How To Love You

How To Love You
Bab 182



"Ma*pus kau!" seru Yuda lalu meluncurkan benda tajam itu ke arah punggung Radit. Mendengar seruan Si Yuda, Radit dan Tania membulatkan matanya kaget. Sontak saja mereka melihat ke arah sumber suara.


"AAAAAARGH!" teriak Radit sambil memejamkan matanya. Dipeluknya Tania erat-erat saat melihat pisau itu sedikit lagi mengenai bagian belakang tubuhnya. Ia tidak punya kesempatan lagi untuk menghindar.


"BRUK." Tubuh Yuda terpental dan jatuh mengenai dinding gubuk yang rapuh itu hingga roboh.


"Apakah aku sudah mati? Tapi kenapa aku nggak merasakan sakit sama sekali? Ataukah mati memang begini rasanya. Ternyata mati nggak semengerikan yang dipikirkan." batin Radit sambil masih memejamkan matanya keras-keras. Ia pikir dirinya sudah tewas ditangan Yuda.


"Aku nggak mau kehilangan kamu, Dit. Ayo kita mati bersama!" batin Tania sambil memeluk Radit dengan erat. Air matanya sampai keluar membayangkan hal tersebut.


"Radit!" panggil Miko. Namun Radit masih saja bertahan dengan posisinya begitu pula dengan Tania. Ternyata Miko yang telah menyelamatkan Radit tadi. Andai saja Miko tidak datang, pasti nama Radit tinggal kenangan. Beruntung lah karena Yang Maha Pelindung masih melindunginya lewat Miko.


"Hei, Radit, Tania!" panggil Miko lagi. Barulah keduanya membuka matanya perlahan-lahan.


"Kak Miko!" seru keduanya bersamaan saat melihat sosok Miko yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Tantri, sini! Bawa Tania keluar. Dan kamu Dit, bantu aku membereskan ba*****n ini." perintah Miko. Radit mengangguk mendengar perintah Miko. Setelah Tania dibawah keluar oleh Tantri barulah mereka berdua beraksi.


Setelah berhasil melumpuhkan Yuda, keduanya pun menyeret Si Yuda keluar dari gubuk itu. Betapa terkejut, marah dan geramnya Radit melihat gadis yang tengkurap ditanah dengan kedua kaki dan tangannya diikat dengan lakban dibelakang tubuhnya, serta mulutnya juga dilakban agar diam dan tidak meracau yang tidak jelas seperti tadi saat ia diseret oleh Miko keluar dari hutan.


"Nah, itu dia temannya, Dit. Sepertinya perempuan itu menderita gangguan jiwa, bahkan tadi tanganku sempat digigit saat dia berusaha kabur untuk yang kedua kalinya." jelas Miko.


"Dasar perempuan g*la!" umpat Radit. Ia tidak menyangka kalau Chelsea benar-benar serius dengan ancamannya waktu itu.


"Kamu kenal?" tanya Miko. Radit mengangguk. Ia pun kemudian menceritakan semuanya pada Miko.


"Dia benar-benar gila rupanya. Tantri! Sini lakban sama guntingnya." kata Miko.


"Siap, Kak." Tantri pun segera berlari kecil ke arah ketiga laki-laki itu sambil membawa apa yang diminta oleh Miko.


"Dit, itu Chelsea, Dit." ucap Tania sambil menangis. Ia tidak menyangka kalau pelakunya adalah sepupu Radit sendiri bersama Yuda, laki-laki yang pernah ia sukai sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


"Iya, sayang. Kamu tenang, yah. Sebentar lagi, Kak Hendra datang kesini bersama polisi. Ayo kita masuk kedalam mobil! Aku nggak mau orang lain melihat calon istriku dalam keadaan seperti ini." jelas Radit. Ia melihat baju Tania yang sobek dibagian dada serta rambut hitam indahnya yang tergerai cukup panjang dibalik punggungnya. Untung saja gadis itu mengenakan tank top sebagai dalaman, jadi belahan dadanya tidak sampai kelihatan. Mereka pun lalu masuk bersama kedalam mobil untuk sama-sama menenangkan diri.


Miko dan Tantri sedang menjaga kedua penculik itu agar tidak kabur lagi. Sebenarnya mustahil bagi keduanya untuk kabur karena mereka pasti kesulitan membuka lakban yang melilit berkali-kali di kaki dan tangan mereka.


"Kak Miko, tangannya kenapa? Kok berdarah," tanya Tantri sambil menarik tangan Miko untuk memeriksa lukanya.


"Ini tugas kamu nanti mengobatiku. Takutnya nanti aku terkena rabies." jawab Miko.


"Hah?! Kak Miko habis digigit anj*ng g*la. Dimana, apa di hutan tadi?" tanya Tantri sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Namun ia tidak menemukan hewan berbulu dan berkaki empat yang merupakan salah satu penyebab penyakit mematikan tersebut.


"Iya, aku habis digigit anj*ng g*la betina." jawab Miko.


"Tapi kok bekas gigitannya lebih mirip gigitan manusia sih, Kak." ucap Tantri bingung sambil terus memeriksa luka Miko.


"Iya, karena anj*ng g*la betinanya yang itu," jelas Miko sambil menunjuk Chelsea dengan dagunya.


"Ih, Kak Miko ngatain orang anj*ng. Nggak boleh tau." kata Tantri sambil memukul pelan lengan Miko. Miko hanya tertawa mendapatkan pukulan kecil dari Tantri.


Beberapa saat kemudian, Hendra beserta beberapa orang polisi akhirnya sampai juga disana. Polisi-polisi itu segera menangkap para pelaku dan membawanya ke kantor polisi. Sedangkan Tania sebagai korban serta yang lainnya sebagai saksi juga ikut untuk dimintai keterangan.


Yuda dijerat kasus penculikan dan percobaan pemerkosaan. Sedangkan Chelsea dibawa ke rumah sakit jiwa karena gadis itu mendadak sakit jiwa sebelum sempat dimasukkan ke dalam sel tahanan.


Kedua orang tua Chelsea sangat terpukul dan kehilangan muka akibat dari kelakuan anak sulung mereka. Begitu juga dengan kedua orang tua Yuda. Mereka berempat meminta maaf mewakili anak-anak mereka kepada Tania, Radit beserta kedua orang tua mereka masing-masing.


Kedua orang tua Chelsea merasa sangat malu kepada Pak Rahmat dan Bu Risna. Mereka tidak menyangka kalau anak mereka berani berbuat seperti itu pada calon istri kakak sepupunya sendiri.