How To Love You

How To Love You
Bab 154



Pukul 11.30


Semua penghuni rumah itu berkumpul di ruang makan, tidak terkecuali Miko. Setelah mereka makan siang, Tasya dan Tania melanjutkan acara bikin rujak. Tadi malam mereka tidak sempat karena mereka sampai dirumah sudah malam.


Berbeda selera dengan yang lainnya, Hendra malah memilih makan mangga Manalagi mengkal dicocol masako campur cabe. Ia memang ngidamnya makan mangga dengan cara seperti itu. Saat ia memakannya, rasanya ia tidak ingin berhenti untuk terus memasukkannya satu per satu kedalam mulutnya.


"Jangan kebanyakan, sayang. Nanti kamu bisa sakit perut loh," ujar Tasya memperingati suaminya yang sudah terlalu banyak memakan mangga muda.


"Nggak kok sayang." balas Hendra.


"Kak Hendra! Kakak ngidam apa doyan?" ledek Tania.


"Dua-duanya." balas Hendra sambil terus memakan mangga muda tersebut tanpa henti.


"Bagi dong, Kak." ucap Radit.


"Enak aja, ambil sendiri sana." balas Hendra ketus.


"Dasar pelit!"


"Biarin."


Setelah selesai makan rujak, para lelaki berkumpul di ruang keluarga. Kini tinggal Tasya dan Tania yang duduk di meja makan sambil mengobrol. Tania pun bermaksud untuk mengutarakan isi hatinya pada kakaknya. Tania begitu kasihan melihat Bi Ani yang mengerjakan semua pekerjaan rumah di rumah besar itu seorang diri. Apalagi Bi Ani sudah cukup berumur, tenaganya sudah tidak sekuat dulu saat ia masih muda.


Andai saja suami Bi Ani masih hidup, mungkin ia tidak perlu bekerja keras membanting tulang untuk membiayai hidup dan menyekolahkan ketiga anaknya.


Tania pun bermaksud meminta kakaknya untuk mempekerjakan satu orang ART lagi. Ia yakin kalau kakak iparnya pasti sangat mampu untuk menggaji satu orang ART lagi. Ini supaya pekerjaan Bi Ani lebih ringan dan wanita paru baya itu tidak terlalu kecapekan bekerja sendiri seharian dirumah besar itu.


"Kak, aku pikir Kakak masih perlu mempekerjakan satu orang ART lagi deh." ujar Tania.


"Kenapa emangnya, Dek?" tanya Tasya.


"Aku kasian Kak melihat, Bi Ani bekerja sendiri. Aku udah 2 kali loh mendapati dia menempelkan salonpas di pinggang sama betisnya dikamar. Aku yakin dia pasti kecapekan." jelas Tania.


"Ah, yang bener kamu?" tanya Tasya ingin memastikan.


"Iya, aku serius, Kak. Lagian rumah Kakak ini besar banget. Masa cuma mempekerjakan 1 orang ART aja sih. Rumah sebesar ini harusnya memiliki dua sampai tiga orang ART, itu lebih baik Kak. Mungkin selama ini Bi Ani nggak pernah ngeluh didepan kalian, karena Kak Hendra menggaji Bi Ani 2 kali lipat dari gaji ART pada umumnya. Bahkan kata Bi Ani, Kak Hendra sering ngasih dia bonus. Mungkin dia merasa nggak enak kalo harus mengeluh didepan kalian." jelas Tania.


"Omongan kamu ada benarnya juga, Dek. Nanti kakak coba ngomong sama, Kak Hendra deh. Semoga aja dia setuju." ujar Tasya setelah memikirkan ucapan adiknya.


Setelah Tasya menyampaikan usulan Tania pada suaminya, Hendra pun setuju-setuju saja dan tidak keberatan sama sekali. Tasya lalu menemui Bi Ani, untuk menanyakan apakah ia punya kenalan atau sanak saudara yang bisa mengisi posisi tersebut dirumahnya.


"Bi, Bibi punya tidak kenalan atau kerabat yang sedang butuh pekerjaan? Saya masih butuh 1 orang ART lagi Bi," jelas Tasya.


"Ada Nyonya, ada." jawab Bi Ani.


