How To Love You

How To Love You
Bab 177



Pagi itu, Radit dan Tania meluncur menuju toko perhiasan. Mereka ingin memilih cincin untuk pernikahan mereka nanti karena sisa itu yang belum siap. Undangan sudah tersebar semua. 2 Minggu yang lalu mereka juga sudah selesai fitting baju pernikahan. Gedung dan persiapan yang lainnya ditangani oleh keluarga dan pihak WO.


Sesampainya di toko perhiasan,


"Sayang, kamu suka yang mana?" tanya Radit.


"Aku juga bingung, Dit. Pilihannya banyak banget dan semuanya cantik-cantik." jawab Tania sambil terus mencari cincin yang cocok dengannya.


"Mm, bagaimana kalau yang ini aja? Apa kamu suka yang ini, sayang?" tanya Radit sambil menunjuk satu buah cincin yang bentuknya mirip dengan cincin polos tapi ditengahnya tertanam satu buah berlian imitasi.


"Yang paling bawah itu?" tanya Tania ingin memastikan.


"Iya." jawab Radit.


"Mba, saya mau coba yang ini," ujar Tania pada Mba penjaga toko.


"Oh, iya. Sebentar yah, Kak." ujar si penjaga toko lalu segera mengambilkan apa yang diminta oleh Tania.


"Yang itu bagus, sayang. Simpel tapi cantik. Cocok banget di jari kamu." ujar Radit setelah Tania memasang cincin itu di jari manis kanannya.


"Iya, cantik banget, Dit." ucap Tania setelah melihat cincin itu melingkar indah di jari manisnya.


"Jadi, kamu mau yang itu, sayang?" tanya Radit.


"Iya, yang ini aja." jawab Tania.


"Yah udah. Mba, kami mau yang ini, yah." ujar Radit.


"Oh, iya baik, Kak." kata Mba penjaga toko itu. Ia pun kemudian mengeluarkan beberapa cincin polos tapi dengan ukuran yang berbeda-beda.


"Ini pasangannya, Kak. Silahkan dipilih ukuran yang cocok dengan jarinya." ujar penjaga toko itu pada Radit.


***


Kebetulan hari itu adalah hari sabtu. Miko pergi menjemput Tantri dirumahnya. Ia ingin mengajak gadis itu jalan-jalan. Hal itu sudah menjadi rutinitas Miko di hari sabtu dan minggu, atau setiap gadis itu libur sekolah. Ia selalu mengajaknya keluar jalan-jalan atau sekedar mengajaknya kerumah Hendra dan Tasya dimana ia tinggal selama beberapa bulan terakhir.


Hati Miko benar-benar sudah terpikat oleh gadis itu. Sepertinya ia akan sulit untuk berpindah ke lain hati. Setiap kali Miko kembali ke kotanya setiap 2 minggu sekali. Ia tidak bisa betah berlama-lama disana. Padahal disana lah tempat tinggalnya yang sebenarnya. Ia bisa tahan paling lama 3 hari berada kotanya, selebihnya itu ia sudah tidak kuat lagi. Sebelum hari libur sabtu dan minggu tiba, ia selalu kembali ke Desa T. Ia tidak bisa berlama-lama jauh dari gadis itu. Andai saja gadis itu sudah lulus sekolah dan sudah bisa ia nikahi, pasti ia sudah menghalalkannya dan memboyongnya ke tempat tinggalnya, pikir Miko.


"Anda mau diantar kemana, Nona?" tanya Miko berlagak bak supir.


"Antar saya ke pelaminan, Pak. Hahaha." jawab Tantri membalasnya dengan candaan.


Miko hanya tersenyum menanggapi candaan Tantri. Ia sudah tidak mau keGRan lagi seperti sebelumnya. Mengingat gadis itu memang suka sekali bercanda. Sejauh ini ia sudah mengenal sifat Tantri dengan cukup baik. Dan dia suka dengan sifat gadis itu yang terbuka dan apa adanya.


"Kak Miko, aku mau curhat dong," ucap Tantri saat Miko sudah melajukan mobilnya.


"Ih, Kak Miko ih. Masa tentang cowok. Yah bukan lah." jawab Tantri.


"Kalau bukan cowok, terus tentang apa?" tanya Miko penasaran.


"Gini loh, Kak. Semester depan, aku keluar PKL. Terus, aku sama teman-teman aku dikasih pilihan, mau cari tempat PKL sendiri atau dicariin sama ketua jurusan. Nah, aku bingung, mau cari tempat magang sendiri atau dicariin sama guru. Begitu loh, Kak ceritanya." jelas Tantri.


"Oh. Memangnya kamu ambil jurusan apa di sekolah kamu?" tanya Miko sambil fokus menyetir.


"Akuntansi." jawab Tantri singkat.


"Akuntansi. Berarti kamu suka dengan angka dan senang menghitung. Hebat dong berarti otak kamu, yah." puji Miko.


"Ih, Kak Miko lebay banget deh. Apanya yang hebat? Kan, ada kalkulator," ujar Tantri.


"Iya juga sih. Oh iya, ngomong-ngomong kamu maunya praktek dimana nanti? Mau di Bank atau di Kantor Pajak," tanya Miko.


"Nah, itu dia masalahnya, Kak. Kalo aku masuk di salah satu tempat itu, berarti aku nggak bisa bebas dong nanti. Itu pun kalau aku diterima, kalau nggak gimana?" jelas Tantri.


Miko berpikir sejenak.


"Kamu mau bebas?" tanya Miko.


Tantri mengangguk.


"Bagaimana kalau kamu magang di tempatku saja?" tanya Miko.


"Maksud, Kak Miko di restoran?" tanya Tantri ingin memastikan.


"Iya," jawab Miko.


"Jurusanku Akuntansi, Kak. Bukan Tata Boga. Bagaimana mungkin aku bisa magang di restoran?" ujar Tantri.


"Iya, aku tahu. Apa kamu lupa kalau keuangan restoran juga perlu dikelola? Kamu bisa belajar mengelola keuangan disana. Aku punya manager yang jago sekali mengurus keuangan resto," jelas Miko.


"Oh, iya yah. Kenapa aku nggak pernah berpikir sampai kesitu."


"Bagaimana, kamu mau?" tanya Miko.


"Hmm, entar aku pikirin deh, Kak sekalian ngomong ke Ayah sama Ibu karena tempat Kak Miko kan jauh banget. Siapa tau mereka nggak ngijinin," jawab Tantri.


"Oh, yah sudah kalau begitu," ujar Miko sambil terus melajukan mobilnya.