
Setelah hampir 2 jam tertidur, Tasya pun akhirnya terbangun. Hendra masih dalam posisi seperti tadi, tidur sambil memeluk istrinya.
Tasya berusaha melepaskan tangan suaminya tapi Hendra malah terjaga.
"Eh, maaf Sayang. Saya tidak sengaja membangunkanmu." Tasya merasa sedikit bersalah karena telah mengganggu tidur Hendra.
"Tidak apa-apa, Sayang. Jam berapa sekarang?" tanya Hendra.
Tasya meraih ponselnya yang ada di dekat pahanya.
"Jam setengah satu, Sayang."
"Sudah masuk waktu dzuhur berarti. Ayo bangun, kita shalat berjamaah."
Hendra melepaskan pelukannya lalu bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Sedangakan Tasya langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi hendak mengambil air wudhu begitu dia bangun. Sedangkan Hendra baru masuk ke dalam kamar mandi begitu istrinya keluar dari dalam sana.
Usai shalat Dzuhur berjamaah, Hendra mengajak istrinya untuk melihat-lihat isi rumah mereka.
"Sayang, kamu 'kan belum sempat melihat-lihat isi rumah kita tadi. Apa kamu ingin melihatnya sekarang?" tanya Hendra.
"Iya Sayang," jawab Tasya.
Tasya sebenarnya memang sangat penasaran dengan isi rumah besar yang menjadi tempat tinggal barunya tersebut.
Sepasang pengantin baru itu berjalan bergandengan keluar dari kamar. Hendra menggenggam erat tangan istrinya lalu mengajaknya untuk melihat-lihat beberapa ruangan di lantai atas terlebih dahulu. Setelah itu baru nanti mereka turun ke lantai bawah.
"Wah, kamarnya juga luas Sayang. Ini kamar siapa?" tanya Tasya penasaran.
"Kamar ini belum ada yang tempati. Rencananya sih dulu aku buat untuk anak-anak."
"Anak-anak? Maksudnya, Sayang?" Tasya kurang mengerti, jadi dia kembali bertanya.
"Maksud aku, nanti kalau kita sudah punya anak, ini kamar untuk anak kita kalau mereka sudah tumbuh besar dan sudah bisa tidur sendiri."
"Oh."
Setelah merasa cukup untuk melihat-lihat kamar yang pertama, Hendra lalu membawa Tasya untuk memeriksa kamar yang kedua. Kata Hendra, kamar kedua itu sama seperti yang kamar yang pertama, memang sengaja dia siapkan untuk anak-anak mereka kelak.
"Untuk anak kita juga, Sayang?" tanya Tasya.
"Iya. Aku ingin punya anak lebih dari satu dari kamu, Sayang."
Dan yang terakhir Hendra membawa Tasya untuk melihat isi kamar yang berada paling ujung di lantai dua rumah mereka. Begitu Tasya masuk, dia melongo melihat isinya.
"Pantas aja badannya bagus," gumam Tasya.
Tasya kembali mengingat badan suaminya yang dia pijat tadi pagi.
Ternyata Hendra punya beberapa alat olahraga yang bisa menunjangnya untuk membentuk otot tubuhnya. Jadi dia tidak perlu lagi repot-repot pergi ke gym.
"Kamu bicara apa, Sayang?" tanya Hendra.
"Tidak kok, Sayang. Tidak ada apa-apa."
Tasya melangkah masuk melihat-lihat isi ruangan tersebut.
"Wah, Sayang. Alat-alat olahraga ini pasti mahal-mahal."
"Yah lumayan lah."
Setelah selesai melihat-lihat dan mencoba beberapa alat olahraga. Mereka berdua lalu turun untuk melihat-lihat ruangan-ruangan di lantai bawah.
Di lantai bawah atau lantai dasar, terdapat 3 buah kamar. Tapi tidak seluas kamar di lantai atas yang masing-masing terdiri dari 2 kamar tamu dan 1 kamar untuk asisten rumah tangga mereka.
Usai memeriksa semua ruangan yang ada di rumah itu, sekarang Hendra dan Tasya ada di ruang tengah.
Tasya duduk di sofa sedangkan Hendra berbaring di sofa sembari menjadikan paha istrinya sebagai bantal.
Hendra meraih remote tv yang ada di atas meja lalu memencetnya untuk menyalakan televisi. Dia memilih chanel khusus drama korea karena Hendra tahu istrinya menyukai itu.
Saat mereka berdua tengah menonton serial di televisi, tiba-tiba Tasya membuka suara.
"Hem. Iya, Sayang."
"Mm ... apa saya sudah boleh ke kampus besok?" tanyanya sambil membelai rambut suaminya.
Hendra berbalik menghadap ke arah atas menatap wajah cantik istrinya.
"Cium dulu, baru aku jawab." Hendra menunjuk pipinya meminta dicium.
