, tangisan Tasya malah semakin menjadi-jadi. Dia menangis sambil menggelengkan kepalanya.


Oh ... sepertinya aku mengerti sekarang. Tasya tadi pasti berpikir kalau aku ingin meminta hakku sebagai suaminya.


Lagipula, siapa juga yang tidak mau? Tentu saja aku mau. Toh sama istri sendiri. Sebagai lelaki normal, hal seperti itu tidak usah dipertanyakan lagi. Punya istri cantik dan menawan seperti ini siapa yang bisa tahan?


Hendra terus menatap wajah istrinya yang menangis seperti anak kecil.


Tapi sepertinya aku tidak boleh egois. Istriku masih sangat polos. Jadi wajar saja jika dia belum siap dan merasa ketakutan jika aku ingin meminta hakku padanya.


Hendra pun berusaha menenangkan Tasya. Dia merasa tidak tega melihat istrinya menangis ketakutan.


"Sayang sudah, tenanglah. Jangan menangis. Apa kamu menagis karena kamu berpikir aku ingin meminta hakku sebagai suamimu, hm?"


"Jika kamu benar-benar menangis karena hal itu, aku sarankan berhentilah. Aku tidak akan meminta hakku sebagai suamimu sebelum kamu sendiri siap melakukannya denganku. Aku tidak akan memaksamu Sayang."


Hendra memeluk tubuh mungil istrinya sambil mengelus kepala Tasya dengan lembut.


Mendengar pernyataan Hendra, seketika Tasya menangis. "Benarkah Sayang?"


"Iya, Sayang. Tapi asal kamu tahu, aku ini lelaki normal. Aku mungkin tidak akan bisa tahan jika harus menunggu kamu siap dalam waktu yang cukup lama."


Tasya menyeka air matanya. Sedikit demi sedikit ketakutannya mulai menghilang. Setidaknya Hendra tidak akan melakukan itu padanya sekarang. Jadi dia bisa sedikit bernapas lebih lega dan lebih tenang.


"Sayang, ayo kita tidur siang. Peluk aku juga."


Tasya menurut, dia lalu membalas pelukan suaminya.


Sebelum memejamkan matanya, Hendra mencium kening, kedua pipi dan yang terakhir mengecup bibir istrinya. Setelah melakukan hal itu, dia juga meminta Tasya untuk melakukan hal yang sama padanya.