
Hendra sudah kembali ke pestanya. Sekarang ia sudah bersanding kembali dengan istrinya di pelaminan. Tasya merasa tidak enak menanyakan hal apa yang terjadi disana pada Hendra dan Fathur setelah ia tinggal tadi. Ia takut kalau suaminya akan salah paham ataupun merasa tersinggung kalau iya menanyakan hal tersebut.
Fathur juga sudah kembali dari toilet. Cukup lama ia berada disana sebelum ia akhirnya memutuskan untuk kembali. Ia baru kembali saat ia sudah mulai berhasil menguasai dirinya. Saat Fathur sudah sampai di pesta, ia pun lalu menghampiri istrinya yang sedang asyik mengobrol dengan mamanya. Fani dan Bu Susi terlihat begitu akrab meskipun jarang sekali bertemu.
"Kamu darimana aja, Honey? Kenapa lama sekali?" tanya dokter Fani.
"Fathur, kenapa wajahmu jadi pucat begitu? Apa kamu sakit?" tanya Bu Susi khawatir.
"Honey! Ayo kita pulang! Aku sedang tidak enak badan," ajak Fathur.
"Apa jangan-jangan, ini ada kaitannya dengan Tasya?" batin Bu Susi.
Fathur tidak menggubris pertanyaan mamanya. Ia hanya mengajak istrinya pulang. Ia sudah tidak tahan lagi berlama-lama disana.
"Mungkin kamu cuma kecapekan aja, Honey. Soalnya akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk dan kurang istirahat." ujar Fani.
"Sebelum kita pulang, ayo kita ucapkan selamat dulu pada pengantinnya, sekalian kita foto bareng." ajak Fani bersemangat.
"Mm, kamu aja, Honey. Aku menunggu disini saja," tolak Fathur dengan wajah lesu dan malas.
Sebenarnya hatinya sudah tidak kuat lagi melihat Tasya dan Hendra bersanding disana.
"Ayolah! Masa kamu nggak mau kenalan sama sahabat baik aku. Lagian, mempelai wanitanya, kan adik sepupu kamu juga. Masa kamu nggak mau ngucapin selamat ke mereka sih," cerocos Fani.
Mendengar ucapan Fani yang seolah memaksa Fathur. Bu Susi hanya membuang pandangannya ke lain arah. Ia tidak mau lagi melihat tatapan dingin yang dilemparkan anaknya padanya. Karena semenjak perjodohan tiba-tiba antara Fathur dan dr. Fani setengah tahun lalu hingga sekarang, Fathur jadi berubah dingin pada mamanya. Fathur yang dulunya anak penurut dan berbakti pada mamanya, kini sudah tidak ada lagi.
"Tapi, Honey,"
Belum juga Fathur memberikan penjelasan. Fani sudah menyeretnya kesana.
"Ayo! Aku nggak mau menerima alasan." kata Fani.
Sesampainya diatas pelaminan, suasana menjadi kikuk diantara Tasya dan Fathur. Berbeda dengan Hendra dan Fani, mereka terlihat biasa-biasa saja. Hendra sekarang sudah tidak cemburu lagi pada Fathur. Karena ia tahu Tasya sudah merelakan masa lalunya dan sudah tidak mencintai Fathur lagi. Hendra juga tahu kalau sekarang Tasya sudah mencintai dirinya. Jadi ia tidak punya kekhawatiran lagi seperti sebelum-sebelumnya.
"Selfi dulu yuk!" ajak Fani.
Fani lalu menyerahkan smartphonenya pada seseorang tamu yang ada disitu untuk ia mintai bantuan untuk mengambil gambar mereka nanti.
Fathur punya ide, ia juga ikut menyerahkan telepon pintarnya pada seorang tamu yang hendak mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Ia meminta tolong pada orang tersebut seraya berbisik-bisik. Entah apa yang ia katakan pada orang itu. Ia lalu dengan cepat mengambil posisi di samping Tasya. Sedangkan Fani berdiri disamping Hendra.
Tasya merasa tidak enak karena Fathur berdiri sangat dekat disampingnya. Tasya melirik ke arah Hendra, tapi Hendra terlihat biasa-biasa saja. Bahkan ia sedang asyik membicarakan sesuatu dengan sahabatnya tersebut yang sepertinya sangat seru. Melihat hal itu, barulah Tasya merasa sedikit tenang.
Fathur memberikan kode pada orang yang sedang memegang smartphonenya tersebut, pertanda ia sudah siap diambil gambarnya. Dengan cepat tangan kanannya merangkul bahu kanan Tasya dengan erat, sedangkan tangan kirinya memegang bahu kiri Tasya dengan lembut. Mendapat perlakuan yang tiba-tiba seperti itu dari Fathur, Tasya jadi kaget dan spontan mendongakkan kepalanya menatap wajah Fathur. Fathur balas menatap wajah Tasya dengan penuh cinta sembari memamerkan deretan gigi putihnya.
