How To Love You

How To Love You
Bertemu Calon Mertua



"Apakah orang itu adalah Fathur?"


"Iya."


Aku kalah. Benar-benar kalah. Batin Hendra, sambil mengepalkan tangannya.


Bongkahan tanah sebesar kepalan orang dewasa Hendra lemparkan ke dalam air. Di saat seperti ini rasanya dia ingin menggila namun berhasil dia tahan karena dia tidak ingin Tasya malah berubah menjadi takut padanya.


"Tasya, aku mohon. Tolong lihat aku sebentar ... saja," pinta Hendra dengan wajah sendu.


Tasya memberanikan diri menatapnya meski pun terasa malu dan canggung.


"Apakah selama ini aku terlihat tidak bersungguh-sungguh mengejarmu? Atau apakah kamu merasa aku tidak tulus mencintaimu? Kenapa kamu selalu mengabaikan perasaanku selama ini?" tanya Hendra, matanya sudah sangat merah dan berkaca-kaca.


Aduh kenapa pakai tampang menyedihkan begitu sih? Aku 'kan jadi kasihan. Batin Tasya.


Tasya memberanikan diri menjawab, "Bu-bukannya begitu, Kak. Saya hanya ... itu karena saya sudah menyukai Fathur jauh sebelum Kak Hendra datang."


"Oh, jadi seperti itu rupanya. Pantas."


Sepertinya aku memang tidak punya harapan sedikit pun. Batin Hendra sambil kembali melemparkan batu ke dalam air.


"Dan saya juga gak mau ngasih Kak Hendra harapan palsu," kata Tasya lagi.


"Apakah kamu bahagia dengannya?" tanya Hendra, mau tidak mau dia harus belajar ikhlas.


"Iya. Saya sangat bahagia, Kak."


Hendra menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan lewat mulut. Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk tegar dan mengikhlaskan Tasya untuk Fathur.


"Baiklah. Kalau memang sekarang kamu sudah bahagia bersamanya, aku akan belajar mengikhlaskanmu." Sebisa mungkin Hendra membuat kedua sudut bibirnya terangkat meski pun sebenarnya sangat terpaksa dan sulit terasa.


"Terima kasih, Kak. Dan maaf, saya sudah membuat Kak Hendra kecewa. Semoga Kak Hendra bisa menemukan gadis yang jauh lebih baik dari saya."


Hendra tersenyum kecut. "Terima kasih. Kamu tidak perlu meminta maaf. Ini semua salahku. Kamu tidak salah apa-apa. Aku yang sudah terlalu banyak berharap padamu, meskipun aku tahu kamu tidak mempedulikanku sama sekali dan selalu mengabaikanku. Tapi aku ingin kamu tahu satu hal, jika suatu saat nanti Fathur menyakitimu atau pun mencampakkanmu, aku berjanji, aku tidak akan melepaskanmu bagaimana pun caranya. Aku juga tidak akan peduli lagi kamu mau menerimaku atau tidak, kamu mencintaiku atau tidak. Yang jelas, satu-satunya hal yang aku lakukan padamu adalah mengajarimu cara mencintaiku."


Tasya terkejut mendengarkan ucapan Hendra barusan. Gadis itu tidak pernah menyangka kalau Hendra akan mengatakan hal-hal yang membuat bulu kuduknya meremang.


Ih ... ucapan kak Hendra yang barusan itu sebenarnya horor atau bagaimana sih? Kok aku jadi merinding begini. Aneh. Batin Tasya sambil memegangi tengkuknya.


"Ayo kita pulang," ajak Hendra.


Pemuda itu bergegas menuju mobilnya dan Tasya pun mengekor di belakangnya. Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya.


1 minggu kemudian, Tasya berhenti bekerja di toko. Dia ingin fokus pada persiapannya masuk ke universitas. Sedangkan Hendra, setelah Tasya berhenti bekerja di toko, dia pun juga berhenti bekerja sebagai Staf Tata Usaha di sekolah. Sekarang dia memutuskan untuk membantu papanya mengelola dan mengembangkan usaha. Ditambah lagi dia sebenarnya juga punya investasi sendiri yang menghasilkan banyak pundi-pundi rupiah. Itu sebabnya selama ini dia terkesan bermain-main dan membuang-buang waktu.


...----------------...


