
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu ya.
...----------------...
Beberapa hari kemudian.
Hari ini adalah hari terakhir Tasya UAS. Hendra menjemputnya saat jam pulang kampus. Ia mengajak Tasya untuk nonton di bioskop untuk menghilangkan kepenatannya selama beberapa hari terakhir.
Sesampainya di mall dimana bioskop itu berada, Hendra dan Tasya masuk ke sebuah food court yang ada di mall itu. Mereka ingin makan siang dulu sebelum menonton. Setelah memilih tempat duduk, Hendra pergi memesan makanan, sedangkan Tasya duduk manis menunggunya ditempat.
Tanpa mereka sadari, di sudut ruangan sana ternyata ada Radit dan Tania juga. Mereka juga sedang makan siang ditempat itu. Radit dan Tania juga datang untuk nonton film. Hari ini mereka melanjutkan rencana mereka yang sempat tertunda beberapa hari yang lalu.
Tidak lama kemudian Hendra datang membawa makanan untuk makan siang mereka berdua.
"Selamat makan istriku sayang!" seru Hendra pada Tasya yang duduk disampingnya. Tasya membalasnya dengan tersenyum. Mereka pun mulai menikmati makan siangnya.
Tidak lama kemudian Radit dan Tania keluar dari tempat itu sambil berjalan beriringan. Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, Tania sudah tidak jutek lagi pada Radit. Ia sudah mulai bersikap manis pada Radit.
Radit dan Tania segera menuju lantai 3 dimana bioskop itu berada. Sesampainya mereka disana, Radit membeli tiket untuk mereka berdua. Mereka sepakat untuk menonton film yang bergenre komedi. Setelah itu, Radit menyuruh Tania untuk duduk menunggunya. Ia ingin membeli popcorn dan minuman untuk menemani mereka nonton nanti.
Tidak lama kemudian, Radit kembali dengan membawa 1 kotak popcorn ukuran besar dan 1 cup besar pepsi.
"Loh. Kok minumannya cuma satu sih Dit?" tanya Tania.
"Ini sudah cukup untuk kita berdua Nia. Aku sengaja memilih ukuran besar." jawab Radit sambil tersenyum.
"Maksudku bukan begitu Dit. Maksudku begini, kalau minumannya cuma satu, apa kita harus menghisap minuman itu secara bergantian?" jelas Tania.
"Mau bagaimana lagi Nia? Anggap saja itu ciuman nggak langsung dariku." jawab Radit sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tania tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya berubah merona karena malu. Memang itu yang ia pikirkan tadi saat melihat Radit hanya membeli 1 cup besar minuman.
Sementara itu, di studio lain. Hendra dan Tasya sudah duduk manis didalam bioskop. Mereka memilih film yang bergenre romantis karena Tasya suka nonton film romantis.
Studio mulai gelap, pertanda filmnya sudah mulai ditayangkan. Tasya fokus dengan layar. Sedangkan Hendra hanya fokus menatap istrinya sambil menggenggam erat tangan Tasya. Sesekali ia mencium tangan istrinya, Tasya hanya menoleh sekilas dan tersenyum pada suaminya lalu kembali menonton filmnya.
Hendra memeluk bahu Tasya dan menyandarkan kepala Tasya dibahunya. Tasya hanya menuruti perlakuan suaminya sesekali ia menyuapi Hendra dengan popcorn lalu kembali fokus pada filmnya.
Ditengah adegan romantis, Hendra jadi tergoda untuk mempraktekkannya sendiri. Ia menarik dagu Tasya, Tasya mendongakkan kepalanya mengikuti tangan Hendra yang menarik dagunya. Tasya sekarang menatap wajah suaminya. Hendra tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Tasya yang mengerti kemauan suaminya, menggelengkan kepalanya pertanda memberikan penolakan.
"Kenapa sayang?" tanya Hendra.
"Jangan disini. Kan malu kalau dilihat orang nanti." jawab Tasya seraya berbisik.
Hendra tersenyum mendengarkan jawaban istrinya.
"Siapa yang lihat? Hanya ada kita berdua dibarisan kursi ini." balas Hendra.
Hendra sengaja membeli satu baris kursi paling atas untuk ia tempati bermesraan dengan istrinya, tentunya tanpa sepengetahuan Tasya.
"Iya juga sih sayang." balas Tasya setelah menengok ke kiri dan ke kanan.
Tanpa memberi aba-aba, Hendra langsung melu**t bibir istrinya. Tasya hanya menuruti perlakuan suaminya. Sesekali ia membalas dengan melu**t balik bibir Hendra. Sekarang kemampuan ciumannya sudah lumayan baik karena ia sudah sering melakukannya dengan Hendra. Hendra mencium Tasya dengan penuh gairah. Setelah cukup lama bertukar saliva. Hendra pun menghentikan aksinya lalu berbisik didekat telinga istrinya,
"Sayang. Ini sudah hari ke-8 kan adek kecilku berpuasa? Berarti aku sudah boleh dong minta jatah hari ini." tanya Hendra diiringi senyum nakalnya.
Wajah Tasya berubah jadi merah merona mendengar ucapan Hendra.
"Persiapkan dirimu sayang. Nanti malam, aku akan bekerja lebih keras dari sebelumnya. Kamu bersiap-siaplah begadang sampai subuh. Kamu akan kewalahan menghadapiku nanti." bisik Hendra lalu mengecup pipi Tasya dengan lembut.
Pipi Tasya yang tadinya sudah merah, kini semakin memerah. Ia malu sekaligus kaget mendengar ucapan suaminya barusan. Ia tidak bisa membayangkan jika Hendra benar-benar mengajaknya bermain sampai subuh. Pasti akan sangat melelahkan, pikir Tasya.