
"Eh, Kak Wildan!" seru Tasya saat melihat sosok pemuda yang memanggil namanya.
"Kamu sendirian?" tanya Wildan.
"Enggak, Kak. Aku kesini sama suami aku," jawab Tasya.
"Oh, dimana dia?" tanya Wildan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Kak Hendra ada diluar, Kak. Dia lagi ngobrol sama temannya." jawab Tasya.
"Kamu semakin mempesona dan semakin cantik saja setelah menikah. Hanya saja perutmu sedikit buncit. Apa? Perut buncit. Apa jangan-jangan, Tasya sedang hamil." batin Wildan sambil menatap penampilan Tasya dari atas ke bawah. Ia salah fokus pada bagian perut gadis itu.
"Keliatannya perut kamu sedikit lebih besar dari sebelumnya, apa kamu sedang hamil?" tanya Wildan ingin memastikan.
"Iya, Kak alhamdulillah sudah 4 bulan." jawab Tasya sambil memegangi perutnya.
"Oh. Selamat yah." ucap Wildan. Tersirat kekecewaan diwajah pemuda itu. Tapi ia mencoba menyembunyikannya dengan memaksakan diri untuk tersenyum. Seolah-olah ia juga ikut bahagia atas kehamilan gadis yang disukainya itu sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA.
"Aku benar-benar tidak punya harapan lagi untuk bersamamu. Suamimu benar-benar sangat beruntung." batin Wildan.
"Kak Wildan kesini sendiri," kata Tasya. Tapi Wildan tidak mendengarkan pertanyaan gadis itu. Ia masih melamun menatap gadis cantik yang berhasil mencuri hatinya namun sekarang sudah berstatus istri orang.
"Kak Wil! Kak Wildan!" panggil Tasya saat melihat Wildan melamun.
"Eh, maaf. Kamu bilang apa tadi?" tanya Wildan saat mulai tersadar dari lamunannya.
"Tadi aku nanya, Kak Wildan kesini sendiri nggak. Tapi, Kak Wildannya malah ngelamun. Mikirin apa sih?" jelas Tasya.
"Eh, nggak kok, aku nggak mikirin apa-apa. Eh, dengar-dengar kamu cuti kuliah. Kenapa?" lanjut Wildan mengalihkan topik pembicaraan.
"Gara-gara ini," jawab Tasya tersenyum sambil menunjuk perutnya yang sudah sedikit buncit.
"Oh. Tidakkah kamu terlalu cepat mengambil cuti? Biasanya ada mahasiswa yang cuti saat menjelang lahiran,"
"Aku juga maunya gitu, Kak. Tapi suami aku ngelarang. Katanya dia nggak mau aku kecapekan apalagi sampai banyak pikiran gara-gara mikirin tugas kuliah." jelas Tasya.
"Oh, benar juga. Suami kamu perhatian sekali. Pasti dia sayang banget sama kamu,"
"Hehe. Kalau itu sudah jelas, Kak. Kak Hendra emang suami ter The Best lah pokoknya." jawab Tasya sambil mengacungkan jempolnya memuji suaminya di depan Wildan.
"Syukurlah kalau begitu. Aku juga ikut senang kalau kamu sangat bahagia dengan pernikahanmu." ujar Wildan sambil kembali memaksakan diri untuk tersenyum. Tapi jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga merasa senang sekaligus lega karena gadis yang pernah membuatnya patah hati karena cintanya ditolak itu terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya.
"Makasih, Kak."
"Iya, Kak. Hati-hati!"
"Iya. Oh iya, sekali lagi selamat atas kehamilanmu." ucap Wildan sekali lagi sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Tasya. Kali ini ia memamerkan senyuman yang tulus.
"Makasih, Kak." balas Tasya sembari membalas senyuman pemuda itu.
"Aku menyerah. Sepertinya aku benar-benar harus move on dari kamu." batin Wildan seraya berjalan meninggalkan Tasya. Setelah ia pergi, Tasya pun kembali melanjutkan aktifitas belanjanya.
***
Miko dan Tantri masih betah bergandengan tangan. Setelah melewati kebun jagung bergantian dengan kebun kakao sepanjang perjalanan. Akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.
"Itu, Om Rudi bukan?" tanya Miko saat melihat seorang pria paruh baya yang sedang berbungkuk sambil menanam padi dengan gerakan tangan yang sangat lincah.
"Iya, Kak itu, Ayah. Terus yang disudut sawah sana itu, Ibu." jawab Tantri sambil menunjuk ke arah depan dimana seorang wanita dengan pakaian khas petani sedang menanam padi dengan gerakan tangan yang tidak kalah lincahnya dari sang suami.
"Oh," ucap Miko.
"Kak Miko, bisa tolong lepasin tangan aku nggak. Kak Miko nggak mungkin tersesat lagi, kan?" canda Tantri sambil tertawa kecil.
"Eh, iya. Maaf." ucap Miko malu-malu sambil melepas tangan Tantri yang sudah ada di genggamannya sejak tadi. Ia merasa sangat nyaman menggenggam tangan gadis itu. Sampai-sampai ia lupa untuk melepasnya.
"Ayo kita kesana!" ajak Tantri sambil menunjuk dangau atau gubuk sawah yang berada tepat di belakang Bu Indah. Mereka pun berjalan bersama ke sana menyusuri pematang sawah yang lebarnya kurang lebih 40 cm. Sambil berjalan, Miko menyapa Pak Rudi dan juga Bu Indah yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Sesampainya diatas gubuk kecil tersebut, Miko kemudian duduk sambil menggantungkan kakinya di pinggir gubuk. Ia sedang memperhatikan sepasang suami istri petani itu bekerja.
"Kelihatannya gampang," ucap Miko. Setelah ia perhatikan beberapa saat, ia merasa pekerjaan menanam padi itu gampang mengingat gerakan tangan Pak Rudi dan Bu Indah begitu cepat dan lincah.
"Keliatannya emang gitu, Kak karena, Ibu sama Ayah udah pengalaman. Tapi kalo kita yang lansung kerja sendiri baru terasa susah," jelas Tantri yang duduk tidak jauh dibelakang Miko. Ia berkata seperti itu karena ia juga pernah mencobanya sekali karena penasaran.
Pak Rudi dan Bu Indah beranjak untuk beristirahat karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Matahari sudah sangat terik dan terasa sangat panas membakar saat menerpa kulit. Sudah waktunya mereka istirahat dan makan siang. Mereka pun segera melangkah menuju dangau dimana Miko dan Tantri sedang duduk disana.
"Ada apa gerangan yang membawa, Nak Miko sampai kemari di siang yang terik seperti saat ini?" tanya Pak Rudi sembari melangkahkan kakinya menyusuri anak tangga yang hanya ada 4 buah saja. Bu Indah sudah lebih dulu naik dan duduk diatas sana.
"Tidak apa-apa kok, Om. Saya cuma lagi jalan-jalan saja. Saya penasaran bagaimana cara menanam padi karena, Tantri tadi bilang Om sama Tante lagi di sawah menanam padi." jelas Miko.
"Oh." ucap Pak Rudi mengerti lalu duduk bersila diatas gubuk.
"Tantri, ambilkan Ibu air minum. Ibu haus, Nak." perintah Bu Indah sambil menunjuk botol minuman berukuran besar yang ada di sudut gubuk dibelakang Tantri.
"Iya, Bu," jawab Tantri sambil melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya.