How To Love You

How To Love You
Bab 168



Kamar Hendra & Tasya, Pukul 20.00


Hendra dan Tasya sedang duduk di sofa didalam kamar mereka sembari menonton Tv.


"Sayang. Keluar yuk," ajak Hendra.


"Keluar kemana sayang?" tanya Tasya.


"Cari makan. Aku lagi kepengen makan sate," jawab Hendra.


"Sate?" tanya Tasya ingin memastikan.


Hendra mengangguk.


"Ayo. Kalo urusan makan-makan, serahkan saja padaku." Tasya lalu tertawa.


Hendra tersenyum mendengar ucapan sang istri yang begitu antusias jika membahas soal makanan.


"Tunggu sebentar aku telpon Radit dulu," ujar Hendra sembari meraih ponselnya yang ia simpan diatas meja di depan mereka.


Setelah menelpon Radit, Hendra kemudian turun mengajak Miko.


Tok tok tok. Hendra mengetuk pintu kamar Miko.


"Siapa?!" teriak Miko dari dalam kamar.


"Ini Gue," jawab Hendra.


Tidak lama kemudian, Miko datang dan membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Miko setelah ia muncul dibalik pintu.


"Gue mau ngajakin Lo keluar jalan-jalan," jawab Hendra.


"Kemana?" tanya Miko.


"Ke Lapangan Merdeka," jawab Hendra.


"Ngapain malam-malam Lo ngajakin Gue ke lapangan," tanya Miko lagi.


"Seperti biasa, berburu makanan," jawab Hendra.


"Makanan?"


"Iya, Gue lagi kepengen banget makan sate." jelas Hendra.


"Dasar bapak-bapak ngidam. Yah udah, kita kesana bareng siapa?" tanya Miko.


"Yah seperti biasa, sama Radit dan Tania," jawab Hendra.


"Elah, bilang aja Lo ngajakin Gue karena Lo mau jadiin Gue obat nyamuk."


"Hahaha. Entar Gue panggilin Bi Ani buat jadi pasangan Lo. Biar Lo nggak kesepian," canda Hendra.


"Enak aja."


"Yah ampun, Gue minta maaf ya, Mik," ucap Hendra tiba-tiba dengan ekspresi bersalah.


"Kenapa?" tanya Miko bingung karena ekspresi Hendra tiba-tiba saja berubah.


"Yah karena Gue udah ngusir pembantu itu kemarin. Jadinya Lo nggak jadi punya pasangan," canda Hendra.


"Ih, amit-amit jabang bayi," ucap Miko bergidik sembari mengetuk kepalanya bergantian dengan pintu.


"Hahaha. Terus Lo mau dicariin pasangan dimana? Emang Lo pikir nyari pasangan segampang itu apa," tanya Hendra.


"Gue punya." jawab Miko seraya tersenyum misterius.


"Siapa?" tanya Hendra menyelidik.


"Adik ipar Lo." jawab Miko.


"Eit, entar dulu. Maksud Gue bukan Tania, tapi si bontot." jelas Miko.


"Maksud Lo, Tantri?" tanya Hendra ingin memastikan.


"Siapa lagi." jawab Miko.


"Ck, demen banget Lo sama daun muda." ucap Hendra sembari berdecak.


"Yah nggak apa-apa. Cuma beda 10 tahun juga."


"Parah Lo." ucap Hendra.


"Lo maunya apa sih Hend? Gue mau deketin si Tania Lo nya ngelarang. Sekarang Gue mau deketin si Tantri Elo nya protes. Mau Lo apa sih sebenernya? Nggak suka banget liat sahabat sendiri bahagia." cerocos Miko.


"Bukannya gitu, Gue cuma nggak mau Lo nyakitin perasaan adik ipar Gue." jelas Hendra.


"Siapa yang mau nyakitin? Gue serius kok." balas Miko.


"Serius? Hahaha. Emangnya tuh anak mau sama Om-Om kayak Lo," ledek Hendra.


"S*alan Lo, ngatain Gue Om-Om."


"Hahaha. Bercanda,"


"Gimana nih, Lo ngedukung Gue nggak sama si Tantri?" tanya Miko.


"Gue malah seneng sih Mik. Soalnya Lo nggak bakalan ganggu hubungan Radit sama Tania kalo Lo jalan sama Tantri." jelas Hendra.


"Nah, itu. Gue juga capek ngejar-ngejar orang yang nggak mau suka sama Gue. Bahkan barang yang Gue kasih, dia nggak mau ngambil sama sekali." Miko mengungkapkan kekecewaannya mengenai Tania.


"Tuh Lo nyadar. Hahaha." ledek Hendra.


"Ck, bener-bener Lo yah." Miko mulai kesal dengan Hendra.


"Hahaha. Sorry-sorry. Lo jadi ikut nggak?" tanya Hendra ingin memastikan.


"Kalo si Tantri nya ikut, Gue juga bakalan ikut. Tapi kalo nggak, yah nggak juga" jawab Miko.


"Yah udah, Gue bakalan nyuruh dia ikut. Kalo perlu Gue bakalan paksa dia. Gue juga kasian tau liat Elo kelamaan menjomblo." ujar Hendra.


"Lo sebenernya menghina apa menghibur sih?" tanya Miko semakin bertambah kesal.


"Dua-duanya." jawab Hendra sembari tergelak.


"Rese banget sih Lo."


"Sana cepetan dandan! Biar adek ipar Gue klepek-klepek sama Om-Om kayak Lo, hahaha." ucap Hendra seraya berlari menuju tangga.


"Si*lan Lo." teriak Miko.


Hendra pun berlari naik ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ia merasa sangat senang karena berhasil membuat Miko kesal karena telah menggodanya.


"Kalo dipikir-pikir, omongan Hendra ada benernya juga tuh." gumam Miko sembari mengangkat kedua sudut bibirnya. Ia lalu segera masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Miko kemudian membongkar isi kopernya. Ia lalu memindahkan isi kopernya itu ke dalam lemari. Satu per satu ia memeriksa bajunya. Ia sedang memilih baju mana yang kira-kira cocok untuk ia kenakan agar terlihat lebih muda dan serasi jika ia berjalan beriringan dengan Tantri.


Setelah cukup lama memilih, pilihannya pun jatuh pada baju kaos lengan pendek berwarna putih dengan sedikit tulisan berwarna hitam di bagian dada, serta celana joger motif tentara dan sepatu sneaker warna abu-abu. Ia ingin terlihat keren di mata Tantri meskipun hanya mengenakan pakaian santai.


Setelah selesai mengenakan pakainnya lengkap dengan sepatu. Ia melihat pantulan dirinya di cermin sembari tersenyum puas.


"Boleh juga penampilanku malam ini. Aku bahkan terlihat 5 tahun lebih muda," ucap Miko.


"Oh, masih ada yang ketinggalan," ucap Miko sembari mengambil sebuah botol berwarna coklat pekat dengan gambar pria maskulin di kemasannya.


Sreet, sreet.  Miko menyemprotkan parfum beraroma coklat di tubuhnya.


"Sempurna. Tantri, I'm coming," ucap Miko tersenyun sembari menyisir rambutnya kearah atas dengan sebelah tanggannya lalu beranjak keluar dari kamar.