How To Love You

How To Love You
Bab 144



Bu Risna menghubungi Hendra tadi pagi, ia mengatakan kalau Radit mengurung dirinya dikamar tanpa pernah makan maupun minum apapun dari kemarin. Hendra sangat mengkhawatirkan adik sepupunya tersebut. Ia harus membujuk Radit agar mau makan dan bersemangat kembali. Ia pun memutuskan untuk menemui Radit pagi ini juga. Sedangkan Tasya ia suruh berbicara dengan Tania.


Saat bertemu dengan Radit, Hendra menyarankan agar Radit tidak menghubungi ataupun menemui Tania untuk sementara waktu. Agar gadis itu bisa sedikit tenang. Hendra berjanji akan membantu menyelesaikan masalah keduanya jika Radit mau makan dan bersikap normal seperti biasanya. Mendengar janji Hendra, Radit pun kembali bersemangat. Ia tahu kalau kakak sepupunya itu selalu bisa diandalkan dalam segala hal dan selalu menepati janjinya. Radit hanya perlu bersabar sebentar dalam menghadapi masalahnya hingga tiba waktunya Hendra turun tangan.


Sedangkan Tania saat ditanyai oleh Tasya, apa alasannya ia menolak lamaran Radit. Tania hanya menjawab jika dirinya belum siap untuk menikah dan ia juga tidak mau terikat hubungan dengan siapapun. Persis seperti yang ia katakan pada ayah dan ibunya. Berulang kali Tasya mencoba membujuknya, tapi Tania masih tetap pada pendiriannya. Tasya menyerah, ia tahu betul sifat adiknya yang begitu keras kepala.


Tania tidak mengatakan pada siapapun kalau ia sudah mengakhiri hubungannya dengan Radit. Yang orang lain tahu, saat ini hubungan mereka tengah renggang karena Tania menolak lamaran Radit.


***


2 Minggu Kemudian


Tidak terasa sudah setengah bulan berlalu semenjak Tania menolak lamaran Radit. Semenjak kejadian yang menyebabkan kandasnya hubungan mereka waktu itu, mereka tidak pernah lagi bertemu. Tania tidak pernah lagi pergi bekerja di toko. Ia memilih berhenti bekerja dengan alasan malu pada keluarga Pak Rahmat karena telah menolak lamaran mereka. Padahal itu hanyalah sebuah alasan semata. Sebenarnya Tania hanya tidak ingin lagi bertemu dengan Radit.


Pagi itu, Hendra menyuruh Tasya untuk memanggil Tania datang kerumah mereka. Tentunya dibalik semua itu ada sebuah rencana terselubung. Hendra dan Radit sudah merencanakan sesuatu tanpa diketahui oleh Tasya dan Tania.


Hari menjelang siang, karena tidak punya kerjaan, Tania memutuskan untuk membantu Bi Ani membereskan pekerjaan Bi Ani di dapur. Semenjak Hendra tahu istrinya hamil, ia kembali mempekerjakan pembantu rumah tangga yang dulu bekerja di rumahnya sebelum ia menikah dengan Tasya. Hendra melarang istrinya menyentuh pekerjaan rumah sedikitpun.


Meskipun Bi Ani melarangnya, Tania tetap bersikeras mau membantu Bi Ani. Sebenarnya Tania kasihan melihat wanita paru baya itu mengerjakan semua pekerjaannya seorang diri dirumah besar itu. Ia pun lalu membantu meringankan pekerjaan Bi Ani dengan cara mencuci piring kotor bekas makan siang mereka barusan. Sedangkan Tasya dan Hendra sudah naik ke kamar mereka untuk beristirahat.


"Ting Tong." Bel rumah besar itu berbunyi.


"Ada orang Bi," ujar Tania.


"Sebentar Non saya bukain pintunya dulu,"


Bi Ani pun beranjak membuka pintunya. Tidak lama kemudian, ia muncul bersama seorang pria tampan bertubuh tinggi semampai membawa sebuah koper bersamanya. Pria itu menyunggingkan senyum lebar melihat gadis yang sangat ia rindukan itu tengah sibuk dengan pekerjaannya. Tania tidak menyadari kedatangan pria tersebut.


"Hust."


Pria itu menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri memberi kode pada Bi Ani agar tidak ribut ataupun bersuara. Bi Ani hanya mengangguk pertanda mengerti maksud dari pria itu.


Pria itu pun lalu berjalan mengendap-ngendap tanpa menimbulkan suara sedikitpun berjalan menghampiri Tania. Tania benar-benar fokus pada pekerjaanya sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan pria tersebut. Pria itu menutup mata Tania dari belakang menggunakan sebelah tangannya.


"Bi Ani, jangan bercanda dong, tangan aku basah nih," ucap Tania.


Tania meraba kain lap yang ada didekatnya, ia sudah hafal letak kain tersebut meskipun tanpa melihatnya secara langsung. Setelah mengeringkan tangannya, Tania meraba tangan yang sedang menutupi kedua matanya itu. Ia merasakan tangan itu lumayan besar.


"Loh tangan siapa ini? Jelas-jelas ini bukan tangan Bi Ani. Dari ukurannya saja, aku bisa tau kalo ini pasti tangan laki-laki. Tapi tangan siapa?" batin Tania.


Tania bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa gerangan sosok laki-laki yang sedang menutupi matanya tersebut. Tidak mungkin juga kakak iparnya. Karena Hendra tidak pernah se iseng itu.


"Siapa sih, please jangan iseng deh." ujar Tania seraya berusaha untuk melepaskan tangan pria itu.


Pria itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum bahagia karena rencananya untuk memberikan kejutan pada gadis itu sepertinya berhasil.


"Siapa sih, jangan bercanda dong."


"Kamu siapa? Jawab dong, jangan diam aja!"


"Siapa sih, bikin penasaran aja?" batin Tania.


"Eh, tunggu dulu! Dari aroma parfumnya kayaknya aku kenal, tapi siapa yah?"


Tania pun mencoba mengingat-ngingat aroma parfum tersebut. Jantungnya berdegup kencang saat terlintas seseorang didalam pikirannya.


"Apa jangan-jangan? Ah, nggak mungkin, nggak mungkin dia. Ngapain juga dia ada disini. Aku pasti salah tebak orang."


"Siapapun kamu, tolong lepaskan tanganmu sebelum aku menginjak kakimu!" ancam Tania.


Pria itu tertawa kecil mendengar ancaman Tania. Perlahan-lahan ia mulai melepaskan tangannya. Dengan cepat Tania memutar badannya menghadap ke pria itu. Betapa terkejutnya saat mendapati orang itu memang benar-benar orang yang ada dipikirannya tadi.


"Surprise." ucap Pria itu sambil memamerkan senyum manisnya.