How To Love You

How To Love You
Bab 61



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


Yah sudah. Tania, kamu bagaimana? Mau bareng sama Radit?" tanya Hendra pada Tania.


"Yah mau lah kak, masa cowok seganteng aku ini ditolak." potong Radit percaya diri.


"Idih ... pede banget." batin Tania.


Yang lain tertawa mendengar ucapan Radit. Namun tidak demikian dengan Tania. Ia tetap tenang lalu menjawab,


"Kalau aku sama siapa aja kak terserah." jawab Tania sambil sekilas melirik ke arah Radit. Radit hanya tersenyum penuh kemenangan melihatnya.


"Kalau gitu aku sekalian ambil daerah Kembangan dan sekitarnya Hend." sambung Andi.


"Terserah kalian saja. Ini ambil undangan sesuai daerah yang masing-masing tadi kalian pilih." kata Hendra. Sambil mendorong sebuah kardus besar berisi undangan.


Setelah mengambil bagiannya masing-masing. Mereka pun berangkat berpasang-pasangan menggunakan mobil. Selain Radit, Andi juga tadi datang menggunakan mobilnya. Dewa dan Dewi yang tadinya datang mengendarai motor, sekarang berangkat menggunakan mobil Hendra. Karena tidak mungkin mereka berangkat menyebar undangan menggunakan motor. Mengingat matahari yang sangat terik siap menggosongkan kulit siapa saja yang berlama-lama dibawah sinarnya. Mana lagi kalau hujan turun secara tiba-tiba tanpa meminta persetujuan siapapun.


Setelah semuanya berangkat, tinggallah Tasya dan Hendra berdua di rumah. Mereka berdua masih duduk berdampingan diatas permadani.


"Sayang. Seharusnya kita juga ikut menyebar undangannya." kata Tasya yang duduk disamping Hendra.


"Jangan sayang. Lebih baik kamu fokus belajar dulu untuk UASmu besok. Lagipula pestanya juga masih agak lama. Nanti setelah kamu selesai ujian baru kita ikut menyebar undangan. Yah." balas Hendra sambil merangkul pinggang Tasya mesra.


"Yah sudah. Aku ke kamar belajar dulu yah sayang." pamit Tasya.


"Iya sayang. Kamu naiklah. Aku masih mau menghubungi beberapa orang yang bisa membantu kita menyebar undangannya." jelas Hendra seraya melepas tangannya.


"Kalau begitu aku naik dulu yah sayang." kata Tasya seraya berdiri.


Hendra menarik tangan Tasya yang hendak beranjak meninggalkannya.


"Sayang. Cium dulu dong." Hendra mengangkat wajahnya.


Tasya tersenyum mendengar permintaan suaminya. Ia kemudian menunduk memegang kepala Hendra dengan kedua tangannya lalu mencium pipi kiri, kanan, kening dan terakhir bibir Hendra.


Hendra tersenyum misterius melihat Tasya yang sudah berdiri membelakangi dirinya hendak melangkah menuju tangga. Ia lalu menarik sebelah tangan Tasya sembari membaringkan tubuhnya sendiri diatas karpet.


"Bruk." Tasya terjatuh menindih badan Hendra.


"Aaah. Aduh. Sayang apa yang kamu lakukan? Kenapa menarikku?" tanya Tasya yang berusaha bangun dari posisinya.


Hendra tersenyum senang melihat istrinya yang sudah jatuh dipelukannya. Ia menahan badan Tasya dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Tasya dan menahannya agar tidak bangun.


"Sayang. Lepaskan!" seru Tasya berusaha meloloskan diri.


"Jangan memberontak. Aku hanya ingin bermesraan denganmu sebentar. Sayangku." ucap Hendra sambil memindahkan sebelah tangannya menahan tengkuk Tasya, sebelah tangannya masih melingkar di punggung Tasya.


"Sayang. Bukankah kamu sudah mendapatkannya barusan." kata Tasya.


"Ting tong." Tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi.


"Aish. Siapa sih ganggu aja?" gerutu Hendra kesal.


"Cup." Hendra lalu mencium bibir Tasya dengan cepat lalu melepaskannya.


"Sayang. Kamu naiklah ke kamar dan belajar. Aku mau buka pintunya dulu. Kira-kira siapa yah yang datang? Padahal tadi aku belum menelpon siapapun." Hendra melepaskan tangannya yang menahan Tasya tadi.


Tasya pun berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Sedangkan Hendra keluar membuka pintu.


***


Radit dan Tania masih dalam perjalanan. Untuk sampai ditempat tujuan, mereka harus menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam. Radit melirik Tania yang diam saja sedari tadi sambil menyetir. Radit memulai pembicaraan.


"Kok diam aja? Ngobrol dong." seru Radit mencoba memecah keheningan diantara mereka.


"Aku nggak tau mau ngomongin apa sama kamu." balas Tania.


"Yah. Kamu nanya kek gitu sama aku. Aku kuliah dimana, udah punya pacar apa belum dan bla bla bla terserah kamu." lanjut Radit sambil tersenyum melihat Tania yang masih menatap lurus kedepan dari tadi.


"Ngapain. Nggak penting amat." ucap Tania ketus.


"Jangan ketus begitu. Aku suka loh cewek yang ketus." goda Radit.


Tania terdiam. Ia malas menanggapi ucapan Radit barusan.


"Kamu mau kuliah dimana nanti setelah lulus?" tanya Radit.


"Aku belum tahu. Mungkin aku mau nyari kerjaan dulu kali yah. Kayak Kak Tasya dulu." jawab Tania.


"Kerja? Kenapa nggak lanjut aja? Kerja kan bisa nanti setelah lulus kuliah." tanya Radit sambil sesekali menoleh kearah Tania.


"Maunya sih gitu. Tapi kamu tahu sendiri kan keadaan perekonomian keluargaku bagaimana. Aku tidak mau kedua orang tuaku terbebani karena keinginanku. Sedangkan orang tuaku masih harus membiayai sekolah Tantri yang tidak lama lagi keluar PKL. Dan itu membutuhkan biaya yang cukup besar bagi orang yang perekonomiannya seperti kami." jelas Tania.


"Kenapa nggak minta bantuan kakak ipar kamu aja. Kak Hendra itu banyak duitnya loh." ucap Radit.


"Yah malu lah. Masa mau minta bantuan Kak Hendra. Emang aku siapanya?" balas Tania.


"Kamu kan adik iparnya. Emang salah yah kalau kamu minta bantuan sama dia. Lagian buat apa juga kamu harus malu. Pasti kamu belum tahu aja yah Kak Hendra itu sekaya apa. Membiayai kuliah kamu hingga selesai itu nggak seberapa buat dia. Harga smartphonenya aja bisa buat membiayai kuliah kamu selama kurang lebih 2 tahun." jelas Radit.


"Hah? Emang ada handphone semahal itu?" tanya Tania kaget dan kurang percaya.


"Yah ada lah. Buktinya Kak Hendra punya." jawab Radit.


"Nggak percaya." balas Tania.


"Hm nih anak. Mungkin kalau aku bilang aku suka sama dia dari dulu kayaknya dia juga nggak bakalan percaya deh." gumam Radit sambil menatap lurus ke depan.