How To Love You

How To Love You
Panggil Aku, Sayang



"Kenapa lama sekali?" Hendra sudah tidak sabar.


"Saya 'kan malu, Kak."


"Ya sudah, kalau kamu malu biar aku saja."


Dengan cepat Hendra memegang tengkuk dan menarik kepala istrinya. Setelah itu dia langsung menciumi bi8ir Tasya dan menghis4pnya dengan lembut.


Tasya terkejut dengan perlakuan Hendra. Ini pertama kalinya dia bercium4n, dan tentu saja masih kaku dan belum tahu cara mengatur napas.


Setelah mereka bercium4n selama setengah menit, Tasya pun mendorong tubuh Hendra.


"Kenapa kamu mendorongku, Sayang?" tanya Hendra.


"Saya gak bisa bernapas, Kak," jawab Tasya dengan napas tersenggal.


Hendra tersenyum. Dia mengecup kening istrinya dengan lembut lalu berkata, "Kamu sudah boleh bangun, Sayang."


Mendapat ijin dari Hendra, Tasya buru-buru bangkit dari posisi berbaringnya. Usai menyisir dan menguncir rambut panjangnya di depan cermin, dia buru-buru keluar dari kamar menuju dapur.


Sesampainya di dapur, Tasya langsung mengambil gelas bersih lalu mengisinya dengan air hingga penuh.


Selamaaat ... aku selamat. Batin Tasya setelah menghabiskan air minumnya.


Jantungku hampir aja copot. Kenapa dia menciumku seperti itu sih? Apa dia mau membunuhku? Aku bahkan sulit untuk bernapas. Batinnya sambil memegangi bibirnya.


Ah sudahlah, gak usah dipikirkan. Sebentar lagi masuk waktu subuh, aku harus cepat-cepat memasak.


Selang beberapa waktu, bu Indah terbangun dan berjalan menuju dapur. Dia merasa heran mendapati putrinya sudah bangun lebih dulu darinya dan sudah selesai memasak nasi.


"Loh kamu sudah bangun, Tasya?"


"Memangnya kenapa, Bu? Bukankah biasanya Tasya memang bangun jam segini."


Tasya merasa kebingungan mendengar pertanyaan istrinya.


"Iya, Ibu tahu, Nak. Tapi sekarang 'kan kamu sudah menikah, apa suamimu mengijinkan kamu untuk bangun jam segini?"


"Ibu bicara apa sih? Tasya gak ngerti." Tasya tambah bingung.


Bu Indah hanya menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang balik bertanya saat ditanyai.


"Bu, Tasya ambil air wudhu dulu ya, sudah masuk waktu subuh."


"Kenapa tidak mandi dulu?" tanya Bu Indah.


"Hah? Mandi? Ibu kok jadi aneh begini sih." Tasya semakin bingung mendengar pernyataan ibunya.


Bu Indah kembali geleng-geleng kepala melihat tingkah polos anaknya.


"Nak, jangan pernah menolak kalau suamimu meminta haknya. Jika dia tidak ridho, maka para malaikat akan melaknatmu sampai pagi," pesan Bu Indah lalu berlalu meninggalkan anaknya.


Apakah omongan ibu sedari tadi sedang menjurus 'kesitu'?Ah sudahlah, toh kak Hendra juga belum pernah minta, jadi aku gak perlu khawatir dilaknat malaikat semalaman.


Tasya alu berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah selesai mengambil air wudhu, Tasya segera kembali ke kamarnya. Dia membuka dan menutup pintu kamarnya dengan pelan, takut membangunkan suaminya.


"Kenapa kamu mengendap-ngendap?" tanya Hendra.


Tasya sedikit terkejut. Dia mengira kalau suaminya masih tertidur. Ternyata saat itu Hendra sudah siap dengan sarung dan kemeja lengan pendek berwarna putih miliknya.


