
Tasya hanya menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa sangat senang, bahagia, sekaligus terharu mendapat kejutan romantis dari suaminya.
"Apa kamu suka, sayang?" tanya Hendra seraya menenggerkan dagunya dibahu istrinya.
Tasya hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.
"Ayo masuk!" ajak Hendra seraya melepas pelukannya lalu menggandeng tangan istrinya untuk menuntunnya masuk kedalam.
Hendra lalu menuntun istrinya untuk duduk dipinggir tempat tidur.
"Sayang, sejak kapan semua bunga-bunga ini ada disini? Perasaan tadi pagi tidak ada apa-apa disini."
Hendra hanya tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. Ia lalu menunjuk sebuah kotak hadiah berwarna merah berhiaskan pita merah muda yang tergeletak diatas tempat tidur tersebut.
"Sayang, ambillah! Didalamnya ada hadiah kecil pernikahan kita," ujar Hendra seraya menunjuk kotak merah itu.
"Apa ini, sayang?" tanya Tasya penasaran sembari meraih kotak itu.
"Bukalah! Kalau kamu mau tau apa isinya." jawab Hendra.
Karena penasaran Tasya pun akhirnya membuka kotak itu dan mendapati dua buah tiket pesawat didalamnya. Tasya menatap suaminya penuh tanya. Setelah ia teliti dengan jelas tempat tujuan yang tertulis di tiket itu.
"Turki? Kita berdua mau ke Turki, sayang?" tanya Tasya.
"Iya, sayang. Ayo kita bulan madu disana!" jawab Hendra seraya memeluk istrinya.
"Bulan madu?" tanya Tasya yang masih belum percaya juga.
Hendra mengangguk lalu mencium pipi istrinya.
"Aku tidak sedang bermimpi kan, sayang?" tanya Tasya tidak meyangka seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya.
"Tentu saja tidak, sayang. Apa kamu suka tempatnya?" tanya Hendra sembari tersenyum.
"Tentu saja!" seru Tasya bersemangat.
Tasya merasa sangat senang sekali karena sebentar lagi ia akan ke luar negeri untuk pertama kalinya.
"Sayang, aku masih punya kejutan satu lagi. Sangat sayang kalau kita sampai melewatkannya." ujar Hendra.
"Kejutan apalagi, sayang?" tanya Tasya penasaran.
"Ayo!" ajak Hendra seraya menarik tangan istrinya berjalan ke arah kamar mandi.
"Tidak salah, sayang. Ini, kan kamar mandi? Ada kejutan apa didalam sana?" tanya Tasya bingung sekaligus penasaran.
"Kamu lihat saja sendiri." jawab Hendra seraya membuka pintu kamar mandi.
οΏΌ
"Wow! Cantik sekali. Siapa yang membuat semua ini?"
Tasya sangat takjub melihat bathup yang ada didalam kamar mandi tersebut.
"Sayang, ayo kita mandi bareng!" ajak Hendra berbisik didekat telinga istrinya.
Tasya tidak menjawab apa-apa. Seketika wajahnya merona mendengar ajakan suaminya. Hendra kemudian membantu istrinya melepas hijabnya lalu setelah itu membantu menurunkan ritsleting gaun pengantinnya dan membantu melepas semuanya. Hingga yang tersisa hanya dalaman. Hendra tersenyum nakal melihat penampilan istrinya yang hampir polos tersebut sembari ia juga ikut melepas pakaiannya sendiri satu per satu hingga yang tersisa hanya boxernya saja.
Hendra lalu menggendong istrinya masuk kedalam kamar mandi ala bridal style. Pelan-pelan ia menceburkan tubuh istrinya kedalam bathup, setelah itu ia juga ikutan masuk. Mereka pun lalu mandi romantis berdua hingga yang terjadi selanjutnya hanya mereka berdua yang tahu.
***
Kamar Pak Rudi dan Bu Indah
"Tok tok tok." Seseorang mengetuk kamar mereka.
Bu Indah lalu segera beranjak membukakan pintu.
"Eh, Nak Miko! Mari, silahkan masuk!" ajak Bu Indah.
"Makasih, Tante!" balas Miko.
Miko pun lalu segera masuk kedalam. Ia mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia mencari sosok Pak Rudi didalam sana. Ia ingin melakukan pendekatan dengan kedua orang tua Tania dan anggota keluarga Tania yang lainnya.
"Om kemana, Tante?" tanya Miko setelah duduk di sofa.
"Oh, lagi di kamar mandi, Nak Miko. Mungkin sebentar lagi keluar." jawab Bu Indah.
"Oh, iya tante."
"Tok tok tok."
"Siapa lagi, yah yang datang?" tanya Bu Indah lalu segera beranjak membukakan pintu.
