
Radit bermaksud menakut-nakuti Tania agar Tania mau menempel padanya disepanjang perjalanan mereka menuju bandara.
"Nggak." jawab Tania singkat.
"Kata orang-orang sih, konon katanya kalo kita nyebutin namanyaaaa tanda kutip, mereka bisa datang," ujar Radit.
"Biarin, aku nggak takut." kata Tania.
"Beneran nih, kamu yakin?" tanya Radit.
Nada bicara Radit sengaja ia buat-buat terdengar horor agar Tania semakin ketakutan. Tapi sepertinya tidak mempan.
"Ngapain aku harus takut, aku kan perempuan. Wewek Gombel itu sukanya sama laki-laki tau,"
"Ih, Nia, kamu nyebut namanya lagi. Kamu bener-bener berani, yah." kata Radit.
"Aku nggak takut, Dit. Lagian kalo Wewek Gombelnya beneran datang yang jadi mangsanya itu kamu, bukan aku." ujar Tania santai.
Tania memang gadis pemberani. Bahkan menonton film horor sendiri dimalam hari pun dia tidak takut. Baginya hal-hal mistis seperti itu hanya ada di film-film, tidak ada di dunia nyata. Meskipun pada kenyataannya memang benar-benar ada.
"Ih, gila yah. Kamu tega banget jadiin pacar kamu sendiri mangsanya si 'itu' tuh."
Radit enggan menyebut nama makhluk tersebut. Tadi dia berniat menakut-nakuti Tania. Yang ada sekarang malah dia yang mulai merasa takut, bukan Tania.
"Biarin." jawab Tania enteng.
"Bener-bener nih anak, tega banget."
Sekarang gantian Tania yang ingin mengerjai Radit. Karena sepertinya Radit terlihat sedikit takut. Tania jadi semakin bersemangat untuk menakut-nakutinya.
"Biar cewek seksinya cepet datang, aku panggilin aja yah, Dit sekarang." kata Tania.
Radit hanya membelalakkan matanya mendengar ucapan Tania.
"Wewek Gombeeel, Wewek Gombeeel, Wewek Gombeeel," panggil Tania seraya mengulum Tawanya karena Radit terlihat gelisah dan semakin ketakutan.
"Wewek Gomb---" ucapan Tania terhenti saat Radit menutup mulut Tania menggunakan sebelah tangannya. Sebelah tangannya memegang setir kemudi.
"Diam, Nia. Kalo nggak, aku cium kamu nanti." ancam Radit.
Radit yakin ancamannya itu pasti sangat ampuh untuk membuat gadis kesayangannya itu diam dan berhenti menakut-nakutinya.
"Lepasin, Dit. Aku mau tidur." ucap Tania seraya melepas tangan Radit yang menutupi mulutnya.
Radit tersenyum penuh kemenangan melihat ancamannya berhasil. Tapi dalam hatinya ia masih takut. Mengingat ucapan Tania yang katanya sosok 'itu' sukanya sama laki-laki.
"Beneran nih kamu mau tidur?" tanya Radit memastikan.
"Ck, bener-bener minta dicium kamu yah, Nia." ujar Radit berdecak kesal.
"Aku mau tidur, Assalamu'alaikum." ucap Tania lalu memejamkan matanya.
"Wa'alaikum salam." jawab Radit.
Setelah memastikan Tania benar-benar tertidur, barulah Radit melajukan mobil yang dikendarainya dengan kecepatan tinggi. Kata Wewek Gombel masih terngiang-ngiang dipikirannya. Ia bermaksud menabrak makhluk itu kalau sosoknya benar-benar tiba-tiba muncul di jalanan. Seperti yang sering ia lihat di film-film.
Sepanjang perjalanan Radit memutar murrortal di ponselnya. Ini untuk mengurangi rasa takutnya dan menjauhkan segala hal-hal yang ia takuti.
