How To Love You

How To Love You
Bab 45



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


3 Hari kemudian, setelah tiga hari tinggal dirumah bermesraan layaknya pengantin baru pada umumnya, Hendra mengajak Tasya berkunjung ke rumah orang tuanya yang letaknya tidak jauh dari situ. Mereka masih berbaring ditempat tidur setelah melakukan aktifitasnya usai shalat subuh berjamaah.


"Sayang. Aku ingin mengajakmu berkunjung ke rumah orang tuaku hari ini." ujar Hendra. Ia berbaring sambil dipeluk oleh Tasya. Tasya berbaring berbantalkan lengan suaminya yang padat dan berotot.


"Jam berapa kita kesana sayang?" tanya Tasya. Ia mendongakkan kepalanya menatap suaminya.


"Terserah kamu, kapan pun kamu siap." jawab Hendra.


"Kalau begitu aku mau cepat-cepat bangun dan mandi sayang. Kita kesana pagi-pagi." ujarnya bersemangat.


Hendra tersenyum senang melihat istrinya yang antusias.


"Eit, tunggu dulu. Tapi setelah yang satu ini." kata Hendra lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuh polos mereka hingga tidak kelihatan.


"Apa sayang? Lagi? Bukankah kita baru saja selesai ..." protes Tasya dibalik selimut.


"Ayolah sayang. Sekali lagi." godanya mengajak istrinya 'kikuk-kikuk' lagi.


"Ah, aku capek sayang." Tasya berusaha menolak.


"Ayolah sayang muah muah muah." Masih berusaha menggoda istrinya.


"Huh! Kamu menyebalkan." Tasya mulai kesal melayani Hendra yang terlalu *******


"Menyebalkan? Tapi kamu juga senang kan." ujarnya tiada henti menggoda istrinya.


"Siapa bilang? Aku tidak pernah bilang begitu." tidak mau mengakui tuduhan Hendra.


Dan begitulah pertengkaran mereka dibalik selimut diatas tempat tidur yang sempit. Tasya takut terlalu melawan Hendra karena takut terjatuh. Hingga terjadilah 'kikuk-kikuk'.


***


"Sayang. Tolong ambilkan aku kemeja coklat yang ada di lemariku." perintah Hendra.


Ia bersiap-siap setelah Tasya selesai bersiap-siap. Karena ia tahu perempuan butuh waktu lama untuk itu. Jadi dia memutuskan untuk tidur dulu dan menyuruh Tasya membangunkannya setelah Tasya selesai.


Dengan sigap ia melaksanakan perintah suaminya. Ia membuka pintu lemari dan menemukan dua buah kemeja coklat, satu lengan panjang dan satunya lagi lengan pendek.


"Yang mana sayang? Yang lengan panjang apa yang lengan pendek?" tanya Tasya.


"Yang lengan panjang sayang. Sekalian celana jeans hitamku." jawab Hendra yang duduk di pinggir tempat tidur dengan masih mengenakan celana boxer.


"Iya sayang." balasnya.


Tasya pun segera menghampiri suaminya setelah mengambil apa yang diminta suaminya.


Hendra memakai celana jeansnya terlebih dahulu. Setelah itu memakai kemejanya. Tasya memasang kancing kemeja suaminya satu per satu tanpa disuruh. Hendra tersenyum melihat tindakan istrinya. Ia pun lalu mematuk kening istrinya.


"Oke. Sudah selesai." ujar Tasya sambil menepuk-nepuk pelan dada Hendra dengan kedua tangannya.


Sekarang mereka siap berangkat dengan warna pakaian yang senada. Tasya mengenakan gamis coklat dan hijab berwarna hitam sedangkan Hendra mengenakan kemeja coklat dan celana jeans hitam. Mereka jalan bergandengan keluar menuju garasi.


***


Rumah Pak Gunawan


"Assalamu'alaikum." sapa Tasya dan Hendra. Pak Gunawan dan Bu Arini sedang duduk di ruang makan hendak sarapan.


"Wa'alaikum salam." jawab mereka berdua.


"Eh kalian sudah datang, ayo sini kita sarapan bersama." ajak Bu Arini.


"Ayo sayang." ajak Hendra. Ia berjalan sambil merangkul bahu Tasya. Lalu menarik kursi untuk diduduki istrinya. Ia pun juga menarik kursi dan duduk disampingnya.


"Kalian kok nggak bilang sih kalau mau kesini pagi-pagi. Tahu begitu kan mama nyiapin sesuatu buat menyambut menantu mama." ujar Bu Arini sedikit kecewa karena tidak menyiapkan apa-apa untuk menantunya yang baru pertama kali datang ke rumahnya.


"Tidak apa-apa kok tante." balas Tasya sambil tersenyum.


"Iya tan, eh iya ma." ucap Tasya karena belum terbiasa.


"Nah gitu dong." ujar Bu Arini senang.


Hendra dan papanya hanya tersenyum mendengarkan percakapan mereka. Tasya mengambilkan makanan di piring Hendra. Lalu mengambil untuk dirinya sendiri. Kali ini mereka tidak makan romantis seperti dirumah mereka karena malu di lihat papa dan mamanya.


