How To Love You

How To Love You
Bab 213



Usai megantar kepergian Dokter Bram, Bu Melda kembali ke kamarnya dengan membawa satu mangkuk bubur dan satu gelas air diatas sebuah nampan berwarna coklat pekat. Ia membawanya sendiri tanpa bantuan ART karena ia ingin menunjukan betapa ia sangat menyayangi calon menantunya itu seperti anak sendiri.


Bu Melda merasa sangat senang sekaligus lega melihat Tantri akhirnya sudah sadar. Ia pun segera menghampiri Tantri dan Miko yang masih duduk disana. Ia meletakkan barang bawaannya di atas meja kemudian mengambil mangkuk yang berisi bubur yang di hiasi dengan suwiran ayam dan daun seledri sebagai topingnya. Ia lalu duduk disamping kanan Tantri.


"Sini Tante suapin, sayang," ucap Bu Melda pada Tantri.


"Biar aku saja, Ma," ucap Miko sambil menengadahkan tangannya meminta mangkuk bubur yang ada ditangan mamanya. Bu Melda memilih mengalah. Ia pun lalu menyerahkan mangkuk itu pada Miko.


"Ya sudah, kalau begitu Mama turun dulu. Mama ingin mengecek apakah pak Yadi sudah menebus resep obat dari dokter Bram atau belum," ujar Bu Melda lalu berdiri dari tempat duduknya. Setelah Bu Melda minggir dari tempatnya tadi, Miko pun segera mengambil tempat duduk disisi kanan Tantri dimana tadi mamanya sedang duduk.


"Ayo, buka mulutmu!" perintah Miko sambil mengarahkan satu sendok bubur ke arah mulut Tantri. Tantri pun menuruti perintah Miko untuk membuka mulutnya.


Sepertinya Miko benar-benar sangat menyayangi Tantri. Dia begitu perhatian padanya. Batin Bu Melda sambil tersenyum lalu beranjak keluar dari kamarnya meninggalkan Miko dan Tantri berdua disana.


"Emm, enak banget, Kak." ucap Tantri sambil mengacungkan kedua jari jempol setelah menelan bubur suapan pertama.


"Jelas enak, karena yang memasak bubur ini pasti chef Melda," jelas Miko.


"Oh, jadi Tante Melda itu seorang chef?" tanya Tantri.


"Iya. Apa aku belum pernah cerita?" jawab Miko balik bertanya.


"Nggak." jawab Tantri seraya menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, kamu pasti juga belum tau kalau papa juga seorang chef sama seperti mama." ujar Miko sambil mengarahkan sendok kedua ke mulut Tantri.


"Oh yah. Berarti keahlian, Kak Miko menurun dari mereka," tebak Tantri lalu memakan bubur suapan kedua.


"Tentu saja!"


"Oh iya, ngomong-ngomong kan, Kak Miko masih punya kakak laki-laki. Apakah kakaknya, Kak Miko itu juga seorang chef sama seperti, Kak Miko, om juga tante?" tanya Tantri kembali setelah menelan bubur yang ada didalam mulutnya.


"Tidak. Kak Ricko tidak tertarik dengan hal masak memasak. Dia lebih tertarik dengan bisnis. Sekarang dia membantu papa mengelola perusahaan," jelas Miko.


"Oh, begitu." ucap Tantri seraya manggut-manggut.


Miko pun kemudian menyuapi Tantri dengan sangat hati-hati. Kali ini mereka tidak ada yang bersuara lagi. Tantri menatap lekat wajah tampan seorang pria dewasa yang menyuapinya dengan penuh perhatian. Entah mengapa setelah ia perhatikan dari dekat, kadar ketampanan pria itu semakin bertambah. Tantri juga dibuat heran. Padahal sebelum-sebelumnya, ia tidak pernah menyadari hal tersebut.


