
Di sebuah kawasan perumahan elite di lota Kartaja, seorang laki-laki tampan sedang duduk di teras lantai dua rumahnya. Dia sedang sibuk mengerjakan urusan bisnisnya ditemani secangkir kopi dan cemilan. Sebuah pesan tiba-tiba masuk di whatsapp-nya. Seseorang mengirimkan beberapa foto padanya.
"Hendra? Jadi sekarang kamu dekat dengannya," gumam Fathur seraya menatap foto di layar ponselnya.
"Dia bahkan menyuapimu makan. Hubungan kalian pasti lebih dari teman dekat," kata Fathur sambil menggeser foto-foto itu.
Fathur merasa sangat penasaran dengan hubungan antara Tasya dan Hendra. Dia pun menghubungi seseorang yang baru saja mengiriminya semua foto-foto itu.
^^^📱Mr. A :^^^
^^^Halo bos!^^^
📱Fathur :
Cari tahu hubungan antara
Tasya dengan Hendra.
^^^📱Mr. A :^^^
^^^Siap bos saya akan^^^
^^^kabari secepatnya.^^^
...----------------...
1 Jam kemudian, Mr. A kembali menelpon Fathur.
📱Fathur :
Apa kamu sudah menyelidikinya?
^^^📱Mr. A :^^^
^^^Sudah, Bos.^^^
📱Fathur :
Informasi apa yang kamu dapat?
^^^📱Mr. A :^^^
^^^Menurut informasi yang^^^
^^^saya dapat, hari ini mereka^^^
^^^mengunjungi toko perhiasan^^^
^^^dan mereka membeli cincin kawin.^^^
📱Fathur :
Ap-apa? Cincin kawin?
Apa mereka mau menikah?
^^^📱Mr. A :^^^
^^^Sepertinya begitu Bos.^^^
📱Fathur :
Apa kamu tahu kapan
mereka menikah?
^^^📱Mr A :^^^
^^^Belum, Bos.^^^
^^^Saya belum menyelidiki^^^
^^^sampai kesana.^^^
📱Fathur :
Baiklah. Cari tahu kapan
mereka menikah.
^^^📱Mr. A :^^^
^^^Siap, Bos.^^^
📱Fathur :
Tunggu transferanmu
untuk pagi ini. Kerjamu bagus.
^^^📱Mr. A :^^^
^^^Terima kasih, Bos.^^^
Fathur pun akhirnya memutus sambungan teleponnya.
"Hendra, aku harap kamu bisa menjaga dan membahagiakan Tasya seumur hidupmu," gumam Fathur, sambil masih menggenggam ponselnya.
...----------------...
Hendra sudah menunggu Tasya di mobilnya sejak setengah jam yang lalu. Dia tahu kalau Tasya tidak suka menunggu makanya dari itu dia datang lebih awal.
Dari kejauhan Hendra melihat Tasya dan teman-temannya berjalan keluar dari gedung perkuliahan. Mereka berpisah setelah sampai di tempat parkir.
Setelah berpisah dari teman-temannya, Tasya pun segera keluar menuju di mana Hendra menunggunya.
Hendra melambaikan tangan ke arah calon istrinya sedangkan Tasya membalasnya dengan melemparkan senyuman.
Tiba-tiba sebuah motor Hando RCB menghadang dan menghalangi langkah Tasya dan membuat gadis itu sedikit terkejut.
"Roy, permisi. Aku mau lewat."
Tasya melangkah ke samping untuk mencari jalan tapi Roy kembali menghadangnya.
"Permisi Roy... aku mau lewat." Tasya menekankan ucapannya. Dia mulai kesal pada teman kampusnya itu.
"Kau tidak bawa motor, "kan? Ayo, ikut pulang denganku," ajak Roy.
"Gak. Makasih. Aku udah ditunggu."
"Ayolah ... lagipula siapa yang menunggumu?"
Roy menyapukan pandangannya ke sekeliling, namun dia tidak menemukan sosok yang sering mengantar jemput Tasya dulu, yaitu Fathur.
"Hei! Berhenti mengganggu calon istriku!" teriak Hendra, memperingati.
"Calon istri? Hahaha jangan bercanda."
Roy tergelak, dia berpikir kalau Hendra hanya mengaku-ngaku.
"Tasya, kau ini sebenarnya punya berapa calon suami? Kenapa setiap orang yang dekat denganmu selalu mengaku-ngaku calon suamimu?" ledek Roy.
Tasya terdiam. Tiba-tiba dia merasa sedih mendengar ucapan Roy barusan.
"Elah, banyak bacot. Minggir! Sebelum aku memberimu pelajaran."
Hendra memberi Roy peringatan, lalu mendorong motor Roy hingga mundur dan memberikan jalan untuk Tasya.
Setelah mendapat jalan, Tasya pun bergegas menuju mobil Hendra yang terparkir tidak jauh dari tempatnya dihadang oleh Roy barusan.
Di perjalanan pulang, Tasya terus-terusan terdiam dan tidak pernah berkata sepatah kata pun. Gadis itu terlihat sangat sedih. Kata-kata Roy tadi mengingatkan Tasya pada kejadian beberapa bulan lalu saat Roy mengganggunya. Saat itu Fathur datang melindunginya seperti yang dilakukan Hendra tadi.
