
Miko dan Tantri turun dari mobil. Mereka berdua hendak menyusul yang lainnya. Dibawah sinar cahaya lampu yang terang benderang, Tantri melihat perubahan penampilan Miko malam itu. Ia menatap Miko dari ujung kaki hingga ke ujung kepala secara berulang-ulang.
"Kenapa?" tanya Miko pura-pura. Ia tahu kalau Tantri pasti pangling melihat penampilan barunya.
"Tunggu dulu Kak!" ucap Tantri sambil menarik lengan Miko agar tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Ada apa?" tanya Miko lagi masih berpura-pura.
"Kayaknya ada yang beda banget malam ini. Kak Miko pasti merubah penampilan. Pantas," ucap Tantri sambil tidak bosan-bosannya menatap Miko.
"Pantas apanya?" tanya Miko penasaran. Ia menanti penilaian dari gadis itu atas penampilan barunya.
"Pantas tambah cakep. Keren banget pokoknya. Kalo Sherina ketemu Kak Miko dengan penampilan seperti ini, aku yakin dia pasti akan menarik kata-katanya yang sudah menyebut Kak Miko, Om-Om." puji Tantri.
Mendengar pujian dari daun muda itu sukses membuat Miko bagai melayang-layang di udara. Andai saja ia punya sayap, pasti sayapnya sudah ia kepakkan untuk terbang setinggi-tingginya saking bahagianya.
"Masa sih?" ucap Miko sembari mengulum senyumnya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dan terpancar jelas dari raut wajahnya saat itu.
"Iya Kak, aku serius." jawab Tantri seraya mengangguk.
"Ehem, kalau begitu, ayo kita menyusul yang lainnya disana!" ajak Miko.
"Eit, tunggu dulu!" ucap Tantri sembari kembali menarik lengan Miko yang mencoba beranjak dari tempatnya berdiri.
"Hm, ada apa lagi?" tanya Miko.
"Aku kan udah muji Kak miko nih, jadi aku mau minta upah," canda Tantri seraya menengadahkan tangan kanannya ke arah Miko.
"Upah apa maksud kamu? Uang atau apa?" tanya Miko serius. Ia benar-benar ingin memberikan hadiah pada gadis itu saking bahagianya ia saat itu.
"Hahaha. Kak Miko ih, nggak bisa diajak bercanda, bawaannya serius mulu." ujar Tantri.
"Iyalah. Bukannya para wanita memang mencari laki-laki yang serius," ujar Miko.
"Eh?" Tantri mengeryitkan keningnya. Ia tidak mengerti maksud ucapan Miko. Sepertinya kata-kata itu kurang tepat untuk menjawab pertanyaannya saat itu. Miko seolah memberi kode keras pada Tantri atas keseriusannya. Namun sayang, gadis itu masih terlalu polos untuk mengerti maksud dari ucapan Miko barusan.
"Sudah, lupakan. Ayo kita kesana!" ajak Miko.
Mereka pun lalu berjalan beriringan sembari masih mengobrol menuju meja yang ditempati oleh yang lainnya.
"Kak Tasya, liat deh. Kok kayaknya mereka berdua keliatan serasi banget yah?" ucap Tania seraya melihat Miko dan Tantri yang sedang berjalan menuju ke arah dimana mereka sedang duduk saat itu.
"Siapa?" tanya Tasya yang duduk diseberang meja Tania.
"Itu." jawab Tania sembari menunjuk ke arah keduanya.
"Maksud kamu, Tantri?" tanya Tasya.
"Iya, siapa lagi." jawab Tania.
"Kelihatannya sih begitu, tapi usia mereka beda jauh loh." lanjut Tasya.
"Sayang, usia itu tidak menjadi patokan dalam menjalin sebuah hubungan. Kalau mereka sudah saling mencintai tidak ada salahnya, kan?" jelas Hendra menimpali.
"Kamu benar sayang. Memang usia bukanlah dasar untuk dijadikan patokan didalam memulai suatu hubungan. Tapi menurutku mereka tidak mungkin memiliki hubungan spesial." ucap Tasya.
"Untuk saat ini mungkin memang belum, tapi kita tidak tau nanti. Yang menggerakkan hati seseorang itu hanya Sang Maha Kuasa. Yang menitipkan rasa cinta di hati setiap insan untuk saling mencintai itu pun hanya Dia." jelas Hendra. Ia sengaja menjelaskan kepada istrinya dengan cara seperti itu karena ia tidak mau istrinya menentang hubungan sahabatnya dengan adik iparnya tersebut jika semisalnya kedua insan itu nantinya memang benar-benar saling jatuh cinta.
"Kamu benar sayang. Kalau begitu, aku sudah tidak bisa berkomentar apa-apa lagi." balas Tasya membenarkan ucapan suaminya. Ia juga merasa tidak masalah jika seandainya adiknya itu memiliki hubungan spesial dengan Miko. Karena ia dan keluarganya cukup mengenal Miko dengan baik. Miko adalah sosok laki-laki yang baik dan bertanggung jawab dimata mereka.
Setelah semuanya berkumpul, beberapa saat kemudian makanan yang mereka pesan pun akhirnya datang juga. Cukup lama hingga semua pesanan mereka siap karena abang-abang tukang sate tersebut butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan semua pesanan mereka yang jumlahnya memang tidak sedikit.
Setelah mereka selesai menyantap makanan mereka masing-masing. Mereka pun lalu memutuskan untuk kembali ke rumah karena malam sudah semakin larut. Kasihan Tantri jika ia harus terlambat berangkat ke sekolah besok pagi karena bangun kesiangan.
Sebelum mereka benar-benar kembali ke rumah, Miko meminta Radit untuk melajukan mobilnya menuju mini market terdekat. Ia ingin membeli sesuatu disana.
Sesampainya di mini market terdekat, Miko pun segera turun dari mobil dan masuk berbelanja ditempat tersebut. Hendra dan Tasya juga ikut masuk. Mereka berdua juga ingin belanja keperluan rumah yang stoknya sudah mulai menipis di lemari pendingin. Mumpung mereka singgah di tempat berbelanja, jadi mereka juga ikut memanfaatkan kesempatan tersebut. Yang lainnya hanya menunggu didalam mobil.
Radit merasa sekarang lah waktu yang tepat untuk mempertanyakan jawaban Tania akan lamarannya. Sebenarnya masih ada waktu setengah bulan lagi. Tapi Radit sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban dari gadis pujaannya. Ia juga begitu yakin kalau Tania tidak mungkin memberikan penolakan kali ini.
"Sayang, apa kamu nggak berubah pikiran untuk memberikanku jawaban lebih cepat dari waktu yang kamu tentukan?" tanya Radit pada Tania sembari memegang tangan gadis itu lalu mencium punggung tangannya.