
Hari H Resepsi Pernikahan Tasya dan Hendra
Hendra dan Tasya berjalan masuk sambil bergandengan kedalam ruangan besar yang menjadi tempat mereka melangsungkan resepsi pernikahan mereka. Sudah banyak tamu undangan yang hadir, begitupula dengan sanak saudara dan kerabat dekat dari masing-masing mempelai.
Tasya terlihat sangat cantik hari ini. Begitupula dengan Hendra, ia terlihat sangat tampan sekali dihari bahagia mereka. Mereka nampak serasi dengan balutan busana pengantin yang mewah dan glamour. Mereka berdua terlihat sangat bahagia sekali. Senyum bahagia merekah tiada henti-hentinya tersungging dibibir mereka.
"Sayang, kamu terlihat sangat cantik hari ini," puji Hendra.
"Terima kasih, sayang. Kamu juga terlihat sangat tampan hari ini."
Mereka berdua pun berjalan sambil melewati para tamu undangan yang hadir menuju ke atas pelaminan.
"Sayang, ramai sekali yah." ujar Tasya.
"Iya, sayang. Tapi ini belum seberapa, karena Papa mengundang ribuan orang untuk datang ke pesta kita."
"Semoga aku bisa kuat yah, sayang. Berdiri disini selama seharian menyambut ribuan tamu yang datang mengucapkan selamat pada kita."
Tasya merasa sedikit kurang enak badan.
"Kamu tenang aja, sayang. Aku ada disini, disamping kamu. Kalau kamu ada apa-apa, kamu ngomong aja langsung ke aku."
"Iya, sayang."
***
Radit terus berjalan sambil mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia mencari Tania dimana-mana namun ia tidak menemukannya dimana pun. Ia mencoba menghubunginya melalui via telpon maupun via chat namun keduanya tidak bisa tembus. Jelas saja, Tania sudah memblokir nomornya tanpa sepengetahuannya. Yang ada dipikiran Radit sekarang adalah, Tania sedang mencharger ponselnya sambil menonaktifkannya. Karena itu adalah kebiasaan Tania saat mengisi daya baterai.
Setelah cukup lama mencari keberadaan gadis pujaan hatinya namun tidak membuahkan hasil juga. Ditengah keramaian pesta ia bertemu dengan Tantri. Tanpa pikir panjang ia pun langsung menanyakan keberadaan Tania pada Tantri.
"Tantri!" panggil Radit.
"Iya, Kak," jawab Tantri sambil menengok ke arah asal suara.
"Eh, Kak Radit, ada apa Kak?" tanya Tantri.
"Apa kamu tahu dimana Tania sekarang?"
"Oh, Kak Tania. Dia lagi di make up sekarang. Tadi dia telat bangun, makanya dia yang paling terakhir dapat giliran di make up."
"Kak Tania sekarang ada di kamar Tante Arini, kami semua di rias disana tadi. Mm, tapi kalo urusan udah selesai atau belum, seharusnya sih udah selesai sekarang, Kak," jawab Tantri sambil melirik jam tangannya.
"Oh, makasih yah, Tantri. Aku kesana dulu."
"Oke, Kak!"
Radit pun segera buru-buru melangkahkan kakinya menuju kamar Bu Arini. Sesampainya di depan kamar tersebut, ia hendak mengetuk pintunya. Tiba-tiba, seorang perempuan berambut pendek yang usianya kira-kira 27 tahun membuka pintu kamar tersebut sambil menjinjinng box make upnya. Yah, perempuan itu adalah tukang rias yang sudah selesai merias Tania dan yang lainnya. Ia hendak bergabung dengan teman-temannya karena tugasnya sudah selesai.
"Tu tunggu mba! Jangan tutup pintunya dulu! Saya mau masuk." jelas Radit.
"Eh, silahkan!"
"Oh iya Mba, saya mau nanya. Apa Tania masih ada didalam?"
"Oh, Anda ini sedang mencari gadis cantik yang baru saja selesai saya rias. Ada, dia masih ada didalam, lagi siap-siap."
"Oh, kalo gitu makasih yah Mba."
"Iya, sama-sama. Kalau boleh tau, Anda ini siapanya yah?"
"Saya pacarnya, Mba."
"Oh, pacar toh. Saya pikir kalian ini kakak beradik tadi. Soalnya wajah kalian berdua ada kemiripan."
"Cocok, kalian berdua memang terlihat sangat serasi. Kalau kata orang-orang sih, muka kalian muka-muka jodoh. Kalau dilihat sekilas kalian memang punya kemiripan. Entah apanya?"
"Hehe, makasih Mba. Kalau gitu saya masuk dulu yah, Mba."
"Iya, silahkan! Saya juga sedang ditunggu oleh teman-teman saya. Permisi!"
Radit masuk kedalam kamar tersebut sambil mengendap-ngendap. Ia melihat Tania baru saja keluar dari kamar mandi. Radit terpesona melihat penampilan kekasihnya itu. Tania terlihat sangat cantik sekali hari ini dengan balutan baju pesta modern ditambah polesan make up flawless kekinian yang membuat penampilannya begitu sempurna hari ini. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona. Ia mengenakan baju pesta berwarna senada dengan pakaian adat yang dikenakan oleh Radit sekarang. Radit memang sengaja memesan baju dengan warna yang sama dengan warna baju yang dipesan oleh Tania waktu itu.
Sepertinya Tania sudah selesai. Tapi entah kenapa ia masih duduk dibibir tempat tidur sambil terus memandangi box sepatu yang dibelikan oleh Radit waktu itu saat mereka jalan-jalan ke mall. Ia nampak berpikir beberapa saat. Setelah itu, ia lalu membuka kotak sepatu itu dan memandangi isinya.
Tiba-tiba, Plak!