How To Love You

How To Love You
Bab 162



Beberapa saat kemudian, Tantri pun keluar sembari membawa karung yang berisikan jagung yang sudah ia petik tadi. Barang bawaannya lumayan berat, terlihat jelas saat ia begitu kewalahan membawanya.


Tantri mengulum tawanya melihat wajah Miko yang awalnya putih mulus sekarang berubah merah-merah seperti habis di olesi blus on cream di sebagian besar area wajahnya.


"Mau ketawa takut ngakak. Eh salah, dosa." canda Tantri.


"Sudah selesai belum? Ayo kita pulang! Badan aku gatal semua nih," tanya Miko sembari menggaruk bagian tubuhnya yang gatal secara bergantian.


"Iya, ayo!" jawab Tantri.


"Kelihatannya itu berat, sini aku bantu." kata Miko menawarkan bantuan.


"Iya sih Kak memang lumayan berat," ucap Tantri


Mereka pun lalu mengangkat karung yang berisikan jagung itu bersama dan meletakkannya di bagian ruang pijakan motor. Setelah itu, mereka kemudian meluncur pulang ke rumah. Miko melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi karena ia sudah tidak tahan lagi dengan rasa gatal yang melanda sebagian anggota tubuhnya. Ia sudah tidak sabar untuk segera mandi dan membersihkan seluruh bagian tubuhnya.


Sesampainya dirumah, setelah memarkirkan motor yang di kendarainya, Miko pun segera berlari masuk ke kamar mandi. Ia sungguh sudah tidak tahan lagi dengan rasa gatal yang melandanya.


Hendra yang duduk bersama Tasya di teras dibuat bertanya-tanya melihatnya. Mereka penasaran kenapa Miko lari terbirit-birit masuk kedalam rumah begitu mereka sampai.


"Eh, Kak Miko kenapa Dek?" tanya Tasya pada Tantri.


"Kak Miko gatal-gatal, Kak." jawab Tantri sembari tertawa kecil.


"Gatal-gatal, kok bisa?" tanya Tasya lagi.


"Tadi gara-gara ikutan masuk ke kebun jagung." jawab Tantri.


"Hah, emang kalian dari mana?" tanya Tasya.


Tantri pun kemudian menjelaskan secara detail bagaimana bisa ia pergi bersama Miko dan bagaimana bisa Miko gatal-gatal seperti itu. Tasya dan Hendra hanya geleng-geleng kepala sembari tertawa mendengarkan cerita Tantri. Setelah itu, Tantri pun lalu beranjak masuk sembari mengangkat jagung yang sudah ia petik tadi dengan susah payah.


Tantri sudah terbiasa mengangkat beban seperti itu. Dari tiga orang perempuan bersaudara, dia memiliki karakter yang berbeda sendiri. Jika kedua kakak perempuannya itu cuek, dia kebalikannya. Tantri memiliki karakter yang ramah, mudah bergaul, gampang akrab dengan orang baru, dan sedikit tomboy.


"Byur, byur." suara siraman air dikamar mandi. Miko sedang mengguyur seluruh tubuhnya didalam sana.


Tantri kembali terkekeh mengingat wajah Miko tadi yang memerah seperti kepiting rebus. Ia pun lalu meletakkan barang bawaannya itu di lantai.


Didalam kamar mandi, Miko menepuk jidatnya saat menyadari kecerobohannya yang lupa membawa handuk ke kamar mandi. Ia juga tidak punya pakaian ganti karena tadi pagi ia mengantar Hendra dan Tasya ke Puskesmas tanpa adanya rencana kalau mereka akan bermalam dirumah orang tua Tasya.


"Aku juga tidak mau pakai baju ini lagi. Bisa-bisa badanku kembali gatal-gatal." ujar Miko sembari melihat bajunya yang sudah ia pakai tadi sebelum mandi.


"Mending aku liat keadaan diluar dulu, siapa tau ada orang yang bisa aku mintai bantuan." gumam Miko.


Miko pun lalu membuka sedikit pintu kamar mandi lalu mengeluarkan kepalanya melihat keadaan di sekitar. Senyumnya mengembang ketika melihat Tantri sedang duduk di lantai dapur sembari memisahkan jagung yang ia petik tadi dengan kulitnya.


"Tantri!" panggil Miko.


"Iya Kak, ada apa?" tanya Tantri sambil menghentikan aktifitasnya sejenak sambil melihat ke arah Miko yang terlihat hanya kepalanya saja.


"Aku boleh minta tolong nggak?" tanya Miko.


"Yah boleh lah, Kak. Bilang aja," jawab Tantri.


"Tolong ambilin handuk dong!" pinta Miko malu-malu.


"Oh, tunggu sebentar Kak." balas Tantri sembari mengulum tawanya.


Tantri pun lalu beranjak mengambilkan handuk di lemari. Ia kembali tertawa kecil mengingat tingkah-tingkah konyol Miko.


"Kak Miko ini ada-ada aja. Masa masuk ke kamar mandi tapi nggak bawa handuk." gumam Tantri sembari masih tertawa.


Setelah Miko melilitkan handuk di pinggangnya yang ia dapat dari Tantri tadi, ia pun lalu beranjak keluar. Sekarang ia bingung mau pakai baju apa? Karena ia tidak punya pakaian ganti dirumah itu. Tidak mungkin juga kan ia terus-terusan memakai handuk saja. Apa ia meminjam baju Pak Rudi saja? Pikirnya. Itu lebih baik ketimbang ia hanya mengenakan kain selembaran yang bernama handuk itu. Sungguh tidaklah lucu jika seandainya handuk itu tiba-tiba saja tersingkap ataupun melorot. Itu akan membuat dirinya malu setengah mati jika itu benar-benar sampai terjadi, pikirnya lagi.


Miko sangat menyesal karena tidak mengindahkan ucapan Tantri tadi. Andai saja ia tetap diam di pinggir kebun sambil menunggu Tantri selesai, semua ini tidak akan pernah terjadi, pikirnya.


Tiba-tiba Tantri menghampirinya sembari membawakan sepasang pakaian ganti untuknya.


"Kak, pakai ini dulu, ini bajunya Kak Tama. Aku pikir ini cocok dibadan Kak Miko." ujar Tantri sembari menyerahkan sepasang pakaian ganti itu pada Miko.


Tantri tahu kalau Miko tidak membawa pakaian apa-apa selain yang melekat di badannya tadi. Ia pun lalu masuk ke kamar Tama dan mengambil sepasang baju di dalam lemari milik kakak laki-lakinya itu.


"Ah, syukurlah. Makasih yah, tau aja kamu kalau aku tidak punya baju ganti." ucap Miko lega. Lenyaplah sudah segala kekhawatiran yang bergelayut dipikirannya tadi.


"Sama-sama Kak. Oh iya, Kak Miko pakai kamarnya Kak Tama aja dulu. Soalnya empunya juga lagi nggak ada, jadi kamarnya kosong." jelas Tantri.


"Iya. Sekali lagi, makasih yah." ucap Miko seraya tersenyum lalu beranjak keluar menuju ke kamar paling ujung di luar sana yang bersebelahan dengan kamar Tania.