How To Love You

How To Love You
Bab 127



Beberapa minggu yang lalu, Tasya dan Hendra sudah membuat paspor. Tapi Tasya tidak pernah menyangka kalau Hendra akan mengajaknya bulan madu diluar negeri. Tasya mengira mereka membuat paspor karena mereka berdua ingin pergi melakukan ibadah umroh. Karena Hendra pernah mengatakan hal tersebut padanya.


Hendra sengaja tidak memberitahukannya pada Tasya. Ia sengaja menyembunyikannya karena ia ingin memberikan kejutan pada istri tercintanya dihari bahagia mereka.


Pukul 16:00


Semua rombongan keluarga besar sudah sampai di apartemen milik Hendra. Mereka singgah sebentar untuk beristirahat. Jadwal penerbangan Tasya dan Hendra dari Kota SKG ke Istanbul, nanti pukul 19:00 malam. Sedangkan jadwal penerbangan rombongan keluarga besarnya, 2 jam setelahnya. Kecuali, Tama.


Tama tinggal dan bekerja di Kota XX. Perjalanan dari Kota SKG ke Kota XX bisa ditempuh dengan jalur darat selama kurang lebih 4 jam. Kebetulan Tama juga membawa mobil sendiri. Jadi dia bebas pulang kapan pun ia mau.


Radit tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, ia mengajak Tania untuk pergi ke tempat yang pernah ia janjikan. Karena tempat itu lumayan dekat dari apartemen Hendra. Radit meminjam mobil Tama untuk ia pakai kesana bersama Tania.


Sesampainya mereka di danau buatan tersebut, mereka lalu duduk di sebuah kursi yang tersedia dipinggir danau itu.


"Bagaimana tempatnya? Bagus, kan?" tanya Radit.



"Iya, Dit. Bagus banget." jawab Tania seraya tersenyum.


"Dit, aku mau foto disitu, sepertinya tempatnya bagus buat ngambil gambar. Kamu fotoin aku, yah," ujar Tania antusias seraya menunjuk ke sebuah tempat yang menyerupai hutan buatan yang letaknya tidak jauh dari situ.


"Yah udah, ayo kita kesana!" seru Radit seraya mengeluarkan smartphonenya yang ia simpan disaku celananya.


Mereka pun lalu berjalan ke tempat itu.


"Udah siap belum?" tanya Radit.


"Iya, udah." jawab Tania.


"1 2 3," ucap Radit.


"Ceklek."



"Gimana, Dit hasilnya? Bagus nggak? Kirim via whatsapp yah," ujar Tania.


"Bagus kok." balas Radit.


Setelah cukup puas berselfie ria bersama, mereka pun kemudian kembali duduk di kursi yang tersedia dipinggir danau tersebut.


"Tempat ini lebih indah dimalam hari, tapi sayang, kita harus cepat-cepat pulang." ujar Radit kurang bersemangat.


"Nggak apa-apa, Dit. Tempatnya juga nggak kalah bagus kok disore hari." ujar Tania berusaha menghibur Radit.


Setelah cukup lama berbincang-bincang disana, mereka pun kembali ke apartemen. Karena sebentar lagi mereka akan berangkat ke bandara.


Pukul 17:00


Mereka meninggalkan apartemen. Ditengah perjalanan menuju bandara, mereka singgah dulu mengisi perut disebuah restoran yang tidak jauh dari bandara tersebut. Setelah selesai, mereka pun lalu melanjutkan perjalanan mereka kembali. Miko dan kevin juga ikut mengantar mereka. Kebetulan, ini hari libur jadi Kevin memiliki waktu luang untuk mengantarkan rombongan keluarga sahabatnya itu sampai ke bandara. Berbeda dengan Miko, Miko bebas pergi kemana pun dan kapan pun ia mau. Karena ia memiliki manajer yang bisa ia andalkan untuk menghandle semua pekerjaan di restoran selama ia tidak ada.


Bandara


"Kak, jangan lupa bikinin kita ponakan yang banyak yah!" seru Tantri menggoda Tasya dan Hendra.


"Bikin yang kembar dong, Kak. Yang satunya cewek dan yang satunya lagi cowok," tambah Tania.


"Hahaha. Kalian bisa aja. Kalian pikir gampang," balas Tasya.


"Kalian tenang saja. Tunggu saja kabar baik dari kami." ujar Hendra menimpali ucapan kedua adik iparnya.


