
Pukul 21:00 Malam
Hendra dan keluarga memutuskan untuk kembali ke hotel. Hendra mencari sosok Radit yang belum ia temukan semenjak ia keluar dari ruangan Miko. Ia jadi khawatir pada adik sepupunya tersebut.
Sama halnya dengan Tania, sejak masuk kembali kedalam restoran ia terus saja mengkhawatirkan Radit. Tidak terasa sudah lebih 1 jam ia meninggalkan Radit di luar atas permintaan Radit sendiri. Ia khawatir kalau sampai Radit jatuh sakit karena terlalu lama di luar.
Hendra menghampiri Tania untuk menanyakan keberadaan Radit.
"Tania. Apa kamu tau Radit dimana?" tanya Hendra.
"Iya kak. Dia ada diluar. Ini aku baru mau nyusul dia." jawab Tania yang sudah berdiri didekat pintu.
"Oh, yah udah. Kamu susul aja dia dulu. Aku sama yang lainnya belakangan." ujar Hendra.
"Iya kak, aku duluan yah." balas Tania.
"Oke." ucap Hendra.
Setelah Tania keluar, Hendra kembali menghampiri istrinya yang masih duduk di meja makan bersama yang lainnya. Mereka hendak beranjak dari tempat duduk mereka untuk keluar meninggalkan ruangan.
"Terima kasih atas jamuan makan malamnya Nak Miko." ucap Pak Gunawan seraya berdiri bersama yang lainnya.
"Iya Om sama-sama." balas Miko.
"Makasih yah Nak Miko." ucap Bu Arini bergantian dengan Bu Indah.
"Iya tante sama-sama." balas Miko tersenyum.
"Makasih Kak Miko." ucap Tasya.
"Oke sama-sama kakak ipar." jawab Miko.
Tasya bingung dengan ucapan Miko barusan. Tapi ia tidak mau ambil pusing. Mungkin saja Hendra lebih tua dari Miko, makanya Miko memanggil dirinya kakak ipar. Karena Hendra dan Miko juga sudah seperti saudara, pikir Tasya.
Hendra memeluk bahu istrinya seraya berkata, "Sayang. Kamu duluan yah, aku masih mau bicara berdua sebentar sama Miko." ujar Hendra lalu mencium puncak kepala istrinya.
"Iya sayang." balas Tasya. Ia pun lalu ikut keluar bersama yang lainnya hingga hanya ada Hendra dan Miko yang tersisa diruangan itu.
"Mik. Gue mohon Lo bisa tarik kata-kata Lo tadi. Gue kasihan sama Radit Mik. Dia itu cinta mati sama Tania. Gue nggak mau Radit kenapa-napa kalo Elo sampe ngerebut Tania dari dia." jelas Hendra.
"Nggak bisa Hend. Gue udah terlanjur suka banget sama adik ipar Lo." jawab Miko tetap pada pendiriannya.
"Kata terlanjur tuh belum cocok buat Lo pake Mik. Secara Lo dan Tania baru ketemu kemarin, kenalpun juga baru kemarin. Masa Lo sudah bilang terlanjur? Kayak Lo udah suka sama dia dari lama aja." imbuh Hendra sambil menuding-nuding Miko.
"Hend. Apapun yang Elo katakan, gue nggak peduli. Yang jelas, kalo Gue menginginkan Tania. Gue harus ngedapetin Dia." tegas Miko dengan keras kepalanya.
"Mik. Gue minta maaf yah. Kata-kata Gue tadi siang yang bilang mau bantuin Elo, Gue tarik kembali. Gue nggak mungkin khianatin adik sepupu Gue sendiri. Meskipun kenyataannya kalian berdua sama-sama penting bagi Gue. Tapi Gue tetap dukung Radit dan nentang keinginan Elo. Karena Radit berada di posisi yang benar. Sedangkan Elo disini cuma mau jadi PHO diantara Radit dan Tania." ujar Hendra.
"Nggak apa-apa kok Hend. Gue ngerti kok perasaan Elo. Dan Gue juga ngerti gimana posisi Elo. Tapi, maaf Hend. Gue nggak bisa ngikutin saran Lo. Gue tetap teguh pada pendirian Gue. Gue nggak mau menyesal seumur hidup Gue kalo Gue ngelepasin Tania." ujar Miko.
Hendra menarik napasnya dalam-dalam sambil memijat kepalanya. Entah dengan cara apa lagi ia bisa memberi pengertian pada Miko.
"Mik. Jika nanti Elo beneran bersaing sama Radit. Gue harap Elo mau ngabulin satu permintaan Gue." ujar Hendra.
"Apa itu Hend?" tanya Miko penasaran.
"Bersainglah secara adil dengan Radit, Mik." pinta Hendra.
"Hahaha. Soal itu, Gue bisa jamin Hend. Lo tenang aja, nggak usah khawatir. Bukannya Lo kenal baik dengan sahabat Lo ini? Iya kan?" jelas Miko sambil menunjuk dirinya sendiri.
***
Diluar restoran, Tania berjalan pelan sambil menghampiri Radit yang sudah duduk kedingingan di bangku taman. Radit tidak mengenakan jaket sama sekali, ia hanya mengenakan kemeja tipis lengan pendek. Tania menepuk pundak Radit seraya berkata,
"Dit. Kamu kenapa?" tanya Tania pada Radit yang duduk sambil memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya seperti orang yang sedang frustasi.
Radit tidak menjawab, ia tetap pada posisinya.
"Dit. Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Tania sambil menyentuh kening Radit. Tania kaget saat merasakan panas ditangannya.
"Yah ampun Dit. Kamu sakit? Sebentar yah, biar aku panggilin orang-orang dulu buat ngantarin kita pulang secepatnya." ujar Tania.
Baru saja Tania hendak melangkahkan kakinya. Radit tiba-tiba menarik tangannya dan berkata, "Nggak usah Nia. Kita pulang naik taxi aja."
"Taxi? Tapi bentar lagi, orang-orang keluar kok. Kita tunggu mereka sebentar yah." jelas Tania.
"Aku nggak mau Nia. Kita pulang naik taxi aja." ucap Radit. Sebenarnya Radit tidak mau lagi menumpang di mobil laki-laki yang ia rasa mau merebut kekasihnya itu.
"Mm ... Yah udah deh. Ayo Dit, sini aku bantu kamu berdiri." ajak Tania.
Mereka pun berjalan menuju jalan raya sambil Tania memapah Radit. Tidak butuh waktu lama mereka sudah mendapatkan taxi.