"Siapa Bi, kenalan Bibi atau keluarga Bibi?" tanya Tasya.


"Tetangga saya, Nya. Namanya Nani, dia seorang janda beranak 2. Dia memiliki nasib seperti saya. Suaminya meninggal 3 tahun yang lalu, dan sekarang dia harus menjadi tulang punggung keluarga menghidupi kedua anaknya beserta ibunya yang sudah tua." jelas Bi Ani.


"Kasihan sekali, Bi. Oh iya, Bibi punya nomor kontaknya? Coba Bibi hubungi, siapa tau dia berminat menjadi partner kerja Bibi dirumah ini." ujar Tasya.


"Iya, sebentar yah, Nya." balas Bi Ani.


Bi Ani pun kemudian menghubungi tetangganya yang bernama Nani itu.


πŸ“ž Bi Ani : Halo! Assalamu'alaikum, Nani.


πŸ“ž Nani : Wa'alaikum salam, Mba Ani. Ada apa Mba? Tumben menelpon.


πŸ“ž Bi Ani : Nani, apa kamu sudah dapat pekerjaan?


πŸ“ž Nani : Belum Mba. Aku masih nyari, tapi jaman sekarang nyari kerjaan itu nggak gampang Mba.


πŸ“ž Bi Ani : Syukurlah. Begini Nani, aku punya tawaran pekerjaan untuk kamu. Majikanku masih butuh ART. Apa kamu bersedia bekerja di tempatku?


πŸ“ž Nani : Seriusan Mba?


πŸ“ž Bi Ani : Iya, aku serius.


πŸ“ž Nani : Aku mau Mba. Apapun akan aku kerjakan Mba, yang penting halal dan bisa memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak-anak.


πŸ“ž Bi Ani : Kapan kamu bisa mulai bekerja?


πŸ“ž Nani : Mm, in sha Allah, lusa Mba.


πŸ“ž Bi Ani : Baiklah, kamu catat alamatnya yah.


πŸ“ž Nani : Iya Mba, sebentar aku nyari pulpen dulu.


***


Setelah berbicara dengan Bi Ani, Tasya pun menemui suaminya yang sedang beristirahat didalam kamar. Ia ingin mengatakan kalau ia sudah menemukan seseorang yang mau menjadi pembantu dirumah mereka.


"Sayang, aku sudah bicara sama Bi Ani. Katanya dia punya tetangga yang sedang butuh pekerjaan." jelas Tasya.


"Terserah kamu, sayang. Kamu atur saja bagaimana baiknya." balas Hendra sambil memainkan game di smartphonenya.


"Oh iya, sayang. Bilang sama anak-anak kalau besok pagi kita akan jalan-jalan ke tempatnya Pak Udin." ujar Hendra lagi.


"Iya sayang, nanti aku kasih tahu ke mereka. Aku juga sudah tidak sabar mau menikmati ikan mas bakar sama ikan mujair bakar. Emm, enaknyaaa." ujar Tasya.


Hendra tersenyum senang melihat istrinya yang begitu doyan makan selama hamil.


"Kamu makin cantik aja, sayang." ujar Hendra sambil meletakkan ponselnya.


"Elah, gombal mulu kerjaannya." kata Tasya.


"Ih, kamu ini kalau dibilangin selalu aja bilang gombal. Aku serius sayang. Kamu benar-benar terlihat semakin cantik saat badan kamu lebih berisi begini." ujar Hendra gemas sambil mencubit lembut hidung istrinya.


"Kamu ngatain aku gendut?" tanya Tasya sewot.


"Eh, aku tidak bilang begitu loh sayang. Kamunya aja yang melebih-lebihkan." jawab Hendra membela diri.


"Tau, ah. Aku ngantuk, mau tidur." ucap Tasya cemberut.


"Yah, ngambek."


Tasya pun meninggalkan Hendra yang sedang duduk di sofa. Semenjak ia hamil, sifat dan moodnya berubah-ubah. Kadang dewasa, kadang juga kekanak-kanakan. Ia juga gampang sekali tersinggung. Seperti yang baru saja terjadi. Tapi Hendra memaklumi sifat istrinya itu. Ia tahu kalau semua itu pengaruh dari hormon kehamilan.