
"Astagfirullah. Apa yang sudah aku lakukan? Arrgh." batin Radit.
Radit mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia sangat menyesali perbuatannya. Bagaimana mungkin perasaan cemburunya itu bisa membuatnya buta dan tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana buruk.
"Sayang, maafin aku. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi." ujar Radit memohon pada Tania.
"Per-giiii! A-ku nggak mau li-at mu-ka kamu la-gi," ucap Tania terputus-putus karena menangis sesenggukan.
"Nggak sayang. Aku nggak mau pergi, aku mau disini sama kamu,"
"Per-gi nggak! Kelu-aar!" teriak Tania.
Sudah berulang kali Tania mengusir Radit, tapi Radit tidak kunjung pergi juga meninggalkan tempat itu. Radit masih duduk mematung ditempatnya dengan sejuta rasa penyesalan dihatinya.
***
Beberapa saat setelah kejadian itu, Tania memutuskan untuk dia sendiri yang pergi meninggalkan rumah kakaknya. Ia kembali ke rumah orang tuanya. Sedangkan Radit masih tetap tinggal disana. Kalau saja Hendra dan Tasya tidak meminta tolong padanya, pasti ia juga sudah meninggalkan rumah itu menyusul dan membujuk Tania bagaimana pun caranya.
Sepanjang perjalanan menuju minimarket, Radit tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun. Hal itu membuat Hendra curiga padanya. Karena biasanya ia sangat cerewet dan narsis. Hendra curiga dengan sikap diam adik sepupunya tersebut, ia cukup mengenal baik sifat Radit. Ia bisa menebak kalau Radit pasti sedang ada masalah dan pasti ada hubungannya dengan Tania. Karena Tania tiba-tiba saja meninggalkan rumah mereka dan hanya berpamitan melalui sebuah pesan di whatsapp.
Setelah sampai di tempat tujuan, Hendra memilih untuk tidak ikut masuk berbelanja bersama istrinya karena ia merasa kepalanya sedikit pusing. Hendra turun dari mobil lalu berpindah tempat duduk di jok depan disamping Radit. Ia ingin menginterogasi adik sepupunya tersebut.
"Dit, kamu kenapa? Kok diam aja dari tadi," tanya Hendra.
"Nggak kok Kak, nggak apa-apa." jawab Radit sambil membuang pandangannya ke arah luar.
"Sudah, kamu jujur aja. Aku tau kamu lagi ada masalah sekarang sama Tania. Iya, kan?"
Sekilas Radit melihat ke arah Hendra. Ia terkejut mendengar pernyataan kakak sepupunya tersebut. Bagaimana mungkin Hendra bisa mengetahui isi hatinya, pikir Radit.
"Nggak kok, Kak. Aku nggak apa-apa," bohong Radit.
Radit kembali membuang pandangannya ke arah luar.
Hendra salah fokus dengan luka di bibir Radit. Ia bisa melihat jelas kalau itu adalah luka bekas gigitan. Bukan luka bekas karena terjatuh ataupun karena terbentur.
"Eh, itu bibir kamu kenapa?" tanya Hendra ingin memastikan.
"Oh ini, tadi aku habis jatuh Kak," bohong Radit.
"Jatuh dimana? Jangan bohong kamu. Aku bisa melihat dengan jelas kalau itu luka bekas gigitan. Apa jangan-jangan-"
"Sudah, ah Kak. Nggak usah dibahas."
"Berarti benar dugaanku. Pasti kamu sudah mencium Tania. Dan Tania pasti marah lalu menggigit bibir kamu itu. Iya, kan?" tebak Hendra.
Radit hanya terdiam. Ia malas untuk merespon ucapan Hendra. Ia masih bingung memikirkan cara untuk membuat gadis kesayangannya itu berhenti marah padanya dan tidak memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
"Dit, apa kamu lupa dengan pesan kami? Kami mengijinkan kalian pacaran itu karena kami percaya pada kalian berdua, bahwa kalian bisa menjaga nama baik keluarga."