Pemandangan itu terjadi cukup singkat, hingga orang yang ada disamping mereka tidak menyadarinya sedikitpun. Fathur segera melepas tangannya saat ia merasa gambarnya sudah selesai diambil. Tasya sedikit menjauhkan dirinya dari Fathur, ia merasa marah dan kesal karena Fathur berani menyentuhnya. Dulu saat mereka masih bersama, Fathur tidak pernah selancang itu padanya.
"Fathur apa-apaan, sih? Berani sekali dia menyentuhku. Kalau, Kak Hendra liat kan bisa marah dia nanti." batin Tasya.
Fathur melihat hasil jepretannya, ia merasa sangat bahagia sekali. Difoto itu, mereka berdua seperti sedang melakukan foto pre-wedding. Meskipun kejadiannya hanya berlangsung beberapa detik saja. Tapi hasil jepretannya terlihat sangat bagus dan natural.
"Fotonya sangat bagus. Aku akan menyimpannya baik-baik. Akan aku jadikan foto ini sebagai penyemangatku." batin Fathur senang.
Setelah Fathur dan Fani mengucapkan selamat pada kedua mempelai, mereka pun lalu beranjak untuk pulang. Fani heran melihat perubahan drastis yang terjadi pada suaminya. Tadinya Fathur yang terlihat pucat dan tidak bersemangat, kini berubah menjadi sebaliknya. Wajah Fathur terlihat sangat cerah. Ia kelihatan sangat ceria dan begitu bersemangat seperti habis menang undian.
"Kamu udah enakan, Honey?" tanya Fani.
Mereka berjalan beriringan sambil menghampiri Bu Susi.
"Ma, Fani tunggu, Mama dirumah, yah." ujar Fani pada Bu Susi.
"Iya, sayang." jawab Bu Susi.
"Papa mana, Ma?" tanya Fani lagi.
"Itu, lagi ngobrol sama teman-temannya." jawab Bu Susi seraya menunjuk ke arah suaminya.
"Oh, kalau gitu, kami balik duluan yah, Ma." pamit Fani seraya mencium tangan ibu mertuanya.
Fathur diam saja, ia tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh istrinya pada ibu kandungnya tersebut.
"Hati-hati yah, sayang!" pesan Bu Susi.
"Iya, Ma. Assalamu'alaikum." ujar Fani seraya beranjak meninggalkan pesta bersama suaminya.
"Wa'alaikum salam." balas Bu Susi.
Bu Susi menangis dalam hatinya. Ia merasa sangat sedih melihat perubahan sikap anaknya terhadapnya. Yang tidak lain adalah akibat dari keegoisannya sendiri yang terlalu memaksakan kehendaknya dan tidak mempedulikan perasaan anaknya sedikitpun.
"Sudah setengah tahun berlalu. Tapi kenapa kamu masih belum memaafkan, Mama, Fathur?" batin Bu Susi sedih.
Bu Susi melihat ke arah Tasya dan Hendra. Ia merasa iri pada Tasya yang terlihat sangat bahagia bersama Hendra. Sedangkan anaknya hanya bisa berpura-pura bahagia atas pernikahannya.
"Tasya, kamu sangat beruntung! Tante iri sama kamu. Seandainya, Fathur juga bisa bahagia dengan pernikahannya seperti kamu bahagia dengan pernikahanmu. Fathur pasti akan berhenti membenci, Tante." batin Bu Susi.
Ia sudah semakin tidak kuat lagi menahan tetesan bening yang menggantung dipelupuk matanya.
***
Pukul 17:00
Pesta telah usai, Tasya dan Hendra kembali ke kamar mereka untuk beristirahat. Menjadi raja dan ratu sehari sungguh sangat melelahkan bagi mereka. Apalagi mereka harus menyalami ribuan tamu yang datang mengucapkan selamat pada mereka.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke kamar mereka. Perlahan Hendra membuka pintu kamar mereka seraya tersenyum. Ia memiliki kejutan untuk istrinya sore ini.
"Masuklah duluan," perintah Hendra.
Tasya pun masuk duluan ke kamar itu. Ia heran saat memasuki kamarnya dan mendapati ruangan itu begitu gelap tanpa ada sedikitpun cahaya disana.
Ia lalu menoleh dan bertanya pada suaminya yang masih berdiri dibelakangnya.
"Kok gelap, sayang?" tanya Tasya heran.
"Itu." jawab Hendra seraya menunjuk saklar lampu yang menempel pada dinding dekat pintu.
Tasya lalu memencet kedua saklar itu dan,
"Taraaaa!" seru Hendra seraya memeluk istrinya dari belakang.