How To Love You

How To Love You
Bab 112



Pukul 20:30, Kamar Tania dan Tantri


H-1 acara, semua anggota keluarga dan kerabat dekat mempelai pria dan mempelai wanita sudah datang dari berbagai daerah. Termasuk Pak Rudi dan Tantri yang datang bersama Pak Rahmat, Rindi dan juga Dewi. Setelah Pak Rudi datang, Bu Indah pindah satu kamar dengan suaminya. Sedangkan Tania satu kamar dengan Tantri sekarang.


Tok tok tok!


Radit mengetuk pintuk kamar Tania. Tidak lama kemudian, Tania membukakan pintu dan muncul dihadapannya.


"Apakah Anda sudah siap, Nyonya Radit?" tanya Radit sambil tersenyum.


"Bisa aja kamu, Dit." jawab Tania malu-malu. Radit mengajaknya jalan-jalan ke taman malam ini.


"Mau jalan sekarang?" tanya Radit.


"He'em." jawab Tania mengangguk seraya menutup pintu.


"Tantri nggak ikut?" tanya Radit lagi.


"Dia katanya lagi capek, pengen istirahat," jawab Tania.


"Oh, yah udah kalo gitu. Ayo kita berangkat sekarang," ajak Radit. Mereka pun lalu berangkat ke taman.


Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di taman. Seperti sebelumnya, Radit membeli jagung bakar dan air mineral untuk menemani mereka berdua disana sembari menikmati indahnya suasana malam ini di taman tersebut.


"Sebelum kita pulang, ayo kita ke tempat ini sekali lagi," ajak Radit.


"Boleh. Tapi, kamu masih ada janji kan yang belum kamu tepati." ujar Tania mengingatkan Radit akan janjinya waktu itu yang katanya ingin membawa Tania ke suatu tempat yang romantis.


"Kamu tenang aja sayang, aku nggak lupa kok. Ayo kita kesana sehari sebelum kita kembali ke kampung," ujar Radit. Tania mengangguk setuju.


"Oh iya. Aku ingin nanya sesuatu sama kamu," imbuh Radit.


"Hmm apa?" tanya Tania lalu mengigit jagung bakar miliknya.


"Mm ... tapi, kamu harus jawab dengan jujur," tegas Radit.


" Yah udah apa? Ayo cepat katakan, Dit?" tanya Tania penasaran.


Radit diam sejenak seperti sedang berpikir.


"Nia. Sejauh ini kita menjalani hubungan kita, apa kamu ... juga sayang sama aku?" tanya Radit sambil menatap dalam kedua iris mata Tania.


"Gimana yah, Dit? Hm ... aku sih, kayaknya biasa aja tuh," jawab Tania santai.


"Beneran nih Nia? Kamu yakin biasa aja?" tanya Radit kurang percaya. Karena ia merasa akhir-akhir ini hubungan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia merasa Tania sudah seperti tidak terpaksa lagi menjalin hubungan dengannya. Apalagi setelah Tania memanggilnya dengan panggilan sayang waktu itu saat ia sedang sakit.


"Iya. Yakin, yakin banget malah," jawab Tania. Ia lalu membuang pandangannya ke arah jalan raya yang lalu lalang dengan kendaraan.


"Meskipun kamu nyuruh aku jujur, tapi aku nggak mau Dit. Nanti kalo aku jujur, bisa-bisa kamu jadi besar kepala dan berbuat seenaknya. Aku masih mau liat kamu usaha buat ngejar-ngejar aku." batin Tania.


Aku nggak percaya. Aku yakin, kamu pasti berbohong Nia. Kamu pasti nggak mau mengakui perasaan kamu yang sebenarnya ke aku. Hmm ... aku harus ngelakuin sesuatu cara untuk membuat kamu mengakui isi hatimu yang sebenarnya, Tania. Batin Radit.


"Oh iya, habis ini kita selfie bareng yuk," ajak Radit.


"Boleh," setuju Tania.


Setelah menghabiskan jagung bakar mereka masing-masing. Mereka pun lalu berselfie ria di tempat itu. Entah sudah berapa banyak hasil jepretan yang mereka ambil. Setelah dirasa cukup, mereka pun lalu memeriksa satu persatu foto mereka dan menghapus beberapa foto yang kurang bagus menurut mereka.


Radit dan Tania memperbesar foto mereka, mereka salah fokus pada sepasang kekasih yang sedang bermesraan di taman yang posisinya kurang lebih 20 meter dari tempat duduk mereka. Secara tidak sengaja, kedua orang itu ikut masuk dalam jepretan mereka. Tania dan Radit saling bertatapan, mereka merasa sedikit canggung melihat foto orang lain yang sedang berciuman yang tidak sengaja ikut tertangkap kamera handphone mereka. Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua, setelah cukup lama iris mata mereka bertemu, mereka malah cekikikan lalu saling menyalahkan.


"Kamu sih Dit, naro kameranya tinggi banget. Jadinya begini kan," kata Tania menyalahkan Radit.


"Kok aku sih Nia. Kan kamu sendiri yang nyuruh aku tadi buat ngambil gambar lope-lopenya sebagai background," ujar Radit membela diri dan tidak mau disalahkan.


"Kita hapus aja yah fotonya Dit, nggak enak diliat soalnya," ucap Tania.


"Jangan dong Nia. Aku udah susah payah tau buat ngambil foto sebagus itu," tolak Radit.


"Kita bisa ngambil gambarnya ulang, Dit. Kita hapus aja yah."


"Aku tetap nggak mau Nia. Kamu pikir ngambil gambar sebagus ini tuh gampang apa," kata Radit masih tetap menolak untuk menghapus fotonya.


"Mm ... Gimana yah? Oh iya, aku punya ide. Gimana kalau kita tutup aja gambar mereka pakai emot," usul Tania.


"Ide bagus. Kalo itu aku baru setuju."


Mereka pun lalu mulai mengedit foto tersebut, namun mereka berdua merasa ada yang sedikit janggal dengan foto itu. Mereka merasa seperti tidak asing dengan kedua orang tersebut.


"Tunggu dulu Dit, kok aku kayak kenal."


"Aku juga Nia. Kayaknya ceweknya benar-benar nggak asing buat aku."


"Kalo aku cowoknya," kata Tania.


Mereka pun lalu memperbesar foto itu untuk memastikan kecurigaan mereka benar atau tidak. Betapa kagetnya saat mereka teliti dengan jelas kalau kedua orang itu memang benar-benar orang yang sangat dekat dengan mereka.


"Ya ampun, Dit. Aku nggak salah liat, 'kan?" tanya Tania masih kurang percaya.


"Iya Nia, aku juga."


"Ayo kita cek kebenarannya. Siapa tau kita cuma salah orang," seru Radit.


"Iya, Dit. Ayo!" balas Tania antusias.


Mereka pun lalu berdiri lalu berbalik badan dan melihat ke arah sepasang kekasih tersebut yang ternyata masih duduk ditempatnya.


"Astaga, Dit. Itu benar Kak Tama," ucap Tania kaget sambil menutup mulutnya saat melihat kakak laki-lakinya yang sedang duduk dibelakang sana bersama seseorang yang ia kenal.


"Kak Tama, Dewi," ucap Radit tidak kalah kagetnya.


Mereka berdua pun saling bertatapan seolah-olah mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Selama ini, mereka tidak tau hubungan antara keduanya. Yang tahu hubungan antara Tama dan Dewi hanya Tasya seorang.