How To Love You

How To Love You
Bab 57



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


Setelah kepergian Wildan bersama temannya. Hendra pun masuk ke dalam rumahnya. Ia merasa sangat kesal pada Wildan.


Menyadari perubahan ekspresi suaminya yang tidak seperti biasanya, Tasya pun menghampirinya. Hendra sedang duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya didada. Dengan kedua alisnya dikerutkan dan mata yang menatap tajam kedepan.


"Sayang. Kamu kenapa? Kok kelihatannya kamu kesal begitu. Kamu kesal gara-gara apa?" tanya Tasya sambil duduk disamping Hendra.


"Sayang. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Tapi kamu janji, kamu harus menjawabnya dengan jujur." ujar Hendra sambil memegang tangan Tasya.


"Memangnya apa sayang?" tanya Tasya penasaran.


"Berjanjilah kamu akan menjawabnya dengan jujur." pinta Hendra.


"In syaa Allah sayang." balas Tasya.


"Mm sayang ... apa benar kamu mantan gebetan laki-laki tadi?" tanya Hendra ingin memastikan bahwa ucapan Wildan itu benar ataukah tidak.


"Hah? Gebetan? Siapa bilang sayang?" Tasya bingung dengan pertanyaan Hendra.


"Orang itu tadi yang berkata seperti itu." jawab Hendra.


"Hah! Kak Wildan bilang begitu sama kamu. Masa sih, sayang?" Tasya semakin kebingungan dengan pernyataan Hendra.


"Kamu tidak percaya padaku?" ucap Hendra.


"Bukan begitu sayang. Aku hanya tidak menyangka dia bisa berani berkata seperti itu sama kamu. Padahal dia tahu kalau aku sudah menikah sama kamu." jelas Tasya.


"Apa kamu pernah dekat dengannya?" tanya Hendra lagi.


"Dekat?? Mm ... bisa dibilang dekat tapi menurutku kedekatan kami hanya sebatas teman biasa." jawab Tasya.


"Oh. Apa dia pernah menyatakan perasaannya padamu?" tanya Hendra.


"Mm ... kalau soal itu ..." Tasya ragu untuk mengatakannya tapi ia berpikir tidak ada yang perlu ia tutup-tutupi pada Suaminya.


"Sayang. Aku hanya ingin mengatakan yang sejujurnya pada kamu. Tapi kamu harus janji sama aku kalau kamu tidak akan marah apalagi sampai cemburu. Karena menurutku itu hanya akan membuatmu buang-buang energi. Okey." ujar Tasya sambil tersenyum dan menyentuh pipi Hendra dengan kedua tangannya. Hendra mengangguk dan tersenyum tanda setuju.


Flash back on.


Tidak disangka, ternyata Wildan memilih Tasya sebagai wakilnya karena ada maksud tertentu. Ia sudah menyukai Tasya saat pertama kali melihatnya. Saat itu Tasya datang ke sekolah barunya untuk melakukan pendaftaran ulang sekaligus pembagian gugus untuk mengikuti MOPLS keesokan harinya.


Saat itu Wildan selaku Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru. Saat Tasya mengikuti MOPLSnya dihari pertama hingga selesai, Wildan memperlakukan Tasya dengan sangat baik tidak seperti siswa baru lainnya yang dikerjai habis-habisan. Wildan bahkan memperingati teman-temannya sesama panitia untuk tidak mengganggu dan mengerjai Tasya. Sejak saat itu Wildan mulai mendekati Tasya.


Singkat cerita, mereka pun terpilih dan mengalahkan dua kandidat lainnya. Semenjak saat itu mereka sering bersama dalam mewakili sekolah mereka dibeberapa acara pertemuan dengan sekolah lainnya. Mereka juga sering mewakili sekolah mereka untuk mengikuti workshop maupun dalam ajang lomba cerdas cermat di tingkat kabupaten bahkan sampai pada tingkat provinsi.


Saat itu Wildan satu-satunya laki-laki yang dekat dengan Tasya. Wildan sebenarnya ingin menyatakan perasaannya pada Tasya waktu itu tapi dia takut ditolak. Dia juga tidak mau kalau Tasya menjauhinya hanya karena suasana yang berubah menjadi canggung diantara mereka kalau sekiranya cinta Wildan ditolak.


Beberapa tahun kemudian, Tasya masuk ke universitas. Ia bertemu lagi dengan Wildan dikampus. Saat itu Wildan sudah semester 7 dan sebentar lagi mengikuti KKN. Wildan mulai mendekati Tasya lagi. Tasya meresponnya dengan baik karena mereka memang sudah berteman dengan baik semasa SMK.


Melihat respon Tasya yang baik kepadanya, ia menyalah artikan hal tersebut. Wildan pikir Tasya juga menyukai dirinya karena dia satu-satunya cowok yang dekat dengan Tasya dikampus. Yang lainnya bahkan tidak pernah dipandang sama sekali. Wildan pun memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya saat ia merasa punya kesempatan.


"Hai Tasy. Tumben sendiri. Boleh aku duduk disini?" sapa Wildan sambil berdiri didepan Tasya. Tasya sedang duduk sambil menyantap semangkuk bakso.


"Boleh kak. Silahkan." balas Tasya lalu kembali menyantap baksonya.


"Bu. Jus alpukatnya dua yah." Teriak Wildan pada bu kantin seraya duduk di bangku seberang Tasya.


"Iya tunggu sebentar." jawab Bu kantin.


Tidak lama kemudian bu kantin datang membawakan pesanan Wildan. Tasya sudah selesai menyantap baksonya.


"Ini buat kamu. Minumlah." kata Wildan sambil menyodorkan 1 gelas jus alpukat didepan Tasya.


"Makasih kak." Tasya lalu meminum jus pemberian Wildan.


Mereka pun berbincang-bincang sambil sesekali tertawa. Mereka mengingat kejadian-kejadian lucu yang mereka alami semasa SMK dulu. Sepuluh menit lagi jam pelajaran di kelas Tasya dimulai ia pun berpamitan pada Wildan.


"Kak. Aku ke kelas dulu yah. Bentar lagi dosennya datang." pamit Tasya seraya mengambil tasnya yang ada di kursi sebelahnya.l


"Eh. Tasy. Tunggu sebentar. Sebenarnya aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu. Penting." ungkap Wildan dengan wajah yang cerah dan bersinar.


"Sesuatu yang penting apa kak?" tanya Tasya penasaran sambil mengeryitkan dahinya.


Wildan pindah duduk disamping Tasya sambil menghadap kearahnya. Tasya makin kebingungan dan canggung dibuatnya.


Wildan pun mulai mengutarakan perasaannya.


"Tasya. Kamu mau nggak jadi pacarku?" ucap Wildan mantap seraya menyodorkan setangkai bunga mawar merah kearah Tasya.