7 bulan kemudian, hubungan Tasya dan Fathur berjalan semakin baik tanpa ada konflik sekecil apapun. Mereka juga sudah cukup banyak mengenal dan memahami satu sama lain. Meskipun tanpa ikatan status yang dinamakan pacaran, perasaan cinta dan sayang diantara mereka semakin hari kian membesar. Perasaan saling menjaga dan melindungi, perasaan ingin memiliki satu sama lain.


Hingga pada akhirnya Fathur mantap ingin menikahi Tasya secepatnya. Meskipun awalnya Tasya sempat menolak dengan alasan ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu, namun Fathur berhasil meyakinkannya hingga akhirnya gadis itu pun setuju.


Kini tibalah saatnya mereka meminta restu pada orang tua mereka. Karena kedua orang tua Tasya sudah pasti setuju, jadi, sekarang ini orang pertama yang akan mereka mintai restunya adalah bpu Susi, mamanya Fathur.


"Ayo turun," ajak Fathur, setelah pemuda itu memarkirkan mobilnya di halaman depan rumahnya.!


"Tunggu sebentar, aku masih deg-degan nih." Tasya memegangi dadanya yang berdebar cukup kencang.!


"Baiklah." Tasya menarik napas dalam-dalam lalu turun dari mobil bersama Fathur.


Keduanya pun lalu masuk ke dalam rumah hendak meminta restu pada bu Susi. Saat itu mamanya Fathur tersebut sedang menonton televisi di ruang tengah rumah besarnya. Melihat hal tersebut, Fathur dan Tasya pun berjalan menghampirinya.


"Ma!" panggil Fathur.


"Iya Sayang," sahut Bu Susi.


"Eh, ada Tasya juga rupanya," imbuh bu Susi lalu mematikan televisi menggunakan remot!.


"Assalamu'alaikum, Tante!" sapa Tasya, sambil menyalami tangan Bu Susi.


"Wa'alaikum salam. Ayo silahkan duduk," jawab bu Susi ramah.


Bu Susi terlihat biasa saja melihat Fathur datang bersama Tasya. Itu karena dia tahu kalau Tasya adalah anak dari kerabat dekat suaminya. Ditambah lagi Fathur yang kabarnya sangat akrab dengan adik sepupunya tersebut, yaitu Tasya.


"Makasih, Tante." Tasya pun kemudian duduk di sofa panjang bersama Fathur.


"Tumben kalian datang bareng? Rupanya kalian berdua memang sangat dekat dan akrab ya," kata Bu Susi.


Tasya hanya mengangguk dan tersenyum karena malu-malu dan canggung.


"Tasy, kamu bicaralah sebentar sama Mama. Aku mau naik ganti baju dulu di kamar," bisik Fathur. Tasya pun mengangguki.


Fathur lalu berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Fathur ingin ganti baju dulu sebelum mengantar Tasya ke kampus.


"Oh iya, memangnya kalian mau kemana?" tanya bu Susi.


"Mm ... Fathur mau mengantar saya ke kampus Tante," jawab Tasya.


"Oh berarti kamu memang cukup dekat ya sama sepupu kamu. Buktinya, Fathur bahkan mau mengantar kamu ke kampus."


"Iya Tante." Tasya tersenyum dan mengangguk sopan. Namanya juga bicara sama calon mertua.


Bu Susi terlihat sangat senang sekali. Ia kemudian berpindah tempat duduk disamping Tasya.


"Tasya. Tante senang sekali akhirnya Fathur punya teman dekat disini," kata bu Susi, sambil memegang punggung tangan Tasya.


Tasya tidak tahu harus berkata apa, jadi dia memutuskan untuk tersenyum saja.


"Tasya, Tante boleh tidak minta bantuan sama kamu?" tanya Bu Susi.


"Minta bantuan apa tante?" balas Tasya balik bertanya.


Bu Susi meraih smartphonenya yang ada diatas meja.


"Kamu cukup mengenal Fathur dengan baik, 'kan?" tanya Bu Susi lagi.


"Iya tante. Lumayan," jawab Tasya.


Bu Susi kemudian memperlihatkan 3 buah foto pada Tasya.


"Kira-kira dari ketiga gadis di foto ini, mana yang paling cocok menurut kamu untuk menjadi calon istri Fathur?" tanya Bu Susi.