"Tentu saja tidak, Sayang. Oh iya, kita shalat subuh berjamaah, tunggu aku, aku ingin keluar mengambil air wudhu dulu sebentar," kata Hendra lalu berjalan keluar dari kamar.


Di dalam kamar Tasya tidak ada kamar mandi, dan di dalam rumah itu hanya ada satu kamar mandi yang dipakai bersama. Maklumlah, rata-rata rumah orang di desa memang seperti itu. Jauh berbeda dengan rumah orang-orang di kota.


...---------------...


Usai shalat subuh berjamaah.


"Sayang, kemasi barang-barangmu nanti. Tapi yang penting-penting saja dan jangan banyak-banyak. Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu di rumah kita. Pagi ini kita akan berangkat ke sana," ujar Hendra.


"Baik, Kak."


"Oh iya, mulai sekarang panggil aku Sayang, jangan kakak lagi, kita ini 'kan sudah menikah."


Mendengar permintaan Hendra, Tasya merasa agak ragu-ragu memenuhi permintaan suaminya itu.


Gimana ini? Apakah aku benar-benar gak boleh membantah perintahnya sedikit pun? Tapi pesan ibu aku gak boleh membangkang selama dia gak menyuruh aku bermaksiat. Tapi aku 'kan juga malu kalau harus memanggilnya dengan sebutan sayang, aku gak terbiasa sama sekali.


"Kenapa diam saja, Sayang? Sini dulu."


Hendra menepuk-nepuk kasur yang ada di sampingnya. Dia memanggil Tasya untuk duduk di sampingnya.


Apa yang ingin dia lakukan? Semoga aja dia gak minta 'itu' sekarang. Batin Tasya.


Tasya tidak punya pilihan lain selain hanya menuruti permintaan Hendra. Tanpa berkata apa pun, gadis itu segera berjalan mendekati suaminya dan duduk tepat pada tempat yang ditunjuk oleh suaminya itu.


Hendra tersenyum senang melihat istrinya mendekat. Dia lalu membuka kancing kemejanya satu per satu.


Dia mau apa sih sebenarnya? Kenapa pakai acara buka-buka baju segala?Jangan-jangan ....


Tasya membelalakkan matanya karena kaget sekaligus ketakutan. Dia berpikir kalau Hendra mau meminta haknya sebagai seorang suami detik ini juga.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku cuma mau minta dipijat. Badanku pegel." Hendra menanggalkan bajunya lalu terngkurap di atas tempat tidur.


Istriku yang polos, kamu lucu sekali. Hehe. Pasti dia berpikir aku mau meminta hakku padanya.


Hendra tersenyum karena berhasil mengerjai istrinya.


Tasya menarik napasnya lega. Syukurlah, bukan 'itu'.


"Bagian mana yang mau dipijat, Kak?" tanya Tasya pelan.


"Barusan aku bilang apa? Panggil aku apa?" kata Hendra memperingati.


Oh iya, aku lupa. Batin Tasya sambil menepuk jidatnya sendiri tanpa suara.


"Sa-sa-sayang, bagian mana yang mau dipijat?" ucapnya ragu-ragu sekaligus malu-malu.


Sebelumnya Tasya belum pernah memanggil seseorang dengan panggilan tersebut. Jadi dia merasa agak malu-malu dan canggung mengucapkannya.


"Ini sama ini," jawab Hendra menunjuk kedua bahunya.


Setelah beberapa bagian selesai dipijatnya, Hendra kemudian berbalik telentang. Ia meminta istrinya memijat lengan kirinya. Tasya merasa malu dan canggung ditatap terus menerus oleh Hendra. Gadis itu memijat suaminya sambil menunduk, dia merasa sangat malu jika harus bertatapan dengan suaminya itu.


Hendra tersenyum melihat ekspresi malu-malu istrinya. Tangan kanannya lalu membelai rambut panjang Tasya. Setelah itu tangannya beralih menyentuh pipi istrinya dan mengelus pipi mulus tersebut dengan lembut menggunakan ibu jarinya.