Kak Miko kalo di perhatiin dari dekat ternyata sangat tampan. Wajahnya mulus tanpa pori, alisnya tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibirnya yang kemerah-merahan. Pasti karena dia nggak pernah ngerokok. Batin Tantri kagum pada ketampanan pria yang menyuapinya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Pertanyaan Miko sontak membuat Tantri tersedak.


"Uhuk-uhuk."


"Minum dulu," ucap Miko sambil memberikan segelas air minum pada Tantri.


"Kamu masih mau tetap disini atau mau kembali ke kamarmu?" tanya Miko pada Tantri yang sudah selesai dengan makanannya.


"Aku mau balik ke kamar aja, Kak. Aku mau istirahat," jawab Tantri.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo, sini aku bantu," ucap Miko.


"Nggak usah, Kak. Aku masih kuat kok," tolak Tantri.


"Beneran nih? Jangan sampai kamu jatuh terus pingsan lagi. Bisa gawat, kan? Begini saja, kamu berjalan sambil berpegangan dilenganku," putus Miko sembari mengangkat sedikit ketiaknya. Tantri menurut. Gadis itu pun melingkarkan tangannya memeluk lengan Miko.


Sesampainya dikamarnya, Tantri pun kemudian duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Sedangkan Miko duduk di tepi tempat tidur tidak jauh darinya.


"Selama 3 hari ke depan kamu tidak perlu ke restoran dulu, kamu istirahat saja dulu di rumah sampai kamu benar-benar sehat," jelas Miko.


"Loh, kenapa begitu, Kak? Aku kan baik-baik aja," tanya Tantri.


"Tri, kamu menurut saja apa kataku. Kamu sudah liat sendiri, kan akibatnya kalau kamu tidak menurut," ujar Miko.


"Ck, aku baru tau. Ternyata, Kak Miko itu cerewetnya sama kayak ibu-ibu," ucap Tantri seraya berdecak.


"Terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas, aku melakukan semua ini demi kebaikan kamu," jelas Miko.


Ceklek. Suara pintu kamar terbuka.


"Ternyata kalian disini. Mama mencari kalian dikamar, rupanya kalian sudah pindah kesini," ucap Bu Melda. Ternyata yang datang adalah wanita paruh baya itu. Wanita paruh baya itu pun segera menghampiri Miko dan Tantri yang duduk di atas ranjang. Ia juga mengambil tempat duduk disamping Tantri.


"Bagaimana perasaanmu, sayang?" tanya Bu Melda sembari meletakkan punggung tangannya di kening Tantri.


"Udah baikan kok, Tante." jawab Tantri.


"Syukurlah." ucap Bu Melda sembari mengulas senyum kelegaan di wajahnya.


"Mik! Bisa tinggalkan kami sebentar? Mama ingin bicara sebentar pada Tantri," ujar Bu Melda pada anaknya. Miko menatap Tantri dan mamanya sejenak secara bergantian. Setelah itu, ia beranjak keluar dari kamar itu.


Setelah melihat Miko keluar dari kamar itu, Bu Melda pun kemudian memulai pembicaraannya dengan gadis yang ia pilih untuk menjadi calon menantunya itu.


"Sayang, Tante minta maaf karena telah membuat kamu shock tadi," ucap Bu Melda seraya menyentuh punggung tangan Tantri dengan lembut. Sementara Tantri membalasnya dengan senyum dipaksakan.


"Kalau Tante boleh tau, kenapa kamu bisa sampai pingsan tadi? Apa karena kamu tidak menyukai anak Tante?" tanya Bu Melda sambil menatap lekat wajah gadis itu.


Aduh, aku harus menjawab apa? Aku bukannya tidak menyukai kak Miko. Tapi aku juga tidak mencintainya. Aku hanya menganggap kak Miko seperti kak Tama. Batin Tantri kebingungan. Cukup lama gadis itu terdiam dan tidak menjawab pertanyaan bu Melda.


"Kenapa kamu diam? Apa karena kamu benar-benar tidak menyukai Miko putra Tante?" tanya Bu Melda kembali mengulang pertanyaannya.