How To Love You

How To Love You
Bab 67



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


!!Keesokan harinya,


Seperti biasanya Tasya bangun pagi untuk membuat sarapan. Kali ini ia membuat roti bakar dan dua gelas susu coklat untuk sarapannya dengan Hendra. Tasya tidak membuat nasi goreng seperti kemarin karena Hendra melarangnya. Bukannya Hendra tidak suka dengan nasi goreng buatannya, hanya saja Hendra takut gemuk kalau sering-sering memakan makanan yang berkarbohidrat tinggi di pagi hari. Selama ini Hendra menjaga pola makannya dan rutin berolahraga, makanya ia bisa mempunyai badan yang bagus.


Setelah selesai membuat sarapan, Tasya pun naik ke kamarnya dan berniat membangunkan Hendra. Hendra sebenarnya tadi sudah bangun, tapi, setelah ia selesai melaksanakan ibadah shalat subuh, ia kembali melanjutkan tidurnya. Tasya menghampiri suaminya yang masih tertidur dan duduk disampingnya.


Tasya menatap wajah tampan Hendra yang sedang tertidur. Seketika rasa sejuk menyeruak didalam hatinya saat menatap wajah suaminya. Tasya tersenyum lalu mengecup kening Hendra. Hendra belum menunjukkan tanda-tanda terjaga dari tidurnya. Tasya tersenyum, kali ini dia ingin mencoba membangunkan Hendra tanpa mengeluarkan suara. Ia terus menciumi wajah suaminya berharap Hendra akan terbangun dengan cara itu, mengingat Hendra sangat mudah sekali terjaga dari tidurnya.


Sudah puluhan kali Tasya mencium Hendra. Mungkin seluruh bagian wajahnya sudah disentuh oleh bibir Tasya. Tapi tidak ada tanda-tanda terjaga yang ditunjukkan oleh Hendra. Tasya memutuskan untuk mandi saja, ia merasa tidak tega membangunkan Hendra yang tertidur dengan lelapnya. Ia berencana untuk membangunkan Hendra setelah ia selesai mandi nanti, pikir Tasya.


Baru saja Tasya melangkahkan kakinya hendak meninggalkan tempat tidur menuju kamar mandi, namun Hendra menarik sebelah tangannya seraya berkata,


"Mau kemana sayang? Kenapa berhenti?" tanya Hendra sambil mengangkat kepalanya dan menarik sebelah tangan Tasya dan membuatnya jatuh disampingnya.


Tasya tersentak kaget saat Hendra menarik tangannya. Ia pikir Hendra tadi tertidur nyenyak, ternyata cuma pura-pura tidur.


"Sayang ... kamu bikin aku kaget saja." ucap Tasya yang sekarang terbaring disamping Hendra.


Hendra tersenyum lalu memeluk istrinya.


"Kenapa berhenti sayang? Ayo lanjutkan yang tadi!" seru Hendra sambil mengangkat wajahnya minta dicium lagi.


"Sayang. Jadi, tadi kamu cuma pura-pura tidur?" tanya Tasya memastikan.


"Kalau iya kenapa?" tanya Hendra balik sambil tersenyum lalu mencium pipi Tasya.


"Sayang ih kamu curang." ucap Tasya sambil mencubit lengan Hendra.


"Memangnya tidak boleh? Hah." tanya Hendra dengan nada manja.


"Bukannya tidak boleh sayang. Boleh-boleh saja. Kamu itu kan suamiku, semua yang aku punya ini milikmu tanpa terkecuali nyawa yang aku punya." jelas Tasya.


"Benarkah sayang?" tanya Hendra.


Tasya menjawabnya dengan mengangguk.


"Mm kalau itu ... aku pikir, mungkin sebentar lagi. Saat ini, aku sedang berusaha untuk mencintaimu, sayang" ucap Tasya seraya menatap iris mata Hendra.


"Terima kasih sayang. Karena kamu mau berusaha untuk mencintaiku. Aku sangat mencintaimu, sayangku." ucap Hendra tersenyum lalu mencium kening Tasya dan memeluknya erat.


Hendra sebenarnya sudah pernah mendengar Tasya mengucapkan kata-kata itu saat menguping pembicaraan Tasya dan Dewi kemarin siang. Entah kenapa, ia merasa sangat bahagia sekaligus terharu mendengarkan kata-kata itu langsung dari mulut Tasya yang mengatakan langsung padanya.


"Kenapa berterima kasih sayang? Bukankah memang sudah seharusnya suami istri saling mencintai?" ujar Tasya.


"Tidak perlu kamu ucapkan lagi sayang. Tanpa kamu ucapkan pun aku sudah merasa sangat dicintai dan disayangi. Bagiku itu sudah lebih dari cukup." imbuh Tasya sambil menyentuh bibir Hendra dengan ibu jarinya.


Adengan romantis itu pun mereka tutup dengan ciuman panas, namun tidak berakhir dengan adegan 'kikuk-kikuk'. Karena Hendra masih harus berpuasa.


...----------------...


Pagi-pagi sekali Tania sudah meluncur ke rumah Radit. Seperti rencananya tadi malam, ia ingin mengambil smartphonenya sebelum Radit bangun. Tidak butuh waktu lama untuk dia sampai di kediaman keluarga Radit.


Terlihat Pak Rahmat sudah membuka sedikit pintu tokonya. Tania pun memarkirkan motornya lalu menghampiri Pak Rahmat dan menyapanya.


"Assalamu'alaikum Pak Rahmat." sapa Tania.


"Wa'alaikum salam. Eh Tania. Ada perlu apa datang kesini pagi-pagi sekali?" tanya Pak Rahmat.


"Begini pak, ... " Tania pun menjelaskan pada Pak Rahmat kalau dia tidak sengaja melupakan Handphonenya di mobil Radit tadi malam saat mereka kembali dari menyebar undangan pernikahan Tasya dan Hendra kemarin.


Pak Rahmat mengerti penjelasan Tania. Ia pun memanggil Bu Risna istrinya untuk membangunkan anaknya. Bu Risna pun masuk ke dalam kamar Radit dan membangunkan anaknya.


"Dit bangun nak." panggil Bu Risna sambil menggoyang-goyangkan badan Radit.


"Ada apa sih ma? Jangan ganggu ah. Radit masih mau tidur." ucap Radit dengan mata yang masih terpejam lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut karena tidak mau tidurnya diganggu.


"Bangun ... Tuh ada Tania dibawah. Katanya handphonenya ketinggalan di mobil kamu tadi malam." jelas Bu Risna.


Mendengar nama Tania, Radit langsung melek, seketika ia jadi lupa dengan rasa kantuknya. Radit tersenyum misterius dibalik selimutnya, tentunya tanpa sepengetahuan mamanya.


"Hehe. Sudah waktunya aku menjalankan rencanaku tadi malam." batin Radit.