
"Sekali lagi Tania minta maaf." ujar Tania lagi lalu beranjak meninggalkan Ayah dan Ibunya yang masih duduk di meja makan.
"Bu, apa yang harus kita katakan pada Rahmat dan keluarganya? Ayah merasa tidak enak loh, Bu sama mereka." ujar Pak Rudi.
"Ibu juga bingung, Yah. Selama ini mereka sudah sangat baik pada keluarga kita," lanjut Bu Indah.
Pak Rudi memijit-mijit pangkal hidungnya. Ia mulai pusing memikirkan kalimat apa yang harus ia rangkai untuk dikatakan nanti pada Pak Rahmat agar Pak Rahmat dan keluarganya bisa mengerti dan tidak tersinggung atas penolakan Tania.
"Aku heran Bu pada anak kita, kenapa Tania juga menolak untuk ditunangkan dengan Nak Radit? Kalau dia menolak untuk dinikahkan, Ayah bisa mengerti itu. Karena mereka masih sangat muda. Tapi ini, aaahh." ujar Pak Rudi sambil memijit kepalanya.
Pak Rudi sedang dilanda kebingungan sekarang. Ia takut hubungan baik dengan keluarga Pak Rahmat yang mereka jalin selama bertahun-tahun menjadi renggang karena masalah ini.
"Sudahlah Yah, jangan terlalu dipikirkan. Kita katakan saja yang sebenarnya pada mereka. Kita jelaskan baik-baik kalau untuk saat ini Tania belum siap. Mungkin di lain waktu Tania akan menyetujuinya." ucap Bu Indah berusaha menenangkan suaminya.
Pak Rudi berusaha menenangkan dirinya. Ia berencana untuk menemui Pak Rahmat pagi ini sebelum ia berangkat ke sawah.
Sesampainya didalam kamarnya, Tania sudah tidak kuasa lagi membendung air matanya. Meskipun ia membenci Radit, tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih mencintai pemuda itu. Ia hanya membenci sikap Radit yang begitu lancang padanya. Andai saja Radit tidak bersikap kurang ajar, mungkin saja ia akan mempertimbangkan lamaran itu. Tania sengaja menolak mentah-mentah lamaran tersebut karena ia ingin membalas sakit hatinya pada Radit.
Tania menyambar ponselnya yang ia letakkan diatas meja. Ia ingin mencari hiburan dengan cara menonton OVJ di Youtube. Selama ini, acara tv bergenre komedi itu selalu berhasil membuatnya terbahak-bahak. Ia tidak mau berlarut dalam kesedihan.
Semua pesan yang dikirim oleh Radit tadi malam tidak ada satupun yang masuk di nomor Tania. Itu karena Tania sudah memblokir nomor Radit di ponselnya sejak kemarin. Saat ia dalam perjalanan pulang dari rumah kakaknya menuju rumah orang tuanya.
***
Kamar Radit
"Jangan-jangan Tania memblokir nomorku lagi." gumam Radit.
"Ah, aku punya ide."
Radit pun berjalan keluar dari kamarnya. Ia ingin turun ke lantai bawah untuk meminjam ponsel mamanya. Ia ingin menghubungi Tania menggunakan nomor Bu Risna. Saat ia tengah menuruni anak tangga satu per satu, ia melihat Pak Rudi sedang berbicara dengan Pak Rahmat. Radit yakin, pasti kedua orang tua itu sedang membahas lamaran tadi malam. Dengan cepat Radit menuruni tangga tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Ia ingin mendengarkan percakapan keduanya tanpa ketahuan. Ia berhenti saat ia sudah sampai di anak tangga urutan terakhir.
Betapa hancurnya hati Radit saat ia mendengarkan kabar penolakan dari Tania. Ia pun lalu berlari menapaki anak tangga satu per satu naik kembali ke kamarnya. Seharian ia mengurung dirinya didalam kamar tanpa makan mau pun minum sesuatu.
***
Keesokan harinya,
Sampailah kabar lamaran Radit yang di tolak oleh Tania di telinga Hendra dan juga Tasya. Mereka bertanya-tanya, bagaimana bisa Tania menolak lamaran Radit? Kenapa Tania sepertinya hanya main-main dan tidak serius dalam menjalin hubungan dengan Radit? Bukankah kebanyakan wanita diluar sana menginginkan kepastian dan keseriusan dalam menjalin hubungan dengan pasangan mereka. Lalu mengapa Tania yang sudah jelas diberikan kepastian justru memilih menolak dan mundur? Apa yang ia cari? Kenapa Tania sepertinya hanya mempermainkan perasaan Radit yang jelas-jelas begitu mencintainya? Kenapa sepertinya hanya Radit yang serius menjalani hubungan mereka?
Apalagi yang menyebabkan Tania menolak lamaran Radit, bukankah mereka selalu bersama kemana pun mereka pergi? Hanya tidur bersama dan menetap dibawah satu atap yang sama yang tidak mereka lakukan. Bukankah jika sudah seperti itu memang sebaiknya mereka dinikahkan saja. Itu untuk menghindari berbagai macam dosa yang bisa saja mereka lakukan jika mereka terlalu sering jalan berdua. Atau jangan-jangan Tania memiliki pria idaman yang lain.
Apa, mengapa, bagaimana? Begitu banyak pertanyaan yang bergelayut dipikiran mereka. Membuat pasangan suami istri itu tidak habis pikir kenapa Tania sampai menolak lamaran Radit.
Orang-orang terdekat mereka, menyalahkan Tania dalam hal ini. Tanpa mereka ketahui apa penyebab Tania menolak mentah-mentah lamaran Radit. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya Radit juga bersalah dalam hal ini.
Tapi bukankah seharusnya Tania menerima saja lamaran itu. Seharusnya ia senang karena Radit mau bertanggung jawab karena sudah berbuat kurang ajar padanya? Bukankah pertanggung jawabanlah yang diharapkan oleh seorang wanita jika terjadi hal seperti itu. Meskipun pada kenyataannya mereka tidak sampai melakukan hubungan terlarang itu, namun hanya mendekati. Tapi seharusnya Tania bersyukur karena Radit adalah sosok laki-laki gentle yang bertanggung jawab. Tapi yah, itulah Tania. Bukan Tania namanya kalau tidak keras kepala. Tidak ada yang mengerti jalan pikiran gadis itu selain dirinya sendiri.
Berbeda dengan Tasya, Hendra memang tahu akar permasalahan Radit dan Tania. Tapi ia juga tidak habis pikir, kenapa Tania sampai tega menolak lamaran adik sepupunya tersebut. Bukankah memang sebaiknya mereka menikah saja jika sudah seperti itu? Pikir Hendra.