
Sementara itu, Radit masih berusaha membujuk mbak-mbak tersebut.
"Tolonglah mbak, kali ini aja. Istri saya lagi ngidam batagor mbak. Dia maunya makan batagornya sekarang." bohong Radit. Ia sudah kehabisan akal untuk meminta batagor si mbak tersebut. Jika cara ini tidak berhasil, ia harus mengantri lebih lama lagi dan melihat Tania dan Miko bersama lebih lama lagi disana.
"Bilang kek mas dari tadi. Tau begitukan tadi saya langsung ngasih." ujar mbak tersebut.
"Makasih banyak yah mbak. Saya sangat senang bertemu dengan orang baik seperti mbak." kata Radit senang. Ia merasa lega dan bahagia karena ia berhasil membujuk mbak tersebut meskipun dengan cara berbohong.
"Iya mas. Sama-sama." balas mbak tersebut.
"Ini mbak." kata Radit sambil menyerahkan selembar uang setelah menerima batagornya.
"Waduh, saya nggak punya uang kecil mas." kata si mbak nya.
"Nggak apa-apa mbak. Sisanya buat mbak aja." kata Radit lalu segera berlari meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin lebih lama lagi meninggalkan Tania disana apalagi ada Miko.
"Tapi mas ..."
"Makasih yah mas." teriak mbak tersebut.
"Sama-sama." balas Radit sambil terus berlari menghampiri Tania.
"Nia. Ayo kita pulang." ajak Radit setelah berdiri sekitar 2 meter dari kursi tempat duduk Tania.
"Iya, ayo." balas Tania lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Makasih yah kak, udah nemenin aku disini." ujar Tania pada Miko yang masih duduk ditempatnya. Miko hanya membalasnya dengan mengangguk dan tersenyum.
Radit menghampiri Tania dan merangkul bahunya seraya berkata,
"Makasih, kak." ucap Radit dengan wajah datar pada Miko. Miko hanya mengangguk.
"Ayo sayang kita pulang." ajak Radit sambil masih merangkul bahu Tania dengan erat.
"Iya."
"Kita pulang dulu yah kak, mari." Pamit Tania pada Miko.
"Iya hati-hati." balas Miko. Ia baru akan pulang setelah memastikan Tania sampai dengan selamat di hotel.
Sepanjang perjalanan Radit terus mengeratkan rangkulannya. Tania tahu, Radit pasti sedang cemburu pada Miko saat ini, terlihat jelas di wajahnya. Sepanjang perjalanan juga ia diam terus. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya hingga mereka sampai di depan pintu kamar mereka.
"Dit. Kamu lagi marah yah? Kok diam terus?" tanya Tania pada Radit.
"Nggak. Ngapain aku harus marah. Ini batagor pesanan kamu." jawab Radit seraya menyerahkan batagornya pada Tania. Tania pun mengambilnya.
"Makan bareng yuk." ajak Tania. Radit hanya mengangguk lalu membuka pintu kamarnya. Ia membiarkan Tania masuk duluan.
Tiba-tiba, Chelsea datang dan menerobos masuk kedalam kamar Radit.
"Chelsea. Apa-apaan sih kamu?" bentak Radit. Tapi Chelsea tidak peduli dengan bentakan Radit. Ia tetap masuk dengan santainya kedalam sana.
"Eh, ada calon mantan pacar Radit juga nih ternyata." kata Chelsea sengaja memanas-manasi Tania. Ia ingin membuat Radit dan Tania bertengkar kemudian putus.
"Maksud kamu?" tanya Tania mulai terpancing dengan perkataan Chelsea.
"Aku permisi ke kamar mandi dulu sebentar." kata Radit. Ia merasakan hawa-hawa persaingan diantara kedua gadis tersebut.
Setelah Radit hilang ditelan pintu kamar mandi dari pandangan mereka. Barulah Chelsea menjawab pertanyaan Tania.
"Yah, sebentar lagi kalian akan putus." jawab Chelsea.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Memangnya kamu tuhan yang menentukan segalanya?" sindir Tania.
"Memang, aku bukan tuhan. Tapi aku yang akan merebut Radit dari kamu." jelas Chelsea sambil menunjuk-nunjuk Tania.
