How To Love You

How To Love You
Bab 207



Hari minggu telah tiba. Beberapa hari yang lalu, Miko sudah berjanji pada Tantri untuk membawa gadis itu jalan-jalan sekaligus berbelanja sepuasnya di mall.


Karena hari itu adalah hari libur, maka Pak Afdal dan Bu Melda sedang berada dirumah. Mereka berdua selalu meluangkan waktu dihari libur untuk keluarga tercintanya. Karena itulah kunci pernikahan mereka selalu harmonis meskipun usia pernikahan mereka sudah menginjak lebih dari 3 dasawarsa.


Pagi itu Miko dan Tantri sudah siap untuk berangkat, mereka berdua berjalan bersama menuruni anak tangga sambil mengobrol. Sesekali mereka berdua terlihat tertawa bersama. Entah apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Hanya mereka berdua yang tahu. Mereka berdua tidak sadar kalau 2 pasang mata sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.


"Kalian mau kemana?" pertanyaan Pak Afdal sontak menghentikan langkah mereka berdua yang baru saja lepas dari anak tangga.


"Ka-kami mau jalan-jalan, Pa, Ma." ucap Miko sedikit gugup. Ia tidak tahu kalau papa dan mamanya sedang duduk di ruang tengah.


"Oh." ucap Pak Afdal.


"Kalian mau jalan-jalan kemana?" tanya Bu Melda penasaran.


"Ke mall, Ma."


"Ke mall, Tante."


Mereka berdua menjawab secara bersamaan. Miko dan Tantri pun menghampiri sepasang suami istri paruh baya itu. Mereka ingin pamit pada keduanya.


"Oh, kalian jangan lama-lama, yah. Karena sore ini, Mama akan mengadakan arisan dirumah ini dengan teman-teman Mama,"


"Baik, Ma."


"Baik, Tante."


"Pa, Ma. Kami berangkat dulu," ucap Miko sambil menyalami tangan kedua orang tuanya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Tantri. Setelah berpamitan, mereka berdua pun segera berangkat. Kedua orang tua itu menyaksikan punggung putranya bersama punggung seorang gadis yang sudah mereka anggap seperti anak mereka sendiri hilang ditelan tembok penyekat ruangan disebelahnya.


"Ma! Apa, Mama juga merasa kalau anak kita mencintai gadis itu," tanya Pak Afdal. Bu Melda begitu terkejut. Bagaimana bisa suaminya juga memiliki pikiran yang sama dengannya? Pikirnya.


"Ternyata, Papa juga berpikir seperti itu," ujar Bu Melda.


"Apakah pikiran kita sama?" Pak Afdal tidak kalah terkejutnya. Ternyata mereka berdua memiliki firasat yang sama mengenai putra bungsu mereka.


Namun untuk memastikan kecurigaannya, ia pun akhirnya memutuskan untuk membawa gadis itu pulang ke rumahnya. Dan ternyata kecurigaannya benar. Saat ia memboyong Tantri untuk ikut pulang ke rumah bersamanya, tanpa disangka-sangka ternyata putranya juga menyusul pulang tanpa perlu ia bujuk dan tanpa perlu ia minta seperti yang biasa ia lakukan.


"Oh, jadi begitu rupanya. Papa juga memang sudah menaruh curiga saat anak kita tiba-tiba kembali ke rumah. Jadi semua itu dia lakukan demi gadis itu. Kenapa, Mama tidak pernah cerita sama Papa?"


"Itu karena Mama takut, Pa. Mama takut kalau, Papa kembali menentang perasaan anak kita. Seperti yang, Papa lakukan saat Miko memiliki hubungan dengan gadis yang bernama Lyvia itu. Mama tidak mau Miko pergi dari rumah untuk yang kedua kalinya," jelas Bu Melda. Meskipun dulu ia juga ikut menentang hubungan anaknya dengan Lyvia, tapi Pak Afdal lah yang lebih bersikekeuh menentangnya. Laki-laki paruh baya itu tidak sudi anaknya menjalin hubungan dengan perempuan yang suka gonta-ganti pasangan.


"Itu kan alasannya, Mama tahu sendiri. Papa tidak merestui hubungan anak kita dengan Lyvia karena Papa pernah beberapa kali memergoki Lyvia jalan dengan laki-laki lain yang berbeda. Papa tidak rela hati anak kita disakiti, Ma."


"Papa benar. Mama juga tidak rela kalau anak kita disakiti oleh perempuan macam si Lyvia itu."


"Pa! Mama penasaran. Bagaimana, Papa bisa tahu kalau Miko menaruh hati pada Tantri." lanjut Bu Melda lagi.


"Papa bisa tahu dari cara anak kita menatap dan memperlakukan gadis itu. Papa juga bisa melihat kalau Miko terlihat lebih ceria dan bahagia semenjak ia kembali ke rumah ini. Jauh berbeda sebelum ia meninggalkan rumah ini dulu. Tapi ada satu yang Papa khawatirkan," Pak Afdal menjeda ucapannya.


"Apa itu, Pa?" tanya Bu Melda penasaran.


"Papa khawatir kalau Tantri tidak memiliki rasa yang sama pada anak kita, Ma." jelas Pak Afdal mengungkapkan kekhawatirannya.


"Kenapa, Papa berpikir seperti itu? Anak kita tampan, mapan, dan sukses. Apa masih ada gadis yang berani menolak anak kita, Pa?" tanya Bu Melda. Ia memang sering berlebihan ketika sedang memuji putranya.


"Bukan itu masalahnya, Ma. Kalian sebagai sesama perempuan harusnya bisa lebih mengerti. Usia mereka itu terpaut cukup jauh. Dan, sepertinya gadis itu memperlakukan anak kita seperti seorang adik perempuan yang memperlakukan kakak laki-lakinya." jelas Pak Afdal. Bu Melda terdiam sejenak, ia mencoba mencerna ucapan suaminya barusan. Setelah cukup lama terdiam, wanita paruh baya itu pun akhirnya bisa mengerti.


"Pa! Papa tidak usah khawatir. Mama ingin memastikan dulu perasaan anak kita terhadap gadis itu. Kalau memang ternyata benar, Mama akan melakukan apapun untuk mengikat gadis itu untuk selalu berada disisi anak kita sepanjang hidup mereka."


"Mama yakin? Memangnya, Mama ingin melakukan apa?" tanya Pak Afdal penasaran.


"Mama tidak perlu mengatakannya sekarang. Nanti, Papa akan lihat sendiri."


"Tapi ingat, Ma. Mama jangan terlalu egois. Kalau gadis itu tidak mencintai anak kita. Mama jangan memaksa. Kita harus menghargai perasaan sesama manusia."


"Ah, Papa tenang saja. Cinta itu ibarat tanaman, Pa. Setelah kita menabur benih, lama kelamaan tanamannua akan tumbuh jika kita rajin menyiraminya dengan air yang cukup. Begitu pula cinta, Pa. Mama akan membuat gadis itu mencintai anak kita."