
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu ya.
...----------------...
"Ternyata kecurigaanku akhir-akhir ini benar." batin Hendra
"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Hendra.
Tania sudah tidak mau berkomentar lagi. Ia pasrah, ia membiarkan Radit yang menjawab semua pertanyaan Hendra.
"Masih baru kak. Belum satu minggu." jawab Radit sambil sesekali melirik ke arah Tania.
"Oh yah. Ternyata masih baru sekali yah." lanjut Hendra.
"Iya kak masih baru." jawab Radit sambil melirik ke arah Tania yang sudah menunduk dari tadi.
"Aku harap kalian berdua bisa menjaga nama baik keluarga kita. Terutama kamu Dit, Aku harap kamu bisa menjaga Tania dengan baik. Aku berbicara padamu sebagai sesama laki-laki, kamu mengerti kan apa maksudku?" tanya Hendra sambil melihat Radit dan Tania secara bergantian.
"Iya kak, Radit mengerti. Itu sebabnya kan, kenapa bulan lalu, Kak Hendra cepat-cepat melamar kakak ipar dan meminta agar akadnya buru-buru diselenggarakan." ledek Radit sambil mengulum tawanya.
Tasya terkejut mendengar ucapan Radit.
"Ucapan kamu benar sekali Dit. Hehe." batin Tasya sambil mengulum tawanya dan membenarkan ucapan Radit.
"Ehm ..." Hendra berdehem sambil membuang mukanya. Wajahnya bersemu merah karena malu diledek Radit.
"Radit. Aku serius." tegas Hendra.
"Aku juga serius kak. Aku berbicars berdasarkan fakta yang ada. Hehe. Bercanda bercanda, jangan dimasukkan kedalam hati." ucap Radit saat menyadari perubahan ekspresi wajah kakak sepupunya itu.
"Iya kak, baiklah. Aku mengerti maksudmu. Dan tentu saja aku akan menjaga Tania sampai dia benar-benar menjadi milikku seutuhnya. Kak Hendra dan kakak ipar tidak perlu khawatir. Percayalah padaku, aku akan menjaga Tania dengan baik." jelas Radit dengan mimik muka serius.
"Dert ... dert." ponsel Hendra bergetar.
Hendra melihat panggilan masuk di layar ponselnya. Ia segera menjawabnya setelah tahu panggilan itu dari Pak Gunawan, papanya sendiri.
"Halo. Assalamu'alaikum Pa." ucap Hendra saat menjawab telpon dari Pak Gunawan.
"Wa'alaikum salam. Kamu lagi dimana Hend? Ini papa sama mamamu lagi ada di teras rumahmu sekarang." tanya Pak Gunawan.
"Hendra lagi di mall Pa. Lagi jalan-jalan sama Tasya." jawab Hendra.
"Apa kalian masih lama? Papa sama mama kesini karena kangen dengan masakan menantu kami." jelas Pak Gunawan sambil menoleh ke arah istrinya yang duduk di kursi teras. Bu Arini hanya mengangguk sambil tersenyum pada suaminya.
"Oke. Papa tunggu yah." ujar Pak Gunawan.
"Iya. Pa." balas Hendra.
Sambungan telpon terputus.
"Ada apa sayang?" tanya Tasya.
"Papa sama mama sekarang ada dirumah. Katanya mereka rindu sama masakan kamu." jelas Hendra seraya tersenyum.
"Oh yah. Ayo kita pulang sekarang." ajak Tasya. Ia terlihat senang dan bersemangat mendegar mertuanya ada dirumah mereka dan merindukan masakannya.
"Ayo!" balas Hendra.
"Oh iya. Radit. Tania. Kami pulang duluan yah. Kalian jangan kesorean pulangnya nanti." pesan Hendra.
"Iya kak." jawab Radit dan Tania bersamaan.
"Tania. Radit. Kakak ingin berbicara enam mata dengan kalian. Datanglah kerumah besok. Atau kalau tidak, kalian bisa datang menemuiku hari minggu. Aku tunggu kedatangan kalian, jangan sampai kalian tidak datang." titah Tasya pada Tania dan Radit.
"Iya kak." jawab Radit dan Tania.
"Sudah sore. Kalian sebaiknya juga pulang sekarang." perintah Tasya.
"Tania. Apa kamu mau ikut pulang bersama kami?" tanya Tasya.
Jujur didalam hatinya, Tasya mengkhawatirkan Tania yang sudah punya pacar sekarang. Karena menurut pendapat Tasya sendiri, pacaran itu tidak ada baiknya, yang ada hanya akan menimbulkan dosa bagi orang-orang yang menyandang status itu. Makanya, dulu ia tidak pernah mau berpacaran, meskipun dengan laki-laki yang sangat ia cintai dan mencintainya dulu, yaitu Fathur.
"Nggak usah kakak ipar. Biar Tania pulang bersamaku. Tania datang kesini bersamaku, jadi pulangnya juga harus bersamaku." Radit menjawab pertanyaan Tasya dengan cepat. Tania hanya melirik ke arah Radit. Ia tidak berani menatap kakaknya.
"Sayang. Biarkan saja mereka. Kamu tidak perlu khawatir. Aku kenal baik siapa Radit. Dia pasti tidak akan macam-macam pada Tania." bela Hendra.
"Baiklah. Kalau begitu kami pulang duluan yah. Kalian hati-hati dijalan. Jaga diri kalian." pesan Tasya sebelum ia dan Hendra beranjak meninggalkan tempat itu.
Setelah Hendra dan Tasya pulang. Radit dan Tania masih duduk ditempatnya.
"Dit. Kenapa kamu mengakui hubungan kita didepan Kak Hendra dan Kak Tasya. Apa kamu lupa bagaimana aku bisa menjadi pacar kamu?" tanya Tania. Ia akhirnya bisa meluapkan kekesalannya pada Radit.
"Apanya yang salah Nia? Mereka itu kakak dan kakak iparmu. Posisi kamu sama saja denganku. Kak Hendra kakak sepupuku dan kakakmu adalah kakak iparku. Apa yang kamu takutkan? Jangankan didepan mereka. Didepan ibumu pun aku sudah pernah mengakuinya." jelas Radit.
"Apa?!" pekik Tania.