"Cih, coba saja. Kalau Radit nya mau sama kamu." kata Tania dengan nada mengejek.
"Liat aja entar." kata Chelsea sambil menyeringai.
"Oke. Aku tunggu permainan kamu." balas Tania memasang ekspresi wajah yang sama-sama menyeringai sinis.
Tidak lama kemudian, Radit pun keluar dari kamar mandi. Ia masih merasakan hawa-hawa aneh di kamarnya itu. Ia melihat kedua gadis itu duduk sambil melipat kedua tangannya didada. Radit fokus melihat ke arah Tania. Ia merasa Tania semakin menggemaskan dengan ekspresinya sekarang.
"Maafin aku Nia. Tapi aku harus melakukan ini. Karena kalo bukan dengan cara ini, kamu pasti nggak mungkin mau mengakui perasaan kamu ke aku." batin Radit.
Radit pun lalu duduk disamping Chelsea, membuat mata Tania terbelalak. Tania merasa kesal pada Radit yang lebih memilih duduk disamping Chelsea ketimbang disampingnya.
"Nia. Batagornya mana?" tanya Radit.
"Ini." jawab Tania ketus sambil membuka bungkus batagor tersebut dan meletakkannya di atas meja.
Radit dan Tania pun mulai makan batagornya.
"Emm ... enak banget. Kamu kenapa nggak makan Chel?" tanya Radit pada Chelsea yang duduk di sampingnya.

"Aku lagi diet." bisik Chelsea. Ia sengaja menempel pada Radit untuk membuat Tania marah pada Radit.
Radit pun menuruti kemauan Chelsea untuk dekat-dekat dengannya. Ini demi mendukung rencananya untuk melihat reaksi Tania cemburu atau tidak kalau dirinya dekat dengan gadis lain. Seperti dirinya tadi yang kegerahan karena cemburu saat melihat Miko mendekati Tania.
"Apa-apaan sih kamu Dit? Oh jadi begini yah kamu aslinya. Aku masih didepan kamu, tapi kamu malah mesra-mesraan sama cewek lain. Didepan aku aja kamu begini, apalagi dibelakang aku. Apa jangan-jangan, aku cuma mainan kamu doang. Iya?" batin Tania geram lalu kembali memasukkan batagor ke dalam mulutnya sambil menatap tajam kearah 2 orang tersebut.
"Chel. Coba sedikit, enak banget loh batagornya." kata Radit yang sengaja ingin semakin memanas-manasi Tania.
"Aku nggak mau Dit. Aku lagi Diet." tolak Chelsea sambil menutup kedua mulutnya dengan tangan.
"Coba aja. Nggak apa-apa, satu kali ... aja. Aku suapin yah." ujar Radit.
"Mm ... yah udah deh." kata Chelsea menurut lalu membuka mulutnya untuk disuapi oleh Radit. Sebenarnya ia tidak mau, tapi ini merupakan kesempatan langkah. Ini pertama kalinya Radit memperlakukannya seperti itu.
"Kamu liat kan Tania, dengan gampangnya aku bisa merebut Radit dari kamu. Kamu pacarnya, tapi dia lebih perhatian ke aku. Tinggal selangkah lagi untuk menyingkirkan kamu." batin Chelsea sambil mengunyah batagornya. Ia tersenyum penuh kemenangan ke arah Tania.
Tania semakin geram dibuatnya. Seketika selera makannya jadi hilang.
"Oh ... jadi selama ini aku yang baperan. Iya? Ternyata kamu memperlakukan semua cewek seperti itu. Cih, ternyata selama ini aku salah besar. Aku pikir, aku spesial buat kamu Dit, ternyata nggak sama sekali. Semua cewek itu spesial dimata kamu. Aku nggak akan percaya lagi sama kamu Dit. Nggak akan. Huh! Mending aku pergi dari tempat ini, buat apa aku ngeliatin adegan mesra kedua orang ini yang cuma menganggap aku sebagai obat nyamuk." batin Tania.
"Permisi. Saya ngantuk, mau tidur." ucap Tania sambil berlari keluar meninggalkan kamar Radit.