Setelah selesai sarapan, mereka lalu mengobrol sebentar. Setelah itu, Hendra mengajak Tasya untuk naik ke kamarnya.


"Sayang. Ayo kita naik ke atas." ajak Hendra.


"Kemana sayang?" tanya Tasya.


"Ke kamarku." jawab Hendra.


"Kamarmu?" Hendra lalu menarik tangan istrinya naik ke atas menyusuri tangga.


"Nah, ini kamarku." kata Hendra. Mereka masih berdiri di depan pintu.


"Ayo masuk." imbuhnya. Ia lalu membuka pintu dan menarik Tasya untuk ikut masuk.


"Wah, sepertinya kamar ini nyaman untuk ditempati." Tasya mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia melihat sebuah foto yang terbingkai diatas nakas dekat tempat tidur.


"Foto siapa itu, sepertinya tidak asing?" batinnya lalu menghampiri dan mengambil foto itu untuk melihatnya dengan jelas.


"Loh sayang, ini kan fotoku. Kenapa bisa ada disini." tanyanya bingung lalu duduk di pinggir ranjang.


Hendra tersenyum, lalu menghampiri istrinya dan duduk disampingnya.


"Foto ini sepertinya sudah lama. Dan latarnya sepertinya di ambil di toko. Apakah kamu mengabadikan fotoku secara diam-diam, sayang?" Tasya semakin kebingungan.


"Sayang. Apa kamu masih belum mengerti juga?" tanyanya pada istrinya sambil tersenyum.


Tasya menggelengkan kepalanya karena bingung. Ia benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaan Hendra.


"Bergeserlah. Aku ingin berbaring di pangkuanmu." menyuruh istrinya memperbaiki posisi duduknya lalu berbaring berbantalkan paha istrinya.


Tasya hanya menurut dan tidak protes sama sekali. Karena sepertinya paha kecilnya sekarang telah menjadi bantal favorit suaminya semenjak beberapa hari terakhir setelah mereka menikah.


"Sayang. Apa kamu benar-benar belum mengerti juga?" tanya Hendra lagi ingin memastikan sebelum mulai menjelaskan.


Tasya menggelengkan kepalanya lagi.


"Apa kamu tidak ingat foto ini kira-kira kapan diambilnya?" mulai mengetes istrinya lagi.


"Tentu saja aku tidak ingat sayang." tegas Tasya.


"Sayang, foto ini aku ambil saat pertama kali bertemu denganmu di toko." ujar Hendra.


"Hah, pertama kali bertemu. Kok aku tidak ingat yah." batinnya.


Hendra mulai menceritakan kenangannya beberapa tahun yang lalu. Tasya mencoba menjadi pendengar yang baik. Tidak menyela saat suaminya bercerita panjang lebar. Setelah Hendra selesai bercerita, Tasya tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa. Ia pun bingung dengan perasaannya sendiri. Entah ia mau bahagia, terharu, menangis atau bahkan marah karena Hendra sering mengambil fotonya secara diam-diam.


"Sayang. Apa kamu sudah percaya padaku kalau perasaanku dari dulu tidak pernah main-main padamu?" tanya Hendra sambil mencium tangan Tasya yang ada digenggamannya.


"Tentu saja aku percaya sayang. Buktinya kamu sudah menikahiku sekarang. Dan maaf karena aku sering mengabaikanmu dulu." ujar Tasya sebelah tangannya membelai-belai rambut suaminya.


"Tidak apa-apa sayang. Justru aku semakin merasa tertantang karena kamu berbeda dengan gadis-gadis lain. Dan itu artinya saat nanti kamu mencintaiku, kamu tidak akan menatap pria lain selain aku." jelas Hendra tersenyum sambil menyentuh pipi istrinya.


"Tentu saja sayang. Meskipun sekarang aku memang belum mencintaimu tapi aku akan berusaha membuka hatiku untukmu. Dan aku tidak akan menatap pria manapun selain kamu. Karena kamu seorang suami yang sangaaat sangat baik. Sejauh ini aku merasa sangat beruntung menikah denganmu." jelasnya meyakinkan. Tasya membalas senyum Hendra. Tangannya masih menyentuh puncak kepala suaminya.


"Benarkah sayang? Aku sangat bahagia mendengarnya." mata Hendra berkaca-kaca, ia terharu dan bahagia mendengar pernyataan istrinya. Ia pun lalu menarik tengkuk Tasya dan mencium bibirnya dengan penuh gairah.


Tasya menarik kepalanya dari cengkraman Hendra, "Sayang. Jangan disini. Aku tidak bawa pakaian ganti. Dirumah saja kalau mau minta jatah." ujarnya pada suaminya, ia mengira suaminya ingin mengajaknya 'kikuk-kikuk' lagi.


"Ternyata istriku sudah pandai berpikiran mesum rupanya. Hehe." goda Hendra.


"Memangnya tadi apa kalau ujung-ujungnya tidak minta itu?" ucapnya membela diri. Wajahnya bersemu merah karena malu.


"Tadi aku hanya terlalu bahagia sayang mendengar pernyataanmu." balas Hendra sambil tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya yang malu-malu.