How To Love You

How To Love You
Bab 225



Tantri dan Bu Melda sedang berjalan keluar menuju mobil yang akan mereka tumpangi. Pak Yadi sudah menunggu mereka di mobil dan siap mengantar mereka ke tempat tujuan.


Tantri sudah masuk duluan kedalam mobil. Sedangkan Bu Melda baru saja ingin membuka pintu mobilnya. Tiba-tiba Miko datang menghampirinya.


"Ma! Ma! Ma! Tunggu sebentar!" seru Miko sambil berlari menghampiri mamanya.


"Ada apa, Mik?" tanya Bu Melda. Sebelum menjawab, terlebih dahulu Miko melihat kedalam mobil. Ia ingin memastikan dulu kalau Tantri duduk di jok penumpang bagian belakang.


"Aku duduk disini. Mama duduk didepan saja," ujar Miko lalu segera masuk kedalam mobil. Bu Melda hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya. Ia pun segera beranjak membuka pintu mobil bagian depan lalu naik disana.


Menyadari Miko masuk dan duduk disampingnya. Tantri hanya pura-pura sibuk dengan smartphonenya. Ia masih sangat kesal pada Miko yang berani mencium pipinya sebanyak dua kali tanpa ijin.


Miko tersenyum melihat gadis kesayangannya itu cemberut. Entah mengapa ia merasa Tantri semakin lucu dan menggemaskan saat sedang marah seperti itu.


Setelah semuanya masuk kedalam mobil, Pak Yadi pun segera melajukan mobilnya menuju tempat tujuan. Seperempat jam kemudian, mereka pun sampai di butik milik teman Bu Melda. Kebetulan butiknya memang dekat. Jadi tidak butuh waktu lama untuk bisa sampai ke sana.


Mereka bertiga masuk kedalam butik. Sedangkan Pak Yadi menunggu didalam mobil. Tantri dan Bu Melda berjalan berdampingan sedangkan Miko berjalan tepat dibelakang Tantri. Saat kedua wanita itu hendak melewati pintu, Miko menarik sebelah tangan Tantri dan membuat langkah gadis itu terhenti. Sedangkan Bu Melda terus berjalan masuk kedalam butik temannya itu. Wanita paruh baya itu pun segera berjalan menaiki tangga menuju lantai atas dimana ruangan si pemilik butik berada.


Sementara itu Tantri mendengus kesal saat menyadari Miko menarik tangannya. Ia pun menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menatap tajam kearah Miko.


"Mau apa lagi?" ketus Tantri.


"Jangan marah dong," bujuk Miko. Tantri hanya terdiam lalu membuang mukanya.


"Ayo masuk!" ajak Miko sambil menarik tangan Tantri untuk masuk kedalam butik.


"Lepasin! Aku bisa jalan sendiri," ujar Tantri sambil menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Miko. Tapi Miko tidak menyerah. Ia kembali menarik tangan Tantri lalu melingkarkan tangan gadis itu dilengannya, seperti yang biasa dilakukan oleh gadis itu saat mereka sedang jalan berdua. Namun kali ini berbeda. Mereka tidak sedang jalan berdua. Ada Bu Melda juga. Tantri merasa malu pada Bu Melda jika sekiranya Bu Melda sampai melihat mereka berdua yang nampak mesra seperti itu. Jadi ia menarik kembali tangannya. Miko tidak menyerah. Ia kembali melingkarkan tangam gadis itu di lengannya.


"Ih, lepasin, Kak. Aku malu tau," kesal Tantri sambil mengerucutkan bibirnya.


"Malu sama siapa? Biasanya juga seperti ini," tanya Miko. Tantri hanya menunjuk Bu Melda yang masih berjalan ditangga bagian atas dengan dagunya. Ia juga masih memasang wajah cemberut.


Miko tidak mau Tantri semakin kesal padanya. Ia pun menuruti kemauan gadis itu yang tidak mau menggandeng tangannya.


"Ayo ikut denganku! Aku yakin kamu tidak akan memasang wajah cemberut lagi kalau kamu melihatnya," ujar Miko lalu menarik tangan Tantri dan berjalan ke suatu tempat.


