How To Love You

How To Love You
Bab 221



Laki-laki itu pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia juga ingin mengambil air wudhu di dalam sana. Beberapa saat kemudian, Miko sudah selesai mengambil air wudhu dan Tantri sudah lengkap dengan mukenanya. Mereka pun segera sholat zhuhur berjamaah dan Miko sebagai imamnya.


Usai shalat berjamaah, Tantri segera membereskan alat sholatnya. Ia tidak memperdulikan Miko yang ingin berjabat tangan dengannya seperti yang biasa mereka lakukan usai shalat berjamaah.


"Kamu masih marah?" tanya Miko. Ia terus mengikuti langkah Tantri kemanapun gadis itu melangkahkan kakinya.


"Tri! Jangan marah dong," bujuk Miko. Namun Tantri tetap diam saja. Ia tidak mempedulikan Miko yang terus mengekor seperti anak ayam pada sang induk dibelakangnya.


Tantri pun duduk di kursi meja kerjanya. Ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya padahal waktu jam istirahat masih ada.


"Hei jangan ngambek dong, Tri!" bujuk Miko sambil duduk di meja kerja Tantri dan posisinya menghadap ke arah gadis itu.


Seolah-olah tidak mendengar dan tidak melihat, Tantri terus menari-narikan tangannya mengetik di atas keyboard laptop.


Merasa diabaikan, Miko mengangkat dagu Tantri agar gadis itu menatap wajahnya. Tapi Tantri malah menepis tangan Miko. Ia masih sangat kesal dan marah pada laki-laki yang duduk di meja kerjanya itu.


Ternyata gadis kecil ini lumayan keras kepala juga. Batin Miko sambil menghembuskan nafasnya secara kasar lalu dengan cepat menutup laptop yang sedang digunakan oleh Tantri.


"Tri, kamu jangan kekanak-kanakan dong," ucap Miko masih berusaha membujuk pujaan hatinya itu.


"Pak Miko kan tahu sendiri saya ini memang masih remaja. Jadi wajar lah kalau saya bersifat kekanak-kanakan. Yang tidak wajar itu laki-laki dewasa yang bersifat kekanak-kanakan," sindir Tantri sambil membuang pandangannya ke samping dan melipat kedua tangannya di dada.


Miko terkesiap mendengar ucapan gadis itu. Apa betul dirinya bersifat kekanak-kanakan seperti yang diucapkan oleh gadis itu? Pikir Miko.


"Apa menurutmu aku seperti itu?" tanya Miko.


"Tentu saja!" seru Tantri sambil masih mempertahankan posisinya.


"Sifatku yang mana yang menurut kamu kekanak-kanakan? Coba jelaskan padaku," ujar Miko.


"Apa menurut, Pak Miko melarang saya bertemu dengan sahabat saya sendiri bukan sifat yang kekanak-kanakan?" Jelas Tantri.


"Apa itu yang membuatmu marah padaku?" tanya Miko.


"Masih nanya lagi," gumam Tantri makin kesal karena Miko tidak menyadari kesalahannya.


"Baiklah, kalau begitu aku minta maaf karena telah membuat kamu marah. Aku melakukan semua itu karena aku cinta dan sayang sama kamu. Aku tidak suka jika kamu dekat dengan laki-laki manapun. Aku melarangmu bertemu dengan teman laki-lakimu itu karena aku tidak suka caranya memandangmu. Sepertinya anak itu menaruh hati padamu," jelas Miko.


Hah! Jadi semua itu karena dia cemburu. Sebenarnya aku seneng sih di cemburui. Berarti kak Miko emang benar-benar sayang sama aku. Tapi aku kesel juga kalo kak Miko berlebihan begini. Masa dia cemburu sama Anton. Kurang apa coba dia dibanding Anton. Dasar Bucin! Dia jadi nggak bisa berpikir jernih gara-gara jatuh cinta sama ABG. Batin Tantri.


"Pak Miko jangan ngawur. Jadi semua itu karena, Pak Miko cemburu sama Anton. Iya, begitu? tanya Tantri.


"Kalau kamu sudah tahu buat apa kamu menanyakannya lagi," jawab Miko.


"Mulai sekarang berhenti memanggilku pak ataupun anda. Aku tidak suka. Dan satu lagi, berhenti berbicara formal padaku," tegas Miko


"Apa tidak salah? Ini kan tempat kerja. Jadi wajar lah kalau saya memanggil dan berbicara seperti itu pada atasan sendiri," jelas Tantri.


"Tidak apa apa. Disini juga tidak ada orang. Tidak akan ada yang mendengarmu. Kecuali kalau kita diluar kamu baru boleh berbicara formal dan memanggilku pak," ujar Miko.


"Ya udah, kalo gitu aku ngomong seperti biasanya aja," ucap Tantri.


"Anak pintar." ucap Miko sambil tersenyum dan mengelus mengelus kepala Tantri


"Ya udah. Sana, Kak Miko pindah ke meja kerja, Kak Miko sendiri. Jangan ganggu aku kerja," ucap Tantri.


"No no no. Aku juga tidak mau dipanggil kak. Aku ini bukan kakakmu. Tapi  aku ini calon suamimu. Mengerti!"


"Iya, aku tau. Terus, Kak Miko mau dipanggil apa?" tanya Tantri dengan tatapan menyelidik. Ia curiga kalau Miko pasti ingin di panggil dengan sebutan yang aneh-aneh.


Miko tersenyum lalu menjawab pertanyaan Tantri. "Panggil aku, SAYANG!"


Tantri melongo mendengar ucapan Miko. Ia merasa tidak percaya dengan permintaan laki-laki tersebut.


"Ih aku nggak mau," tolak Tantri seraya cemberut dan membuang pandangan ke samping.


"Kenapa kamu tidak mau? Hem," tanya Miko.


"Aku malu," jawab Tantri.


"Malu kenapa?" tanya Miko.


"Ya malu lah, Kak. Kita itu nggak pacaran," jawab Tantri.


"Jadi kamu mau kita pacaran dulu baru kamu mau memanggilku dengan panggilan sayang. Begitu, kah?" goda Miko sambil menundukkan kepalanya mendekatkan wajahnya pada wajah Tantri.


"Ng-nggak. Ak-aku nggak bermaksud seperti itu," bantah Tantri sambil memundurkan kepalanya menjauhkan wajahnya dari wajah Miko.


"Lalu apa? Hem," tanya Miko tersenyum sambil menatap lekat wajah Tantri yang sudah menunduk malu.


"Sudah, lupain aja. Aku akan tetap memanggil, Kak Miko seperti biasa," jawab Tantri lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia meninggalkan Miko yang terkesan sedang memojokkan dirinya.


Miko terkekeh melihat tingkah malu-malu gadis itu. Ia pun kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangannya.