
Seperempat jam lagi pukul 5 sore, Radit dan Tania sedang dalam perjalanan pulang. Mereka habis jalan-jalan sekaligus nonton di bioskop hari ini. Mereka memang sudah agak lama tidak jalan berdua. Sisa beberapa ratus meter lagi mereka sampai di depan rumah Tania.
"Kak Hendra sama Kak Tasya ada dirumah, loh. Kamu mau mampir dulu nggak, Dit?" tanya Tania pada Radit.
"Mmm, nggak usah dulu yah, sayang. Soalnya udah sore nih," jawab Radit.
"Oh, yah udah." ucap Tania.
"Lain kali aja yah, sayang." ujar Radit sembari sesekali melirik ke arah Tania.
"Oke." balas Tania.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Tania. Terlihat Hendra dan Miko sedang duduk di teras. Radit membulatkan kedua matanya melihat rivalnya itu ternyata juga ada disana.
"Sayang, kok kamu nggak bilang sih kalo si pepacor itu juga ada dirumah kamu," ujar Radit.
"Hah, pepacor! Apaan tuh?" tanya Tania tidak mengerti.
"Perebut pacar orang." jawab Radit.
"Huss, kamu kok ngomongnya gitu sih, Dit?" tegur Tania.
"Emang kenyataannya kayak gitu, kan Nia sayang," ujar Radit.
"Kamu nyebut Kak Miko perebut pacar orang, emang kamu mau kalo dia ngerebut aku dari kamu, gitu?" tanya Tania.
Tania sedikit tidak suka dengan gelar yang diberikan Radit pada Miko.
"Yah enggak lah. Kok kamu ngomongnya gitu sih sayang? Asal kamu tau yah, aku tuh nggak bakalan rela sampai kapan pun. Sampai dunia kiamat sekalipun." jelas Radit.
"Nah, itu kamu nggak rela, kan. Makanya kamu itu kalo ngomong hati-hati, jangan nyebut orang kayak gitu. Kamu tau sendiri kan kalo setiap kata itu adalah do'a," jelas Tania mencoba mengingatkan Radit.
"Iya deh, iya deh, maaf Nyonya Radit. Aku panggilnya gitu aja, yah sayang. Biar kamu cepat-cepat jadi Nyonya Radit beneran." ujar Radit sembari tersenyum.
"Nggak ah, aku malu kalo didengar sama orang lain," protes Tania.
"Kenapa mesti malu, bentar lagi kan kita juga nikah. Kecuali kalo kamu mau nolak lamaran aku lagi. Siap-siap aja liat aku nggak ada lagi didunia ini," ancam Radit.
"Elah, lebay banget kamu, Dit." ucap Tania.
"Ih, aku serius sayang." ujar Radit bersungguh-sungguh.
"Yah udah deh, terserah. Aku turun dulu yah, Dit. Daaah, see you." ucap Tania sembari membuka pintu mobil lalu turun dari mobil Radit.
"Aku ikut, aku berubah pikiran." kata Radit sembari ikut turun dari mobilnya.
Radit dan Tania pun menghampiri Hendra dan Miko yang sedang duduk di teras rumah.
"Dari mana aja kalian?" tanya Hendra pada Radit dan Tania.
"Jalan-jalan." jawab Radit.
"Nonton Kak." jawab Tania.
Keduanya menjawab secara bersamaan.
"Dua-duanya maksudnya, Kak." jelas Tania.
"Aku masuk dulu yah, Dit. Kamu duduk dulu gih." ujar Tania.
Radit hanya mengangguk. Setelah Tania masuk, Radit pun lalu mengambil tempat duduk disamping Hendra. Setelah cukup lama berbincang-bincang, Radit pun kembali ke rumahnya karena hari sudah hampir gelap. Ia berniat kembali lagi usai shalat maghrib karena ia tahu kalau Hendra dan Miko akan bermalam dirumah Pak Rudi malam ini. Radit tidak mau kalah, ia pun juga mau bermalam disana, dirumah calon mertuanya. Ia tidak rela kalau Miko mendekati gadis kesayangannya itu saat dirinya tidak ada.