Beberapa saat kemudian, Tasya menghampiri Tama dan Dewi yang sedang duduk berduaan diujung sana. Mereka mengambil tempat duduk terpisah dari yang lainnya


"Ehem ehem, cieee yang baru aja tunangan. Kayaknya ada yang nggak rela pisah nih," goda Tasya pada Tama dan Dewi.


Dewi hanya tersenyum malu-malu mendengar ledekan Tasya.


"Tau aja kamu, Dek." balas Tama sembari tersenyum.


"Cepetan dihalalin dong, Kak. Jangan kelamaan! Ya nggak, Dew?" seru Tasya lalu menyenggol lengan sahabatnya itu dengan sikunya.


"Ah, kamu bisa aja, Tasy." jawab Dewi malu-malu.


"Tenang aja, Dek. Bentar lagi kok," balas Tama.


"Beneran nih, Kak?" tanya Tasya ingin memastikan.


"Iya." jawab Tama serius.


"Asyiiik. Yah udah, aku kesana dulu yah. Takutnya kalo kelamaan disini bisa ganggu kalian." ujar Tasya seraya beranjak meninggalkan keduanya.


***


"Nia, aku ke toilet sebentar, yah." ujar Radit.


"Iya." balas Tania.


Radit pun bergegas ke toilet, ia sudah kebelet buang air dari tadi. Setelah Radit hilang dari pandangannya, Miko pun mengambil kesempatan ini untuk mendekati Tania.


Tania sedang duduk sendiri ditempatnya. Tadinya dia hanya duduk berdua dengan Radit, karena yang lainnya duduk di kursi lain yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.


"Boleh aku duduk disini sebentar?" tanya Miko pada Tania.


"Eh, bbo boleh kak," jawab Tania terbata.


Sebenarnya Tania khawatir kalau Radit sampai melihat Miko duduk disampingnya. Karena menurutnya, Radit pasti akan marah dan cemburu lagi seperti sebelum-sebelumnya kalau Radit sampai melihat Miko ada disitu. Tapi ia juga tidak punya alasan untuk melarang Miko untuk duduk disampingnya.


Miko pun lalu duduk di kursi samping Tania.


"Tania, aku cuma mau ngasih ini ke kamu," ujar Miko tanpa basa-basi seraya menyodorkan paper bag ukuran sedang itu pada Tania.


"Apa itu, Kak?" tanya Tania.


Tania belum mengambil paper bag itu.


"Hadiah dariku, untukmu." jawab Miko.


"Hadiah? Dalam rangka apa?" tanya Tania bingung.


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, beberapa hari yang lalu aku jalan-jalan ke mall. Aku melihat benda ini disana. Tiba-tiba aku jadi teringat sama kamu. Jadi aku membelikannya untukmu." jelas Miko.


Miko meletakkan paper bag itu dipangkuan Tania karena Tania tidak kunjung menerimanya.


"Memangnya isinya apa, Kak? Kok, Kak Miko bisa ingat sama aku?" tanya Tania penasaran.


"Aku nggak perlu jawab, biar kamu penasaran. Oh iya, jangan buka disini! Nanti kamu baru boleh buka setelah kamu sampai dirumah." jawab Miko.


Miko lalu berdiri hendak kembali ke tempat duduknya semula. Tadi ia duduk disamping Pak Rudi dan Pak Gunawan. Ia ingin melanjutkan obrolannya dengan kedua orang tua tersebut. Tapi sebelum ia beranjak, ia berpesan dulu pada Tania.


"Tania, aku harap kamu menghargai pemberianku. Walaupun sebenarnya bukan sesuatu yang begitu berharga. Tapi aku harap kamu mau memakainya dan membawanya kemana pun kamu pergi."ujar Miko lalu pergi meninggalkan Tania menuju ke tempat duduknya semula.


"Kira-kira isinya apa, yah? Kenapa, Kak Miko menyuruhku membawanya kemana pun aku pergi? Aku jadi penasaran." batin Tania.


"Kak Miko! Makasih yah." teriak Tania.


Miko hanya tersenyum seraya mengangguk kearah Tania.


Tidak lama kemudian, Radit pun kembali dari toilet. Ia tidak curiga sama sekali dengan paper bag yang ada dipangkuan Tania. Radit pikir barang itu milik Tasya.