
Radit dan Tania sudah sampai di depan pintu gerbang apotek. Tania melarang Radit untuk ikut masuk dengannya. Radit pun menurut karena ia memang hanya ingin mengantar Tania kesana.
"Kamu tunggu disini aja yah, Dit. Jangan ikut masuk! Sana mundur-mundur, jangan sampe orang yang ada didalam sana ngeliat kamu." ujar Tania seraya mendorong motor yang ditunggangi Radit untuk mundur dan bersembunyi dibalik tembok pagar.
Tania malas untuk menjawab pertanyaan tidak penting yang sekiranya bisa muncul jika Radit juga ikut menampakkan diri. Ia malas untuk menjawab panjang lebar pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya unfaedah. Cukuplah permintaan kakaknya itu yang menjadi beban dipikirannya saat itu.
"Assalamu'alaikum." sapa Tania setelah masuk di apotek.
"Wa'alaikum salam. Cari apa Tania?" tanya Pak Yusuf seraya menghampiri Tania.
Pak Yusuf adalah suami dokter Desi. Kebetulan sekali siang ini dia yang menjaga apoteknya.
"Mm, ada, te-st pa-ck, Pak?" tanya Tania pelan.
Tania merasa sangat malu untuk membeli alat tersebut. Tapi demi kakaknya, ia pun terpaksa melakukannya.
Pak Yusuf menurunkan kaca mata minusnya lalu mengerutkan kening sekaligus menajamkan penglihatannya ke arah Tania. Ia seperti sedang menaruh curiga pada gadis itu. Menyadari hal tersebut, Tania pun langsung menjelaskan pada Pak Yusuf sebelum Pak Yusuf berpikir yang tidak-tidak dan salah paham padanya. Justru hal inilah yang ia takutkan. Makanya sejak awal ia menolak mentah-mentah permintaan kakaknya itu.
"Bu bukan untuk saya Pak. Tapi, Kakak saya yang nyuruh," jelas Tania.
"Istrinya Hendra?" tanya Pak Yusuf seraya memperbaiki posisi kacamatanya kembali.
"Iya pak." jawab Tania.
"Kenapa bukan dia sendiri yang datang langsung kesini?" tanya Pak Yusuf lagi.
"Mm, anu Pak, Kak Hendra lagi mual muntah. Dia lagi nggak enak badan, jadi Kak Tasya jagain." jawab Tania.
"Benarkah? Hahaha, jangan-jangan Hendra sedang ngidam," ujar Pak Yusuf lalu mengambil satu buah alat tes kehamilan didalam lemari etalase kacanya.
"Memangnya ada, Pak laki-laki yang ngidam?" tanya Tania.
"Iya, ada. Hal seperti itu memang biasa terjadi." jawab Pak Yusuf.
"Oh, begitu yah Pak. Kakak saya baru mau ngetes soalnya, baru mau mastiin dia beneran hamil atau nggak." jelas Tania.
Setelah selesai membayar test packnya, Tania pun segera meninggalkan tempat itu.
"Huft, selamaaaat, selamat." ucap Tania lega seraya mengelus dadanya sembari ia menghampiri Radit.
"Kenapa Nia?" tanya Radit.
"Untung aja kamu nggak ikut masuk, Dit. Pak Yusuf tuh sempat curiga tadi sama aku. Untung aku cepet-cepet ngejelasin ke dia." jawab Tania.
"Hehehe. Sudah, nggak usah dipikirkan. Ayo naik!" ajak Radit.
Tania pun lalu naik ke atas motor.
"Peluk yah, sayang." kata Radit lagi.
"Enak aja." ucap Tania seraya memukul bahu Radit.
Mereka pun lalu meluncur pulang ke kediaman Hendra dan Tasya. Sesampainya di garasi,
"Dit, kamu jangan bilang ke Kak Hendra, yah. Kalo kita abis beli test pack," pesan Tania sambil masih belum turun dari motor.
"Emangnya kenapa Nia?" tanya Radit bingung.
"Kak Tasya mau bikin kejutan buat Kak Hendra." jawab Tania.
"Oh, kejutan."
"Iiiyaaa."
"Hmmm, so sweet banget sih kakak ipar. Nggak sepertiiii," sindir Radit sambil menunjuk Tania dengan ekor matanya.
"Terserah kamu Dit mau ngomong apa. Aku mau masuk, aku laper tau." ujar Tania seraya turun dari motor.