***
Pukul 07.00 Malam
Barobbo' (Sup jagung khas Bugis😁) dan perkedel jagung beserta sambelnya sudah siap di meja makan. Hanya itu menu makan malam mereka malam ini, di tambah lontong ataupun buras sesuai selera mereka masing-masing.
Radit juga sudah bergabung dengan mereka. Malam itu mereka makan malam bersama. Setelah selesai, mereka pun lalu keluar ke halaman depan rumah untuk acara selanjutnya, yaitu acara bakar jagung. Pak Rudi sudah menyiapkan alat pemanggang dan arang untuk mereka pakai membakar jagungnya nanti.
Selama Radit ada disana, seperti biasanya, ia terus mengekor kemana pun Tania pergi. Hendra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik sepupunya itu. Radit memang sudah seperti body guard yang menjaga Tania kemana pun Tania pergi. Itu karena Radit tidak ingin memberikan peluang bagi Miko untuk mendekati kekasihnya.
Acara bakar jagung pun di mulai, para laki-laki yang mengambil alih tugas membakar jagungnya. Setiap dari mereka bertugas untuk membakarkan jagung untuk pasangan mereka masing-masing. Karena sama-sama tidak punya pasangan, Miko dan Tantri pun terpaksa dipasangakan. Miko yang membakarkan jagung untuk Tantri.
"Nasiiib, nasib. Sama-sama jomblo kita, Tantri." ucap Miko seraya menghampiri Tantri yang sedang duduk di teras bersama ibu dan kakak-kakaknya. Miko membawa dua buah jagung bakar ditangannya.
Tantri terkekeh mendengar ucapan Miko sembari menerima jagung bakar yang diberikan oleh Miko.
"Hidup, jomblo! Hahaha." ucap Tantri seraya mengangkat jagung bakar miliknya.
"Hidup!" seru Miko sambil ikut mengacungkan jagungnya juga.
Yang lain ikut tertawa melihat tingkah konyol keduanya.
Tidak lama kemudian, jagung milik Hendra pun juga sudah matang.
"Akhirnya, punyaku matang juga." ucap Hendra seraya berdiri lalu beranjak menghampiri istrinya.
"Jagung bakar spesial untuk wanita paling spesial." ucap Hendra sembari menyerahkan satu buah jagung bakar pada Tasya.
"Elah, gombal." balas Tasya.
Mereka pun kembali tertawa bersama mendengarkan gombalan receh pasangan suami istri itu.
Selanjutnya, jagung milik Radit pun juga sudah matang. Pak Rudi yang paling terakhir selesai karena ia memang yang paling belakangan membakar jatah jagung miliknya tadi.
"Nia, aku jadi teringat di taman waktu itu," ujar Radit.
"Hehe, iya Dit. Aku juga mikirnya kayak gitu tadi." balas Tania.
Tiba-tiba Pak Rudi juga ikut beranjak karena jagung yang ia bakar juga sudah matang.
"Bu, kita jangan mau kalah sama yang muda Bu." ujar Pak Rudi sembari menghampiri Bu Indah, istrinya.
"Maksud, Ayah?" tanya Bu Indah kurang mengerti.
"Jagung bakar apa yah? Ayah sudah lupa caranya menggombal," ucap Pak Rudi sembari berpikir.
"Ayah, Ayah. Ingat umur," ujar Bu Indah membuat semuanya kembali tertawa.
Begitulah keseruan mereka malam itu, bercanda dan tertawa bersama. Entah mengapa, Miko merasa sangat betah berada ditengah-tengah keluarga itu. Ia merasakan kehangatan serta ikatan kekeluargaan yang begitu erat didalam keluarga Pak Rudi. Miko jadi semakin ingin dan semakin bersemangat untuk menjadi salah satu bagian dari anggota keluarga itu.