How To Love You

How To Love You
Bab 52



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


Tiba-tiba bel berbunyi, ting tong ting tong.


"Itu pasti mama sama papa." Ujar Hendra yang sudah duduk di meja makan.


"Tunggu sebentar aku bukain pintunya yah sayang." ujar Tasya lalu bergegas keluar membuka pintu.


Tidak lama kemudian, Tasya, Bu Arini dan Pak Gunawan masuk kedalam menuju meja makan.


"Ayo Pa, Ma. Silahkan duduk." ujar Tasya mempersilahkan kedua mertuanya duduk.


Mereka berempat duduk untuk makan bersama. Seperti biasa, Tasya mengambilkan makanan di piring Hendra dan Bu Arini mengambilkan makanan untuk Pak Gunawan. Setelah makanan siap di piring masing-masing. Hendra memimpin do'a sebelum makan, setelah berdo'a selesai mereka pun mulai menyantap makanannya tanpa ada yang bersuara sampai makannya selesai.


Hendra dan Papanya duduk diruang tengah sambil mengobrol. Sedangkan Tasya dan Bu Arini sedang membuat kue di dapur.


"Hend, apa daftar nama-nama tamu yang akan diundang ke pernikahan kamu sudah kamu serahkan pada pihak WO?" tanya Pak Gunawan.


"Sudah pa. Semuanya sudah beres. Tadi Hendra sudah menghubungi mereka katanya undangannya akan dikirim besok ke sini. Jadi tinggal menyebar undangannya dan menunggu hari H tiba." jawab Hendra.


"Baguslah kalau begitu. Papa senang mendengarnya." kata Pak Gunawan.


"Mm ... Hend. Papa harap istrimu secepatnya bisa segera hamil. Papa sama mamamu sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Apalagi kamu anak kami satu-satunya. Kamu harapan kami satu-satunya." ujar Pak Gunawan penuh harap.


"Papa sama mama tenang saja, jangan khawatir. Hendra sedang berusaha sekeras mungkin untuk membuatkan papa sama mama seorang cucu. Kalian bantulah kami dengan do'a. Semoga Allah secepatnya menitipkan kami sebuah amanah." ujar Hendra tersenyum pada papanya.


"Hahaha. Aamiin ... do'a kami menyertaimu nak." balas Pak Gunawan sambil menepuk-nepuk bahu anaknya.


Sementara itu Tasya dan Bu Arini yang sedang berada di dapur.


"Tasya. Kuenya udah mateng tuh." ujar Bu Arini sambil menunjuk oven. Ia lalu memasukkan adonan kedalam loyang yang sudah di olesi mentega dan tepung.


"Oh iya ma, bener, kuenya sudah matang." Tasya segera membuka oven dan mengangkat keluar loyang yang berisi kue dan meletakkan di meja.


"Ini sayang, masih ada." ujar Bu Arini seraya memberikan loyang yang berisi adonan kue untuk dimasukkan kedalam oven.


"Eh, iya ma." jawab Tasya. Lalu mengambil loyang itu lalu memasukkannya kedalam oven.


"Apa kamu sama Hendra sudah pernah ke rumah orang tuamu setelah kalian menikah?" tanya Bu Arini.


"Belum ma. Tapi rencananya nanti sore aku sama kak Hendra mau kesana. Sekalian bawa kue buat mereka." jawab Tasya.


"Baguslah kalau begitu. Oh iya sekali-kali ajak anggota keluargamu datang kemari. Sekarang rumah ini sudah menjadi milik kamu juga. Kamu bisa mengajak siapapun kesini selama suamimu tidak keberatan." jelas Bu Arini.


Bu Arini memotong-motong kue bolu yang sudah matang tadi lalu membawanya ke ruang tengah dimana Hendra dan Pak Gunawan berada. Disusul Tasya yang membawa nampan berisi 2 cangkir kopi dan 2 gelas minuman rasa jeruk. Mereka pun lalu duduk bersama di sofa sambil menikmati kue bolu bikinan Tasya.


"Emm ... Enak." ujar Pak Gunawan setelah mengunyah kuenya.


"Iya pah, kuenya enak." sambung Hendra.


"Kuenya Tasya loh yang bikin. Mama tadi cuma bantu-bantu sedikit didapur." timpal Bu Arini.


Tasya hanya tersenyum mendengar pujian mereka.


"Wah benar-benar menantu papa memang hebat kerja didapur." puji Pak Gunawan.


"Dikasur juga pa." timpal Hendra sambil tersenyum menatap istrinya.


"Uhuk uhuk." Tasya tersedak mendengar ucapan suaminya. Tasya lalu mencubit pinggang Hendra yang duduk disampingnya karena malu. Wajah Tasya berubah jadi merona.


"Aduh duh sakit sayang." keluh Hendra.


Pak Gunawan dan Bu Arini tergelak melihat kelakuan anak dan menantunya.


"Hahaha." Pak Gunawan & Bu Arini.


...----------------...


Sore ini Tasya dan Hendra pergi mengunjungi kediaman keluarga Tasya. Pak Gunawan dan Bu Arini sudah pulang jam 1 siang tadi. Setelah hampir seminggu menikah, baru kali ini Tasya dan Hendra berkunjung kerumah Pak Rudi dan Bu Indah. Tasya sudah sangat merindukan seluruh anggota keluarganya. Bu Indah menyambut mereka dengan penuh suka cita.


"Bu, ayah kemana bu?" tanya Tasya yang sudah duduk di meja makan bersama Hendra dan Bu Indah.


"Ayahmu kan jam segini pergi ke sawah nak seperti biasanya." jawab Bu Indah seraya membuka kotak kue yang diberikan oleh Tasya tadi.


"Oh iya yah bu. Padahal aku kangen sama ayah. Oh iya kak Tama kapan pulangnya bu?" tanya Tasya lagi.


"Kakakmu balik ke Kota XX tidak lama setelah keberangkatanmu. Dan kalau kamu kangen, bermalam lah disini nak bersama suamimu. Ibu pikir nak Hendra juga tidak akan keberatan. Iya kan nak Hendra?" ujar Bu Indah pada anak dan menantunya.


"I iya bu. Tentu saja saya tidak keberatan." jawab Hendra sambil tersenyum.


"Tuh kan nak Hendra sudah setuju." ucap Bu Indah.


"Bukannya Tasya nggak mau bu. Tapi lusa Tasya UAS dan buku-buku yang mau Tasya pelajari semuanya ada rumah kami." jelas Tasya.


"Bu. Setelah Tasya selesai UAS nanti, Tasya janji akan bermalam disini bersama kak Hendra." imbuh Tasya sambil memegang tangan Bu Indah. Ia takut ibunya kecewa karena telah menolak ajakannya.


"Ibu mengerti nak." balas Bu Indah tersenyum sambil membalas genggaman tangan anaknya.