How To Love You

How To Love You
Bab 75



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


"Tadinya mama pikir Radit itu nggak normal. Soalnya temennya cowok semua. Nggak pernah dia bawa teman cewek ke rumah." jelas Bu Risna.


"Mama ih. Bikin malu aja." ucap Radit kesal.


Tania hanya bisa mengulum tawanya mendengar ucapan Bu Risna. Sesekali ia melirik ke arah Radit. Tania tidak menyangka kalau itu alasan Bu Risna berharap anaknya punya pacar.


Radit menyadari kalau Tania sedang menertawakannya. Ia pun mencolek kaki Tania dengan kakinya. Tania terkejut, ia tahu kalau Radit menggunakan kakinya untuk mencolek kakinya.


"Ck. Aku punya ide." batin Tania. Ia lalu membalas mencolek Radit dengan kakinya.


Radit tersenyum senang karena Tania membalasnya. Setelah kaki Radit sudah berada dibawah kaki Tania. Tania pun berdiri dan menginjak kaki Radit keras-keras.


"Rasakan itu. Hahaha. Emang enak." batin Tania sambil berdiri dan pura-pura mau mengambil air minum.


Radit menggigit bibirnya menahan sakit dikakinya. Ia juga tidak mau bersuara, takut mama dan papanya curiga.


"Loh kenapa nggak bilang Tania. Biar tante yang ngambilin." ujar Bu Risna.


"Nggak apa-apa tante biar Tania aja." balas Tania lalu kembali duduk setelah mengambil segelas air.


Radit lega setelah Tania berhenti menginjak kakinya.


"Apa kalian benar-benar pacaran?" tanya Pak Rahmat penasaran.


Tania melirik Radit, ia enggan untuk menjawab karena ia menjadi pacar Radit karena terpaksa.


"Iya pa. Aku sama Tania pacaran." jawab Radit santai.


"Papa sama mama tidak melarang kalian pacaran. Tapi kalian harus ingat. Kalian harus menjaga nama baik keluarga. Jangan sampai kalian mencoreng nama baik keluarga." pesan Pak Rahmat pada Radit dan Tania.


"Mama setuju." sambung Bu Risna.


"Iya pa. Kami janji nggak bakal bikin malu keluarga." jawab Radit sambil sesekali melirik ke arah Tania.


"Kami para orang tua, papa, mama, Rudi dan juga Indah sudah memiliki hubungan baik sedari dulu. Kami sangat akrab satu sama lain. Apalagi sekarang om kamu, Gunawan, adik papa, sudah berbesan dengan orang tua Tania. Jadi hubungan kami semakin erat. Ditambah lagi kamu dengan Tania." jelas Pak Rahmat.


"Apa ini artinya orang tua Radit merestui hubungan kami? Kenapa cepat sekali? Om, tante, Tania akan sangat berterima kasih kalau kalian tidak menerimaku di keluarga kalian. Hiks. Kenapa nasibku apes begini sih?" batin Tania sedih.


"Radit sangat senang karena papa sama mama merestui hubungan kami. Terima kasih pa, ma." ujar Radit senang sekaligus bahagia. Meskipun sebenarnya ia sadar kalau Tania hanya terpaksa menjadi pacarnya. Tapi ia ingin berusaha membuat Tania menyukainya.


"Tania. Kamu mau lanjut di universitas mana?" tanya Bu Risna.


"Belum tante. Saya mau nyari kerjaan dulu. Mau ngikutin jejak Kak Tasya." jawab Tania sambil tersenyum.


"Ide bagus tuh pa. Kamu kerja disini aja yah. Kakak kamu dulu kan kerja disini juga sebelum kuliah." timpal Bu Risna.


"Mm ... gimana yah om, tante?" Tania semakin bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Pak Rahmat dan Bu Indah sungguh sangat baik padanya.


"Udah. Kamu kerja di toko aja yah sayang. Nggak usah di tempat lain." sambung Radit.


"Asyik. Kalau kamu kerja disini. Aku pasti bisa ketemu kamu tiap hari, Niaku sayang." batin Radit.


"Betul kata Radit. Kamu kerja disini aja yah. Soal gaji kamu tidak perlu khawatir. Spesial gaji calon mantu, kami kasih 2 kali lipat dari karyawan biasanya." kata Bu Risna tersenyum.


"Hahaha. Betul betul betul. Itu tidak jadi masalah buat kami." lanjut Pak Rahmat.


"Ayolah sayang. Kamu kerja di toko aja yah. Yah." bujuk Radit. Ia sangat berharap Tania mau menerima tawaran orang tuanya.


"Mm ... baiklah om, tante. Saya menerima tawarannya." ucap Tania sambil mengangguk sopan pada kedua orang tua Radit.


"Yaa Allah, kenapa aku bisa terjebak diantara anak dan kedua orang tuanya sih? Aku juga nggak bisa menolak tawaran mereka. Selain karena aku memang sedang butuh pekerjaan, mereka juga sangat baik dan mau menggajiku dua kali lipat dibandingkan dengan karyawan yang lainnya. Ini juga kesempatan baik untukku agar aku bisa melanjutkan studiku tahun depan. Demi masa depanku yang cemerlang dimasa mendatang. Tak apalah kalau aku mengorbankan perasaanku." batin Tania.


...----------------...


Jam pulang kampus, Hendra sudah menunggu Tasya di parkiran. Hendra melihat Tasya dari kejauhan sedang berjalan keluar bersama teman-temannya. Setelah sampai di parkiran mereka pun berpisah. Tasya segera berjalan menuju mobil Hendra. Hendra melambaikan tangan sambil tersenyum manis pada istrinya. Tasya membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manisnya.


Sesampainya Tasya di dalam mobil.


"Sudah dari tadi yah sayang?" tanya Tasya lalu mencium kedua pipi, kening dan bibir Hendra.


"Hm." gumam Hendra sambil tersenyum.


"Sudah makan sayang?" tanya Tasya.


"Belum sayang. Aku tidak bisa makan kalau tidak ada kamu." jawab Hendra seraya memakaikan safety belt pada Tasya. Ia lalu mengecup pipi istrinya dan tersenyum dengan mata berbinar.


"Yah ampun sayang ... sampai segitunya. Nanti kamu bisa sakit loh kalau kamu telat makan." ujar Tasya khawatir.


"Tidak apa-apa. Kan ada kamu yang merawatku." Hendra berkata dengan entengnya. Tasya hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya.


"Sayang. Cari tempat makan yuk! Aku juga lapar nih." ajak Tasya.


"Baik Tuan Putri." balas Hendra tersenyum lalu melajukan mobilnya.


Tasya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia lalu mencubit pipi Hendra karena gemas.


Setelah sampai disebuah restoran. Hendra segera memarkirkan mobilnya. Setelah itu, mereka masuk sambil bergandengan tangan seperti mau menyeberang. Karena mereka datang saat jam istirahat, restoran itu pun jadi ramai karena banyak pengunjung yang datang untuk makan siang. Karena tidak banyak kursi yang kosong, Hendra pun memilih tempat duduk yang tidak jauh dari pintu masuk. Mereka pun lalu memesan makanan dan minuman untuk santapan siang mereka.