"Eh kalian rupanya. Ayo masuk!" ajak Bu Indah pada Radit, Tania, dan Tantri.
"Eh, ada orang." ucap Tantri saat melihat Miko duduk didalam sana karena ia yang masuk duluan.
"Tantri!" ucap Tantri seraya membalas uluran tangan Miko.
Mengetahui Miko ada didalam sana, Radit jadi malas untuk masuk.
"Aku pulang aja, yah." bisik Radit pada Tania.
"Jangan!" ucap Tania.
Tania mengerti ketidak nyamanan Radit saat itu. Ia lalu menggenggam tangan Radit erat-erat seraya menariknya masuk.
Dengan langkah malas Radit mengikuti langkah Tania. Mereka lalu duduk bersama dibibir tempat tidur.
"Ayah kemana, Bu?" tanya Tania.
"Lagi mandi." jawab Bu Indah seraya meletakkan beberapa teh kotak dan kue kering dimeja.
"Nggak usah repot-repot, Tante." ucap Miko.
"Tidak kok, Nak Miko. Silahkan!" seru Bu Indah mempersilahkan tamunya mencicipi jamuannya yang ala kadarnya.
"Makasih, Tante!" balas Miko.
"Nak Radit, sini duduk disamping, Nak Miko." ujar Bu Indah.
Radit dan Tania saling berpandangan. Radit sedikit menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju. Tania hanya membalasnya dengan anggukan kecil.
"Disini aja, Tante." balas Radit.
"Loh, kenapa? Teh sama kuenya ada disini loh." kata Bu Indah.
"Nggak apa-apa kok, Tante. Nanti, Radit ambil sendiri kalo mau." jelas Radit.
Sebenarnya Radit tidak mau karena melihat wajah Miko saja dia malas. Apalagi kalau harus duduk di sofa yang sama dengannya.
"Yah sudah kalau begitu." ucap Bu Indah.
Tidak lama kemudian Pak Rudi pun keluar dari kamar mandi. Ia baru saja selesai mandi.
"Eh, banyak orang rupanya." kata Pak Rudi seraya menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk.
"Selamat malam, Om. Perkenalkan saya, Miko sahabatnya, Hendra." ujar Miko seraya berdiri memperkenalkan diri.
"Oh, jadi kamu yang namanya, Miko. Silahkan duduk! Om pernah mendengar cerita tentang kamu dari, Ibu." seru Pak Rudi seraya menghampiri tamunya.
"Elah, pasti dia mau nyari muka sama, Tante Indah dan Om Rudi. Makanya dia datang bertamu kesini." batin Radit kesal pada Miko yang selalu mendekati Tania dan keluarganya.
"Ehheem,"
Radit terperanjat kaget mendengar deheman keras dari Pak Rudi. Karena tadi dia sedang melamun.
Melihat reaksi Radit yang seperti ingin terbang sambil memegang dadanya karena kaget. Semua yang ada disitu mengulum tawanya, kecuali Pak Rudi dan Radit.
Radit hanya tersenyum dipaksakan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat orang-orang seperti ingin menertawakannya.
"Nak Radit! Sini duduk dekat, Nak Miko. Jangan nempel-nempel mulu, belum sah." tegas Pak Rudi.
"I iya, Om." balas Radit.
Radit terpaksa berpindah tempat duduk disamping Miko karena Pak Rudi yang menyuruhnya. Sebenarnya ia merasa ogah untuk pindah kesana. Namun karena ini titah dari sang calon mertua, ia pun dengan berat hati berpindah tempat duduk di samping rivalnya tersebut.
"Dret, dret." sebuah pesan masuk di whatsapp Tania.
Setelah Tania buka, ia melihat pesan itu dari adiknya sendiri, Tantri. Tania melihat ke arah Tantri penuh tanya lalu membaca pesan itu.
π© Tantri : Kak, kamu pilih yang mana?
π© Tantri : Yang muda apa yang dewasaπ
π© Tania : Maksud kamu apa?
π© Tantri : Itu loh, Kak. 2 Cowok yang duduk dekat ayahπ
π© Tania : Sia*an kamuπ
π© Tantri : πππ Peace kakβ
π© Tantri : Tapi keliatannya, Kak Miko juga suka sama Kak Tania.
π© Tantri : Soalnya dari tadi aku perhatiin dia ngeliatin kakak terus.
π© Tania : Diam kamuπ€
π© Tantri : Kaboor ππ»ββοΈ
Tania menatap adiknya yang duduk bersandar dikepala tempat tidur dengan tatapan tajam. Tantri hanya mengacungkan jari tengah dan telunjuknya sembari tersenyum tanpa dosa.