"Eh, Nia! Tungguin." teriak Radit.
"Nggak mau."
"Huft, punya pacar kok gini amat." ujar Radit seraya menghembuskan napasnya secara kasar.
Ruang Makan
Hendra dan Tasya sedang menyantap nasi goreng yang dibuat oleh Tasya tadi. Meskipun Hendra tidak menyukai aroma bawang, tapi Hendra masih bisa memakan nasi gorengnya dengan sangat lahap.
"Kalau Kak Hendra beneran ngidam, pasti lucu sekali. Hehehe." batin Tasya sambil tersenyum bahagia melihat suaminya.
"Assalamu'alaikum." sapa Tania yang baru saja pulang dari apotek.
"Wa'alaikum salam,"
"Ayo Dek, sini gabung!" ajak Tasya.
"Iya Kak," balas Tania sembari mengambil tempat duduk diseberang tuan rumah.
Tidak lama kemudian, Radit pun datang.
"Dit, sini!" panggil Tasya.
Radit pun ikut bergabung dengan mereka. Setelah selesai makan siang, Hendra dan Radit keluar ke ruang keluarga. Mereka sedang menonton Tv disana.
"Dek, mana?" bisik Tasya.
"Ini, Kak." jawab Tania seraya mengeluarkan test pack yang baru ia beli tadi dari dalam saku bajunya.
"Gimana cara makenya, yah?" ujar Tasya seraya membolak-balikkan kemasan alat itu.
"Baca petunjuknya, lah Kak. Atau kalo nggak, cari aja tutorialnya di youtube." saran Tania.
"Iya juga yah, Dek."
Setelah selesai membaca dan mengerti cara menggunakan alat itu. Tasya merasa sangat ingin sekali mengemil sesuatu, padahal ia baru selesai makan beberapa menit yang lalu.
"Siang-siang gini enaknya makan apa, yah?" ujar Tasya.
"Yeee dasar Kebo! Baru aja selesai makan, udah mikirin makanan lagi," ledek Tania sembari menggulung lengan bajunya untuk mencuci piring dan gelas kotor yang baru saja mereka pakai tadi saat makan siang.
"Hehehe. Kakak juga nggak tau Dek, semenjak beberapa hari yang lalu, kakak bawaannya pengen makaaan mulu," jelas Tasya.
"Apa jangan-jangan, Kak Tasya memang beneran hamil," ujar Tania.
"Semoga aja." balas Tasya.
"Aku seneng banget loh, Kak. Kalo Kak Tasya beneran hamil. Berarti bentar lagi kakak bakalan jadi mama, dan aku bakalan jadi aunty." ucap Tania tersenyum sembari terus membereskan pekerjaannya.
"Iya Dek, do'ain yah. Semoga kakak beneran hamil,"
"Iya Kak. Aamiin."
"Yah udah, kalo gitu, nanti kita bikin pisang goreng, yuk! Tadi kakak liat ada pisang di kulkas,"
"Terserah kakak deh."
Setelah Tania selesai dengan pekerjaannya. Ia dan Tasya pun lalu memulai aksinya membuat pisang goreng dihari yang sudah hampir tengah hari itu.
15 Menit kemudian, berkat kerjasama yang baik dari kedua kakak beradik tersebut, pisang goreng beserta 2 cangkir kopi untuk Hendra dan Radit, segelas susu ibu hamil untuk Tasya, dan segelas lagi minuman rasa jeruk untuk Tania telah siap. Mereka pun lalu membawanya ke ruang keluarga dimana Hendra dan Radit berada.
"Wah, mantul nih." ucap Radit setelah melihat pisang goreng dan kopi yang diletakkan dimeja depan mereka.
Mereka pun lalu menonton bersama sambil menikmati pisang gorengnya.
25 Menit kemudian, adzan zhuhur pun berkumandang. Tasya dan Hendra bergegas naik ke kamar mereka. Begitu pula dengan Tania, ia juga masuk ke dalam kamar untuk sholat zhuhur. Kini tinggal Radit sendiri yang duduk didepan Tv. Ia berencana masuk ke kamar setelah ia menghabiskan kopinya.
Tiba-tiba, "Dreet dreet."
Tania melupakan ponselnya di sofa tempat ia duduk tadi. Karena tahu pemiliknya sedang masuk kamar, Radit pun mengecek ponsel yang tengah berdering itu. Ia merasa marah, kesal, dan cemburu mengetahui panggilan itu dari Miko.