
Tok tok tok.
Hendra mengetuk pintu putih tersebut. Tidak lama kemudian Tania muncul dari balik pintu. Nyonya Radit itu pun mengajak tamunya untuk masuk kedalam rumah. Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan dimana Radit sedang berada disana.
"Lagi ngapain sih kamu,Dit?" tanya Hendra saat melihat punggung adik sepupunya dari belakang.
"Eh, sini, Kak. Aku lagi makan pastel. Nia lagi bikin pastel tadi."
Mereka berempat pun bergabung bersama di meja makan. Usai melakukan aktifitas mereka di meja makan, mereka berempat pun berkumpul di ruang tengah sambil mengobrol. Tiba-tiba Tasya teringat akan adik bungsunya. Ia merasa merindukan Tantri padahal baru kemarin mereka berpisah.
"Dek, videocall-an yuk sama Tantri!" seru Tasya pada Tania.
"Hayuk, Kak. Aku juga udah kangen sama dia,"
Tasya pun kemudian melakukan panggilan video ke nomor Tantri. Tidak seberapa lama, panggilan mereka pun tersambung. Terlihat gadis berwajah ceria itu pun nampak di layar ponsel Tasya.
"Assalamu'alaikum, Kaaak. Aku kangen huhuhu," ucap Tantri diseberang telepon sambil berpura-pura menangis.
"Wa'alaikum salam. Kakak juga kangen, Dek."
"Wa'alaikum salam. Kakak juga." timpal Tania.
"Eh, itu kamu lagi dimana, Dek?" tanya Tasya pada Tantri. Ia salah fokus pada tanaman bunga kertas ungu di belakang Tantri.
"Aku lagi di taman, disamping rumahnya Tante Melda, mamanya Kak Miko," jelas Tantri. Tasya dan Tantri saling pandang sambil mengeryitkan dahi heran. Bagaimana ceritanya Tantri bisa sampai kesana, pikir keduanya.
"Kok kamu bisa ada disana. Bukannya kalian berdua tinggal di apartemen," tanya Tasya penasaran.
"Mm ... begini, Kak," Tantri pun kemudian menjelaskan bagaimana ia bisa dibawa kesana oleh Bu Melda kerumah besar itu. Dan semuanya pun mengerti kekhawatiran Bu Melda. Setelah cukup lama mereka berkomunikasi lewat panggilan video, Tasya pun mengakhiri panggilan videonya. Ia dan Hendra juga ingin pamit pada si pemilik rumah karena mereka berdua masih ingin mampir dirumah Pak Rudi dan Bu Indah.
"Dek, kami pamit pulang dulu, yah. Soalnya Kakak masih mau mampir di rumahnya Ibu dulu sebelum pulang ke rumah," pamit Tasya pada si pemilik rumah.
"Iya, Kak. Hati-hati!" pesan Tania. Tasya membalasnya dengan anggukan. Setelah keluar dari rumah minimalis itu, Hendra kemudian melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya.
****************
Tantri duduk sendiri di kursi taman sambil memandang bunga-bunga didepannya yang meliuk-liuk diterpa angin. Pandangannya mengarah pada bunga-buna itu, namun pikirannya berada di tempat lain. Pikirannya masih berkelana memikirkan kejadian semalam. Ia masih tidak habis pikir bagaimana bisa ia tidak terjaga saat ada seseorang yang tidur diatas tempat tidur yang sama dengannya.
"Aaah, memalukan sekali." batinnya sambil menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Cukup lama ia menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangannya. Rasanya ia sudah tidak punya muka lagi bertemu dengan Miko.
"Tantri!" panggilan seorang laki-laki yang sangat familiar di telinganya membuatnya menampakkan wajahnya yang sudah ia tutupi dari tadi.
"Kak Miko." ucap Tantri dalam batinnya. Ia tahu betul laki-laki yang memanggil nammanya itu adalah laki-laki yang tidur bersamanya tadi malam.
