How To Love You

How To Love You
Bab 90



"Dit. Aku minta maaf banget yah. Aduh, pasti sakit banget. Aku beneran nggak sengaja tadi. Aku nggak nyangka kalo jadinya bakal seperti ini." jelas Tania. Ia lalu meniup pelan luka Radit yang menurutnya bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya.


Radit merasa sangat senang sekaligus bahagia karena Tania benar-benar memperhatikannya kali ini. Walau pada kenyataannya Tania perhatian karena sebenarnya ia hanya merasa bersalah pada Radit karena telah membuatnya terluka.


"Nggak apa-apa kok Nia. Aku tau kamu pasti nggak sengaja. Ini semua salahku, aku yang sudah keterlaluan tadi bercanda menggoda kamu sampai kamu akhirnya benar-benar marah padaku lalu mendorongku." jelas Radit. Ia tidak ingin menyudutkan Tania dalam kejadian ini.


"Tetap saja ini salahku Dit. Aku yang sudah membuat kamu jadi seperti ini. Kamu tunggu disini dulu yah. Aku mau cariin kamu obat dulu." ucap Tania lalu segera  beranjak mencari obat di lemari dapur.


Setelah menemukan kotak obat, ia pun kembali dan duduk disamping Radit. Ia membuka kotak P3K itu lalu mengambil obat luka beserta perban yang sudah tersedia di kotak putih itu.


"Hadap sini Dit." perintah Tania. Mereka duduk sambil berhadapan. Tania mulai membersihkan luka Radit dengan kapas yang sudah ditetesi sedikit alkohol 70%.


"Auwh perih banget Nia, pelan-pelan." Radit mengeluh kesakitan sambil menarik kebawah tangan Tania yang sedang mengobati lukanya.


"Tahan yah Dit. Ini aku juga udah pelan-pelan kok. Tahan dikit yah." ujar Tania lalu kembali membersihkan luka Radit.


Radit pun menurut apa kata Tania, meskipun raut wajahnya memperlihatkan kalau dia sangat kesakitan, tapi dia berusaha menahannya. Tania terus mengobati luka Radit tahap demi tahap hingga akhirnya selesai di perban.


"Oke selesai." kata Tania.


"Makasih yah Nia. Kamu udah ngobatin luka aku." ucap Radit senang.


"Jangan berterima kasih. Ini sudah menjadi tanggung jawabku, karena aku yang membuat kamu jadi begini." balas Tania.


"Nia, kamu mau tau nggak, ada loh obat alami yang bisa menyembuhkan lukaku ini dalam waktu sekejap. Dan ... tentunya jadi nggak sakit lagi." ucap Radit sambil menunjuk lukanya.


"Oh yah, obat alami? Obat apa itu Dit? Nanti aku ambilin." tanya Tania penasaran.


"Nggak usah diambil. Obatnya udah ada di kamu kok sayang." jawab Radit sambil tersenyum penuh arti.


"Maksud kamu?" tanya Tania. Ia benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Radit.


Radit tersenyum lalu menjawab, "Sun." ucapnya sambil menunjuk lukanya. Ia meminta Tania untuk mencium lukanya.


"Apa? Cium? Ketahuan, modus banget kamu yah." ucap Tania sambil mencubit paha Radit yang masih duduk berhadapan dengannya.


"Auwh auwh auwh, sakit Nia. Yah udah kalau kamu nggak mau, aku juga nggak maksa kok." kata Radit.


"Udah ah Dit, aku mau masak dulu." ujar Tania menghindar dari Radit. Ia sebenarnya malu kalau sampai benar-benar harus mencium Radit.


"Loh, masa kamu mau ninggalin aku sih Nia?" Radit kecewa karena Tania tidak duduk menemaninya di meja makan.


"Ninggalin gimana sih maksud kamu Dit? Aku kan cuma didapur, jaraknya juga cuma lima meteran loh dari tempat duduk kamu sekarang." jelas Tania.


"Aku kan cuma pengen ditemenin sama kamu Nia." ucap Radit dengan wajah memelas.


Tania geleng-geleng kepala melihat tingkah Radit yang kekanak-kanakan menurutnya.


"Sebentar yah, aku ambilin sesuatu buat nemenin kamu duduk disitu. Aku mohon pengertian kamu Dit. Ini udah hampir masuk waktu jam makan siang. Aku harus masak, Kak Tasya mana lagi kok nggak turun-turun juga sampai sekarang? Katanya mau mandi, tapi kok lama banget." kata Tania sambil berjalan mengambil kue dan minuman yang ditunjuk Radit tadi di kulkas.


"Kamu harusnya seneng Nia kalau Kak Tasya dan Kak Hendra belum turun juga sampai sekarang." ucap Radit sambil tersenyum misterius.