"Liat apa sih, Kak?"


"Ikut saja. Tidak usah banyak tanya."


Sesampainya ditempat yang dimaksud oleh Miko, Tantri berdecak kagum melihat beberapa gaun pengantin yang terlihat sangat cantik, elegan dan mewah yang terpasang di manekin.


"Hm ... cantik banget," ucap Tantri sambil meletakkan kedua tangannya di pipinya saat menatap gaun-gaun pengantin itu.


Kapan yah aku bisa memakai gaun pengantin secantik ini? Batin Tantri sambil mendekat ke arah sebuah gaun yang menarik perhatiannya. Sebuah gaun pengantin muslimah berwarna biru muda dengan style cinderella.


Astaga! Aku ngehalunya lebay banget. Kenapa aku bisa tiba-tiba ngebayangin nikah sama kak Miko terus aku nikahnya pakai gaun ini. Batin Tantri lagi.


"Kamu suka yang itu?" tanya Miko. Tantri begitu terkejut karena tiba-tiba saja pria itu berdiri tepat disampingnya sambil merangkul bahunya.


"Kaget? Kaget kenapa?" tanya Miko heran sambil mengerutkan dahinya.


"Eh, ng-nggak. Tadi itu, eh anu-" Tantri jadi gelagapan menjawab pertanyaan Miko. Tiba-tiba, ia jadi malu sendiri karena membayangkan sesuatu yang menurutnya sangat konyol.


"Jangan-jangan," goda Miko sambil menuding ke arah wajah Tantri. Wajah Tantri jadi merona mendengarkan ledekan Miko. Padahal Miko hanya mengucapkan 2 kata saja. Tapi memang dasar Tantri yang pikirannya sudah liar kemana-mana.


"Apaan sih, Kak?" ucap Tantri sambil mencubit lengan Miko. Ia jadi merasa malu sendiri.


"Eh, apaan. Aku belum mengatakan apa-apa loh. Kok kamu jadi salting begitu." Melihat ekspresi malu-malu dari gadis itu, Miko jadi semakin bersemangat menggodanya.


"Auu ah." Tantri mengambek. Karena terlanjur malu, ia pun memutuskan untuk meninggalkan Miko yang masih berdiri di depan gaun itu. Namun baru berjalan dua langkah saja, tiba-tiba tangannya sudah dicekal oleh Miko.


"Mau kemana, sayang? Hem," tanya Miko sambil tersenyum.


"Lepasin, Kak. Aku mau keluar," jawab Tantri tanpa menoleh ke arah Miko.


"Jangan dong. Cobain ini dulu," ujar Miko.


"Coba apaan?" tanya Tantri bingung sambil berbalik ke arah Miko.


"Cobain gaun pengantinnya dulu," jawab Miko.


"Hah?! Ngapain? Kita kan belum mau nikah, Kak."


"Tidak apa-apa. Ini itu buat persiapan tahun depan."


"Tahun depan?" Tantri mengernyitkan dahinya menatap Miko dengan tatapan penuh tanya.


Astaga! Aku keceplosan. Batin Miko.


Ia lupa kalau keluarganya beserta keluarga Tantri sepakat untuk merahasiakan dulu rencana pernikahan itu pada Tantri agar gadis itu tidak sampai kepikiran dan hanya fokus menyelesaikan sekolahnya.


"I-iya. Tahun 2022, 2023, 2024, 2025 dan seterusnya kan tahun depan namanya. Masa mau disebut tahun kemarin," jawab Miko beralasan.


"Oh begitu." ucap Tantri. Sebenarnya ia juga masih bingung dengan jawaban Miko. Tapi ia pura-pura mengerti saja.


"Mbak! Kami mau coba gaun yang ini," panggil Miko pada salah satu karyawan yang sedang berjaga.


"Baik, Pak." Karyawan itu pun berjalan menghampiri Miko dan Tantri. Setelah melepas gaun itu dari manekin, karyawan itu pun mengajak Tantri masuk ke ruang ganti.


...----------------...


Sembari menunggu novel ini up, dukung juga karya Author yang lain ya😉