Tidak sampai 4 jam mereka sudah sampai di bandara. Mereka sampai 2 jam lebih cepat dari waktu tempuh orang rata-rata. Tania masih terlelap, Radit merasa tidak tega membangunkan Tania. Radit melihat jamnya dan masih ada waktu sekitar 1 jam lebih sebelum yang mereka tunggu akhirnya tiba di bandara. Ia pun mengatur kursinya menjadi setengah datar. Ia ingin beristirahat sebentar karena tubuhnya sudah terasa teramat sangat lelah sekali. Apalagi ia masih harus menyetir membawa mobilnya pulang. Karena tidak menutup kemungkinan Hendra tidak bisa menggantikannya menyetir. Mengingat Hendra juga pasti kelelahan setelah mengudara selama lebih dari 10 jam.
1 Jam Kemudian, Radit terjaga saat mendengar ponselnya berdering dan bergetar didalam saku celananya. Ia segera mengeluarkan benda persegi panjang tersebut dari dalam saku celananya. Ia melihat panggilan itu dari kakak sepupunya.
"Assalamu'alaikum, Kak." ucap Radit setelah menggeser gagang hijau yang ada pada layar ponselnya.
"Wa'alaikum salam. Kamu dimana, Dit? Kita udah nungguin kamu dibandara nih," tanya Hendra.
"Yah udah, kakak keluar aja. Aku bawa mobilnya kesana, aku ada diparkiran." jawab Radit.
"Iya, oke!"
Beberapa saat kemudian Hendra dan Tasya beserta semua barang-barangnya sudah naik dimobil. Sekarang mereka menuju sebuah rumah makan yang masih buka di jam yang hampir menunjuk pukul 00 tersebut. Setelah sampai di depan sebuah kedai, Radit membangunkan Tania. Ia ingin mengajak Tania untuk ikut makan juga.
Setelah mereka berempat masuk kedalam kedai tersebut. Hendra pun memesan makanan yang biasa ia makan saat ia mampir di kedai tersebut. Dan makanan itu sudah menjadi menu favoritnya saat ia mampir di tempat itu. Hendra sangat merindukan makanan Indonesia. Selama hampir 4 hari di Turki, ia merasa sangat menderita sekali karena ia tidak bisa makan apa-apa selain roti pide dan buah-buahan.
Setelah pesanan makanan mereka berempat siap, Hendra sudah tidak sabar untuk segera menyantapnya. Kali ini ia akhirnya bisa makan dengan lahap sekali. Tasya tersenyum senang melihat suaminya akhirnya bisa makan juga.
Seperempat jam kemudian mereka sudah kenyang. Hendra merasa ada yang aneh dengan perutnya. Rasanya makanan yang baru saja ia makan sepertinya berlomba-lomba minta dikeluarkan lagi. Ia pun lalu cepat-cepat berjalan menuju toilet. Ia sudah tidak tahan lagi dengan rasa mual yang melanda perutnya.
"Uweek, uweeek,"
Hampir semua yang ia makan tadi ia muntahkan kembali. Setelah selesai, Hendra kemudian berkumur-kumur dan membasuh mukanya dengan air dingin. Ia merasa agak mendingan setelah mengeluarkan isi perutnya.
"Mungkin ini efek naik pesawat lama banget. Mungkin aku mabok udara." gumamnya lalu keluar meninggalkan toilet.
"Kamu kenapa, sayang? Kenapa wajahmu jadi pucat begitu?" tanya Tasya saat melihat suaminya duduk disampingnya.
"Tidak apa-apa, sayang. Mungkin aku cuma kecapekan saja." jawab Hendra.
Hendra tidak mengatakan kalau dirinya habis muntah di toilet. Karena ia pikir hal itu bukanlah sesuatu yang serius.
Setelah cukup lama berbincang-bincang sambil beristirahat, mereka pun segera meluncur pulang menuju kediaman Hendra dan Tasya. Radit menyetir sendiri sampai dirumah besar itu. Mereka sampai saat adzan subuh berkumandang.
Radit merasa sangat lelah sekali, ia pun memutuskan untuk tidur di kamar tamu usai shalat subuh, begitu juga dengan Tania. Radit merasa tidak kuat kalau harus menyetir pulang ke rumahnya. Apalagi ia masih harus mengantar Tania pulang.