
3 Hari Kemudian
Niat hati ingin berbulan madu romantis di negeri orang. Apalah daya, Hendra malah tidak bisa menikmati bulan madunya dengan istri tercinta. Tasya dan Hendra memutuskan untuk kembali ke Indonesia di hari ke-4 mereka berbulan madu di Turki. Tadinya mereka berencana untuk berbulan madu selama 1 minggu atau bahkan lebih kalau mereka merasa cocok tinggal disana. Apalah daya, ini diluar dugaan mereka dan sangat tidak sesuai dengan rencana.
Tasya kasihan melihat suaminya yang begitu menderita. Hendra tidak bisa memakan makanan lain selain roti pide. Selama 3 hari Hendra hanya makan roti tersebut ditambah buah-buahan. Sangat berbeda dengan Tasya, sepertinya ia menyukai semua makanan yang berhasil ia jumpai di negara itu. Ia juga heran, kenapa ia tiba-tiba bisa doyan makan, berbanding terbalik dengan suaminya.
Bandara, Istanbul, Turkey
"Makasih yah, Wal sudah menemani kami selama kami disini." ujar Hendra pada Syawal.
"Iya, Kak sama-sama." balas Syawal.
"Makasih yah, Wal," lanjut Tasya.
"Iya, sama-sama." balas Syawal lagi.
"Oh iya, kalau kamu balik ke Indo, jalan-jalanlah ke Desa T. Disana pemandangannya bagus," ajak Hendra.
"Iya, Kak. In sha Allah, bulan depan aku libur. Rencananya aku mau balik ke Bogor. Akan aku usahakan nanti berkunjung ke rumah kalian," balas Syawal.
"Kita tunggu yah, Wal." ujar Tasya.
Syawal mengangguk sambil tersenyum.
"Kabari aku kalau kamu mau datang. Aku akan menjemputmu di bandara." ujar Hendra.
"Siap, Kak." balas Syawal.
1 Jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Tasya dan Hendra pun lepas landas meninggalkan Turki terbang menuju Indonesia.
***
Toko, Pukul 16:30
Pekerjaan Tania sudah selesai. Ia hanya menunggu waktu jam pulang tiba untuk ia meninggalkan tempat kerjanya bersama Dewi. Radit menghampiri Tania, ia ingin mengajaknya menjemput sepasang pengantin baru yang baru saja berbulan madu dari Turki.
"Nia, kamu mau ikut aku nggak?" tanya Radit.
"Ikut kemana?" ujar Tania balik bertanya.
"Jemput, Kak Hendra sama Kak Tasya di bandara." jawab Radit.
"Kapan?" tanya Tania.
"Entar abis maghrib," jawab Radit.
"Cuma kita berdua?" tanya Tania.
Radit mengangguk.
"Mm, gimana yah, Dit?" ujar Tania berpikir.
"Ayolah, sayang! Kamu ikut, yah, yah. Kamu temani aku," pinta Radit.
"Gimana yah, Dit. Besok kan aku kerja. Kalo aku ikut pasti nyampe rumahnya pagi, kan? Kan aku nggak punya waktu buat istirahat," ujar Tania.
"Niaaa, Nia. Kamu lupa, yang punya toko ini siapa?" ucap Radit sembari tersenyum.
"Yah enggaklah. Bukan gitu maksud aku, Dit. Aku kan disini baru kerja 3 hari, masa udah mau ijin aja sih," ujar Tania beralasan.
"Kalo soal itu kamu nggak usah khawatir. Tunggu aku entar malam jam setengah tujuh. Aku akan jemput kamu, sayang. Bye!" kata Radit.
Radit lalu berlari meninggalkan Tania. Ia tidak mau lagi mendengar alasan penolakan dari kekasihnya itu.
"Tapi, Dit," ucap Tania.
***
Kediaman Keluarga Pak Rudi, Pukul 18:25
"Tok, tok, tok."
"Assalamu'alaikum." sapa Radit.
"Wa'alaikum salam." jawab Bu Indah dari dalam lalu segera membuka pintu rumahnya.
"Eh, masuk dulu, Nak Radit. Tania masih siap-siap dikamarnya." ajak Bu Indah.
"Iya, Tante." kata Radit seraya masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
"Om Rudi kemana, Tante?" tanya Radit basa-basi.
"Baru aja berangkat ke jalan tani. Mau nungguin, Pak Gunawan nimbang gabah," jawab Bu Indah.
"Oh, lagi panen yah, Tante." ujar Radit.
"Iya." kata Bu Indah.
Tidak lama kemudian, Tania pun keluar setelah ia selesai bersiap-siap.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Radit pada Tania.
"Iya, Ayo!" jawab Tania.
Mereka pun lalu berangkat ke bandara menggunakan mobil Hendra.
Didalam Mobil
"Dit, emangnya kamu kuat nyetir pulang balik?" tanya Tania.
"Udah biasa sih. Nanti kalo aku capek, kan pulangnya bisa digantiin sama, Kak Hendra sebentar. Biasanya juga kayak gitu." jawab Radit.
"Oh, nanti mereka sampai di bandara jam berapa?" tanya Tania.
"Kayaknya jam 11 lewat." jawab Radit.
"Hah! Emangnya kita bisa sampai dibandara sebelum mereka datang? Biasanya kan perjalanan ke bandara butuh waktu 6 jam lebih," tanya Tania kurang yakin.
"Bisa lah, ini kan baru jam setengah tujuh." jawab Radit Yakin.
"Jangan bilang kamu mau ngebut!" seru Tania seraya menunjuk ke arah Radit.
Sebenarnya Tania merasa takut kalau Radit membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kamu tenang aja, sayang. Nggak usah takut. Kalo kamu takut, lebih baik kamu tidur sekarang," saran Radit.
"Hah! Kamu nyuruh aku tidur sekarang? Ini tuh baru jam berapa? Ini baru jam setengah tujuh, Radiiit. Kamu tau waktu nggak sih. Anak TK aja nggak ada yang tidur jam segini," cerocos Tania.
"Aku kan cuma kasih saran, Nia sayang. Jangan marah dong!"
"Tau begini aku tadi nggak usah ikut sama kamu." ucap Tania kesal.
"Nia, kalo kamu nggak ikut, kamu nggak takut apa pacarmu yang ganteng ini bakal diembat sama cewek seksi dijalan." goda Radit.
"Huh! Mana ada cewek seksi dijalanan jam segini. Paling yang ada cuma Wewek Gombel," balas Tania cemberut.
Radit tergelak mendengar ucapan Tania. Ia tidak menyangka pacarnya akan berpikiran sejauh itu.
"Nia, kamu nggak takut apa ngomong begituan jam segini? Didepan sana ada tempat angker tau."