"Aku minta maaf Kak. Aku khilaf. Semua ini gara-gara teman Kak Hendra. Aku jadi ngga bisa berpikir jernih dan nggak bisa mengendalikan diri." jelas Radit.
"Ada apa lagi dengan Miko?" tanya Hendra.
"Kok Kak Hendra tau kalau yang aku maksud itu si Miko menyebalkan itu,"
"Ah, em ... aku, aku cuma menebak aja. Karena menurutku, Miko terlihat sering sekali mendekati Tania selama kita di kota SKG. Siapa lagi temanku kalau bukan dia."
"Oh, jadi apa Kak Hendra juga memperhatikannya?"
"Iya." ucap Hendra mantap tidak ingin membuat Radit curiga.
Radit pun menceritakan semuanya pada Hendra. Tentang semua masalah yang mengganjal dihati dan pikirannya. Masalah yang ia hadapi dengan Tania. Dan akar masalahnya berawal dari kemunculan Miko diantara hubungan mereka.
"Dit, jangan bertindak gegabah saat kamu sedang emosi. Itu berbahaya, tidak baik. Ujung-ujungnya kamu pasti akan menyesali perbuatanmu. Cemburu itu boleh, tapi yang wajar-wajar saja. Apa kamu tidak sadar kalau perbuatanmu itu sudah diluar batas?" ujar Hendra menasehati adik sepupunya tersebut.
Radit hanya menunduk, ia sadar kalau ia memang telah melakukan kesalahan yang fatal. Dan tidak mudah bagi Tania untuk memaafkannya.
"Oh iya, jangan sampai Tasya tahu masalah kalian. Sebab kalau sampai dia tau, pasti dia akan marah besar padaku. Karena aku yang sudah membujuknya untuk mengijinkan kalian berdua berpacaran." jelas Hendra.
***
Diperjalan pulang, Hendra melihat penjual martabak. Hendra menyuruh Radit untuk menepikan mobilnya.
"Berhenti Dit! Kayaknya sore-sore gini enaknya makan martabak." ujar Hendra sambil sesekali menelan salivanya membayangkan nikmatnya rasa martabak.
Radit pun menepikan mobilnya tepat didepan gerobak penjual martabak.
"Biar aku saja yang keluar, sayang. Kamu tunggu saja disini." ujar Tasya seraya membuka pintu mobilnya.
"Iya sayang." balas Hendra.
"Eh, sayang! Aku mau martabak rasa durian yah," pesan Hendra sebelum istrinya turun dari mobil.
"Hah! Memangnya ada yang seperti itu?" tanya Tasya bingung.
"Coba saja tanya sama penjualnya. Siapa tahu ada." jawab Hendra.
Tasya pun keluar dari mobil dan menghampiri penjual martabaknya.
"Pak, ada martabak rasa durian nggak?" tanya Tasya pada bapak-bapak penjual martabak.
"Wah, nggak ada Dek. Kalau adek mau martabak manis durian, setahu saya yang jual martabak seperti itu adanya di belakang pasar mini."
"Oh, nggak ada yah Pak. Bentar yah Pak saya tanya suami saya dulu,"
Tasya menghampiri Hendra yang duduk didalam mobil.
"Kenapa sayang?" tanya Hendra yang melihat istrinya berjalan menghampirinya.
"Disini tidak ada martabak rasa durian sayang. Kata si bapak, adanya di belakang pasar mini." jelas Tasya.
"Aish, jauh sekali, sayang. Yah sudah kamu beli yang ada saja. Lain kali kita baru kesana." ujar Hendra.
Tasya bernapas lega mendengar perkataan suaminya.
Huuft. Untung aja si calon bapak-bapak ngidam ini nggak ngotot mau kesana. Mana jauh banget lagi. Lagian apa enaknya si martabak rasa durian? Enakan juga rasa coklat keju. Batin Tasya.
Setelah membeli beberapa kotak martabak manis berbagai varian rasa, mereka pun meluncur pulang menuju rumah mereka.