"Maaf," ucap Miko setelah menarik napasnya dalam-dalam. Ia memberanikan diri untuk menyapa gadis itu duluan karena ia tidak akan tahan jika gadis ceria itu menghindari dan mendiaminya hanya karena kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
Sejenak Tantri menatap wajah pria yang ada disampingnya. Ia segera menundukkan pandangannya saat pandangan mereka saling beradu. Rasanya ia tidak tahan menatap kedua iris itu berlama-lama. Ia takut tidak bisa tidur karena tatapan yang penuh arti itu selalu terngiang-ngiang di pikirannya.
Sebelum membalas permintaan maaf pria itu, terlebih dahulu gadis itu berdehem untuk menetralkan suaranya.
"Ekhem. Kak Miko nggak perlu minta maaf. Kak Miko nggak sepenuhnya salah kok dalam kejadian ini," Setelah Tantri mengucapkan hal tersebut, mereka berdua kembali terdiam. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua. Mereka berdua tidak tahu harus mengatakan apa. Suasana seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya mereka berdua tidak pernah kehabisan bahan untuk dijadikan topik pembicaraan. Tapi kali ini rasanya sangat berbeda.
"Ah, sial! Kenapa juga kejadian memalukan seperti itu harus terjadi?" batin Miko. Ia sangat menyesali kejadian itu. Tapi untuk apa disesali, toh ia juga tidak sengaja melakukannya. Setelah cukup lama saling terdiam. Miko kembali membuka suara.
"Tri, aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja. Dan aku benar-benar tidak tau kalau kamu sedang tidur dikamarku."
"Iya, Kak. Nggak apa-apa. Lagian, Kak Miko juga nggak ngelakuin apa-apa kan selain itu," kata 'itu' yang dimaksud oleh Tantri adalah Miko memeluknya saat mereka sama-sama tertidur.
"Tidak tidak. Aku bukan laki-laki yang seperti itu. Aku tidak mungkin macam-macam padamu sebelum aku menikahimu. Eh," jelas Miko sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan dadanya. Sontak saja pria dewasa itu menutup mulutnya diakhir kalimatnya.
"Maksudnya?" Tantri mengeryitkan keningnya mendengar kata 'menikahi' yang keluar dari mulut pria itu.
"Eh, maaf. Aku keceplosan tadi. Oops," Miko kembali menutup mulutnya. Kenapa mulutnya itu terlalu jujur disaat seperti ini? Pikirnya.
"Kak Miko ngomong apa sih? Aku nggak ngerti," tanya Tantri sambil menggaruk kepalanya yang ditutupi oleh hijab instan. Ia bingung melihat tingkah Miko yang tidak seperti biasanya. Sepertinya laki-laki itu sedang salting alias salah tingkah didepannya.
"Mm, oh iya. Sebentar lagi aku mau ke restoran. Kamu mau ikut jalan-jalan tidak?" tanya Miko mengalihkan topik pembicaraan.
"Mau mau, Kak. Mau banget," seketika wajah Tantri berubah menjadi sumringah mendengar ajakan Miko. Miko merasa sangat senang sekali. Sosok Tantri yang ia kenal selama ini akhirnya muncul kembali.
"Ya sudah, ayo! Pasti kamu belum mandi, kan." ucap Miko sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Tantri.
"Enak aja. Orang udah wangi begini kok dibilang belum mandi," Tantri tidak terima dengan tuduhan Miko.
"Wangi apaan? Orang kamu bau asyem," ledek Miko lalu berlari menuju pintu masuk.
"Kak Miko ih, nyebelin banget tau nggak." ucap Tantri cemberut setelah mencium aroma tubuhnya dibagian ketiak.
"Ayo, sini kejar!" seru Miko sembari tergelak.
"Awas yah, Kak!"
Mereka pun main kejar-kejaran masuk kedalam rumah hingga sampai ke lantai atas didepan pintu kamar mereka masing-masing. Entah mengapa jatuh cinta dengan gadis yang jauh lebih muda membuat Miko merasa jiwanya kembali seperti anak remaja seusia Tantri.