Melihat Tasya terdiam, Hendra sudah bisa menebak suasana hati calon istrinya tersebut. Apalagi setelah mendengar kata-kata Roy tadi. Dia bisa menyimpulkan bahwa Tasya pasti mengingat kenangannya bersama Fathur dulu.
"Sudahlah, tidak usah sedih begitu," ujar Hendra.
"Siapa yang sedih?" tanya Tasya sambil melihat ke arah luar.
Gadis itu tidak ingin Hendra melihat ekspresi wajahnya yang murung.
"Sudahlah jangan mengelak. Aku tahu kalau kamu pasti sedang sedih gara-gara ucapan orang itu tadi."
Bagaimana kak Hendra bisa tahu? Kenapa sih semua orang bisa dengan mudahnya menebak isi hatiku, bahkan isi pikiranku sekalipun? Apakah di keningku tertulis sesuatu? Batin Tasya sambil memeriksa keningnya pada kaca spion mobil.
Gak ada kok. Apa aku memang sebodoh itu menyembunyikan perasaanku?
"Kamu kenapa?" tanya Hendra.
"Mm? Gak kenapa-kenapa kok, Kak."
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu? Tapi itu pun kalau kamu tidak keberatan menjawabnya," ujar Hendra.
"Memangnya Kak Hendra mau nanya apa?" tanya Tasya.
"Mm ... karena sebentar lagi kita akan menikah, jadi aku pikir tidak ada salahnya kalau aku tahu sedikit tentang masa lalumu. Ya, itu pun kalau kamu tidak keberatan mengatakannya."
Hendra begitu hati-hati mengucapkannya, takut lawan bicaranya tersinggung.
Tasya terdiam sejenak lalu berkata, "Apa yang ingin Kak Hendra ketahui tentang masa lalu saya? Silahkan tanyakan saja."
"Mm ... apa yang dikatakan orang itu benar?"
Yang Hendra maksud di sini adalah mengenai ucapan Roy yang mengatakan tentang calon suami Tasya sebelumnya.
"Ya." Tasya menjawab disertai anggukan.
"Ternyata hubungan kalian dulu sudah sejauh itu rupanya. Lalu kenapa kalian berpisah?"
Tasya menarik napasnya pelan, dadanya mulai terasa sesak mengingat kejadian 4 bulan lalu.
"Dia dijodohkan dengan anak teman mamanya. Dan kami juga gak dapat restu dari orangtuanya."
Tidak terasa bulir-bulir bening mulai menetes membasahi pipi mulus gadis itu.
Oh jadi ternyata seperti itu ceritanya. Kasihan sekali. Tadinya aku pikir Fathur dan Fani memang menjalin hubungan, ternyata mereka berdua hanya di jodohkan.
Tidak tidak, kenapa juga aku harus kasihan? Bukankah ini yang membuatu mendapatkan kesempatan emas.
"Sudahlah jangan menangis. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku? Kamu malah menangisi pria lain dihadapanku."
"Maaf maaf, saya gak sengaja." Tasya berkata seraya menyeka air matanya.
"Lihat aku," ucap Hendra.
Meski pun terasa canggung, tapi Tasya tetap memberanikan diri untuk menatap calon suaminya itu. Dan masih dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
"Dengarkan aku. Mulai sekarang, lupakan masa lalumu. Sekarang aku adalah masa depanmu. Dan aku berjanji, aku akan membahagiakanmu seumur hidupku." Hendra berujar dengan penuh keyakinan.
Entah mengapa Tasya merasa ada ketenangan dan kehangatan yang menyeruak di dalam hatinya mendengar ucapan Hendra barusan. Mungkin karena perkataan itu diucapkan dari hati yang benar-benar tulus mencintainya.
...----------------...
Dreet dreet, dreet dreet.
Ponsel Fathur kembali berdering, panggilan masuk dari orang suruhannya.
📱Fathur :
Halo. Apa kamu sudah
dapat informasi?
^^^📱Mr. A : ^^^
^^^Sudah bos!^^^
📱Fathur :
Kapan?
^^^📱Mr. A : ^^^
^^^13 hari lagi bos.^^^
📱Fathur :
13 hari lagi?
Kenapa cepat sekali?
^^^📱Mr. A :^^^
^^^Iya bos.^^^
^^^Menurut informasi yang^^^
^^^saya dapat, ini permintaan^^^
^^^dari pihak laki-laki bos.^^^
📱Fathur :
Mm begitu yah. Baiklah
tunggu transferanmu
berikutnya. Kali ini aku
kasih bonus. Kerjamu
sangat bagus.
^^^📱Mr. A :^^^
^^^Terima kasih^^^
^^^banyak bos!^^^
Fathur memutuskan sambungan telepon dengan orang bayarannya tersebut.
Hendra. Ternyata kamu tidak sabaran juga rupanya. Batinnya menyeringai.
"Honey! Kamu sedang apa?"
Suara seorang wanita tiba-tiba mengejutkan Fathur. Dengan cepat dia memasukkan ponselnya ke dalam saku depan celananya.
Fathur memutar badan kemudian menatap istrinya.
"Honey, kamu sudah pulang rupanya."
"Iya barusan," jawab Fani. "Ayo kita turun. Aku tadi mampir membeli makanan kesukaanmu."
"Benarkah? Kebetulan aku memang sedang lapar. Ayo." Fathur berkata sambil tersenyum.
Entah senyuman itu adalah senyuman asli ataukah palsu, hanya Fathur dan Author yang tahu.