Tasya menurut, lalu mencium semua bagian-bagian yang ditunjuk oleh suaminya. Lama-kelamaan dia mulai terbiasa.
"Sudah, Sayang. Sekarang, tolong jawab pertanyaan saya yang tadi," ujar Tasya.
"Sayang. Kamu 'kan bisa mengerjakan tugas kuliahmu secara online. Jadi ...." Hendra menggantung ucapannya.
"Jadi apa? Apa belum boleh, Sayang?"
Tasya merasa sedikit kecewa. Sepertinya Hendra masih belum mengijinkannya ke kampus.
"Sayang aku masih ingin bermesraan denganmu. Kita 'kan pengantin baru, apa kamu tidak ingin kita pergi berbulan madu?" tanya Hendra, sambil menyentuh pipi Tasya dengan lembut. Sebelah tangannya mengenggam erat tangan istrinya lalu meletakkan di dadanya.
Bulan madu? Aku benar-benar tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Batin Tasya.
"Sayang, bagaimana kalau bulan madunya kita tunda dulu? Tunggu sampai saya libur. Tidak lama lagi saya ujian final, nanti setelah itu saya akan libur selama tiga bulan."
*
Tasya sangat berharap Hendra akan setuju dengan usulannya. Sebenarnya, dia mencoba untuk mencari alasan yang masuk akal untuk menghindari sesuatu hal yang bisa saja terjadi saat mereka berbulan madu sekarang. Ia benar-benar belum siap untuk itu.
"Mm baiklah, sepertinya bukan ide buruk. Atau bagaimana kalau kita bulan madu saja setelah acara resepsi pernikahan kita?" usul Hendra.
"Itu ide bagus sayang." jawabnya sambil tersenyum dengan wajah cerah secerah sinar mentari.
"Syukurlah, berarti aku bisa selamat sampai satu bulan kedepannya." batinnya senang.
"Sayang. Kamu terlihat sangat senang sekali, kenapa?" ujar Hendra.
"Tentu saja sayang aku sangat senang. Kita kan akan pergi berbulan madu." jawabnya masih dengan wajah cerah berseri, memberi jawaban yang masuk akal yang sebenarnya tidak sesuai dengan isi hatinya.
"Kamu tidak sedang berpikir aku harus menunggumu siap sampai selama itu kan?" tanya Hendra ia mulai curiga.
"Ap apa? Ak aku ..." perasaannya mulai tidak enak.
"Ku beri kamu waktu selama satu minggu untuk mempersiapkan diri. Sayang, aku ini lelaki normal, aku tidak akan bisa tahan menunggu sampai selama itu." katanya lalu bangun dari pangkuan istrinya.
"Dug." Kata-kata Hendra seperti tamparan keras untuknya.
"Apa? Satu minggu? Apa aku tidak salah dengar? Aku akan kehilangan keperawananku satu minggu lagi hiks." batinnya. Badannya terasa lemas tak berdaya.
"Sayang aku lapar, ayo kita makan." kata Hendra lalu menarik tangan istrinya yang masih duduk.
Hendra menarik tangan istrinya menuju ke ruang makan. Ia merasakan tangan istrinya dingin dan gemetar. Pasti karena kata-katanya tadi, pikirnya.
"Sayang duduklah. Biar aku yang mengambil makanan." mendudukkan istrinya di kursi meja makan. Ia takut kalau istrinya akan memecahkan gelas atau piring kalau dia yang menyiapkan makanan untuknya.
Tasya duduk diam dan menurut. Kata-kata Hendra barusan seperti hantu yang bergentayangan di pikirannya. Sangat menyeramkan, pikirnya.
Hendra duduk disamping istrinya setelah mengambil makanan. Ia menyodorkan makanan ke mulut Tasya.
"Sayang. Buka mulutmu aaa." katanya sambil membuka mulutnya.
"Tidak sayang. Aku tidak lapar. Kamu saja yang makan." menolak, tiba-tiba ia kehilangan selera makan setelah mendengar ucapan Hendra
Hendra sekarang makan sendiri, ia tidak berani menyuruh istrinya menyuapinya kali ini. Ia melihat tangan Tasya masih gemetar wajahnya juga masih terlihat pucat.
"Maafkan aku sayang membuatmu ketakutan. Kamu hanya belum tahu saja rasanya bercinta denganku hehe." batinnya lalu berusaha menghabiskan makanannya.
"Satu minggu. Satu minggu lagi! Aah aku bisa gila. Bagaimana aku bisa tenang mengikuti Ujian Akhir Semesterku minggu depan? Hiks hiks. Helloo apakah ada yang bisa menolongku kali ini? Tolong selamatkan aku hingga ujianku selesai." batinnya.
"Sayang. Ayo kita naik ke kamar." ajak Hendra setelah membereskan makanannya.