"Heh? Maksud kamu Dit?" tanya Tania bingung sambil meletakkan kue dan minuman yang ia ambil di kulkas barusan untuk Radit.


"Eh mana aku tau Dit. Aku kan belum pernah nikah. Pacaran aja baru kali ini. Itu pun karena terpaksa." sindir Tania.


Radit tertawa mendengar sindiran Tania padanya, "Mereka pasti lagi bikinin kita ponakan tau." ucapnya lalu kembali memasukkan kue lagi kedalam mulutnya.


"Sok tau kamu. Kayak kamu udah pernah nikah aja." ucap Tania sewot.


"Yee emang gitu kok kenyataannya. Kamu juga nanti kalau udah nikah sama aku pasti kayak gitu juga." goda Radit.


"Ngekhayal aja kerjaan kamu Dit. Udah ah, aku mau masak." kata Tania lalu beranjak menuju dapur.


Radit tersenyum melihat Tania yang selalu menghindar saat ia goda. Ia merasa semakin gemas dan semakin bersemangat untuk menggoda gadis kesayangannya itu. Ia pun segera menghabiskan makanan dan minuman yang ada di depannya. Ia menghampiri Tania yang sedang sibuk bergelut dengan bahan masakan di dapur.


"Ada yang bisa aku bantu Nia?" tanya Radit yang berdiri di samping Tania.


"Sebaiknya kamu duduk aja Dit, kamu baru aja terluka. Lagian laki-laki emangnya bisa apa sih kalau didapur?" tanya Tania yang tidak percaya dengan kemampuan Radit.


"Kamu jangan remehin aku yah Nia. Begini-begini aku sering loh bantuin mama aku masak." ucap Radit membanggakan diri.


"Masa sih? Kamu serius?" tanya Tania kurang percaya.


"Iyalah. Sini pisaunya. Biar aku yang potong-potong sayurannya. Kamu kerja yang lain aja." perintah Radit.


Tania menurut, ia ingin melihat kemampuan Radit. Radit terlihat lincah saat memotong sayuran dan bahan-bahan lainnya. Tania jadi lupa dengan pekerjaannya. Ia malah sibuk memperhatikan Radit yang sedang membantunya.


"Kamu hebat juga Dit. Aku nggak nyangka loh." puji Tania yang kagum melihat kemampuan Radit.


"Iya dong. Radit gitu loh." ucap Radit membanggakan diri yang memang sudah menjadi ciri khasnya. Tania tersenyum mendengar ucapan Radit.


"Nia. Kalau nanti kita udah nikah. Aku akan sering-sering masak buat kamu." ucap Radit sambil tersenyum melirik ke arah Tania yang terus-terusan memperhatikannya dari tadi.


"Kamu tuh yah Dit, bisa nggak sih kamu berhenti ngekhayal?" kata Tania. Ia lalu kembali melanjutkan pekerjaannya sendiri. Perkataan Radit barusan mebuatnya malu-malu dan salah tingkah.


"Emangnya kenapa? Kan harusnya kita emang udah ngomongin semua ini kan dari awal. Dan kamu Nia, berhenti menyebut aku berkhayal, aku nggak suka dengernya. Karena aku yakin, kamu pasti akan menjadi istriku nanti dimasa yang akan mendatang. Menjadi pendamping hidupku dan juga menjadi ibu dari anak-anakku." ucap Radit memperingati sambil menunjuk-nunjuk Tania.


Tania tidak tahu harus berkata apa-apa untuk membalas perkataan Radit. Ia memilih untuk tidak menggubris dan melanjutkan pekerjaannya. Kata-kata Radit membuat jantungnya berdebar-debar, tapi ia memilih untuk tidak menghiraukannya.


"Nia. Aku mau masakin kamu tumis labu siam rasa cinta dan kasih sayang ala-ala aku." ucap Radit sambil mengambil teflon di dalam lemari dapur.


Tania tergelak mendengar penuturan Radit, "Hahaha. Kamu bisa aja Dit ngegombalnya." ucap Tania.


"Aku lagi nggak ngegombal Nia. Aku serius. Nanti kamu harus makan yang banyak masakan yang aku buatin spesial buat kamu." jelas Radit.


"Ya ya. Baiklah Chef Raditya, saya akan makan yang banyak kalau masakan Anda layak untuk dimakan." ujar Tania sambil tersenyum pada Radit.


"Tentu saja masakan saya akan enak Nyonya Radit, karena saya memasaknya pakai cinta." balas Radit.


"Yah, dipanggil Nyonya Radit lagi. Kamu kayaknya pengen banget Dit nikah sama aku." batin Tania.


Tania menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendengus kasar mendengar gelar yang diberikan Radit untuknya.