
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
...----------------...
Radit terus mendekatkan wajahnya pada wajah Tania hingga jaraknya hanya kurang lebih 10 cm. Tania merasakan hembusan napas Radit semakin dekat pada wajahnya.
Tania sudah tidak tahan lagi dengan kepura-puraannya. Ia memutuskan untuk membuka matanya dan bangun. Saat matanya terbuka ia melihat wajah Radit semakin dekat dan sedikit lagi menciumnya.
"Kyaaak." sontak saja Tania berteriak sambil mendorong tubuh Radit hingga jatuh tersungkur di lantai. Ia buru-buru bangun dan duduk sambil memegang dadanya. Jantungnya hampir saja copot. Hampir saja ciuman pertamanya diambil Radit gara-gara kebodohannya yang pura-pura pingsan segala.
Radit yang terjatuh bukannya mengadu kesakitan malah tertawa terbahak-bahak sambil berusaha duduk dari posisinya.
"Kamu kenapa tertawa? Apanya yang lucu? Apa kamu sedang mengerjaiku lagi?" tanya Tania kesal.
"Kamu benar-benar lucu sekali Nia. Pake acara pura-pura pingsan segala. Hahaha." jawab Radit.
Tania marah, kesal, geram dan malu bercampur aduk menjadi satu. Ia melempar Radit dengan bantal karena sekali lagi Radit berhasil mengerjainya.
"Auwh. Hahaha. Maaf, maaf." ucap Radit saat bantal mendarat mengenai kepalanya.
"Maaf, maaf. Sini kunci mobilmu. Aku mau cepat-cepat ambil handphoneku." ujar Tania kesal sambil menengadahkan sebelah tangannya ke arah Radit.
"Kamu beneran mau kunci mobilku?" tanya Radit sambil duduk di sebuah sofa tunggal yang terletak di dekat jendela. Ia mengatur jarak karena tidak mau Tania berpikir yang aneh-aneh lagi padanya.
"Iyalah. Mau apa lagi. Aku mau ngambil handphoneku Dit, hand...phone." jawab Tania menekankan ucapannya.
Sebenarnya Tania sudah capek bermain-main dengan Radit pagi ini. Ia ingin segera mengakhiri permainan kucing-kucingannya.
"Boleh. Tapi ada syaratnya." ucap Radit sambil tersenyum misterius ke arah Tania.
"Syarat apa lagi sih Dit? Aku tuh capek main-main sama kamu tau. Aku belum makan atau minum apapun pagi ini." ucap Tania sambil mendengus kesal dan cemberut.
"Kamu boleh keluar setelah kamu menyetujui persyaratanku. Kalau kamu nggak setuju, yah terpaksa kamu harus menemaniku menghabiskan harimu dikamar ini." ancam Radit.
"Kamu gila yah. Ini aja aku udah kehabisan tenaga. Apalagi kalau aku harus tinggal disini seharian. Bisa-bisa aku pingsan betulan nanti." balas Tania.
"Memangnya persyaratan apa sih? Jangan yang aneh-aneh yah." tanya Tania penasaran.
"Nggak aneh-aneh kok. Aku cuma mau ... kamu jadi pacarku." jawab Radit seraya menaik turunkan sebelah alisnya.
Tania sangat kaget mendengarkan persyaratan dari Radit.
"Nggaaaaaak. Aku nggak mau. Aku nggak suka sama kamu. Kamu cowok paling menyebalkan yang pernah aku kenal." tolak Tania sambil berteriak. Ia semakin kesal pada Radit.
Radit tersenyum mendengar penolakan dari Tania lalu berkata,
"Beneran nih. Nggak mau? Yakin kamu nolak aku Nia? Apa kamu nggak nyesel nanti nolak cowok ganteng dan baik seperti aku ini?" ucap Radit tertawa dengan penuh percaya diri.
"Iyalah. Aku yakin se yakin yakinnya. Ayo cepetan buka pintunya aku mau pulang. Handphoneku biar dimobil kamu aja. Aku sudah nggak peduli." ucap Tania seraya turun dari tempat tidur Radit dan berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya menuju pintu.
Ia sangat kesal dan marah pada Radit. Kali ini ia sudah tidak peduli lagi dengan handphonenya. Ia sudah menghabiskan banyak tenaga untuk mengambil benda persegi panjang tersebut. Bahkan ia sendiri sampai terjebak didalam kamar Radit si cowok paling menyebalkan, dari sudut pandang Tania tentunya. Ia berencana untuk meminta bantuan Hendra untuk mengambil Handphonenya yang ketinggalan di mobil Radit.
Melihat Tania yang sudah sangat kesal dan marah padanya. Radit pun melemparkan kunci kamarnya dan jatuh tepat di depan kaki Tania. Tania merasa sangat senang sekaligus lega.
"Akhirnya ... aku bisa keluar dari sini tanpa perlu menyetujui persyaratan gila dari si Radit menyebalkan itu." batin Tania. Ia pun lalu mengambil kunci itu.
"Nia. Kamu kenal nggak siapa cewek ini?" tanya Radit sambil memperlihatkan sebuah foto seksi seorang cewek di layar smartphonenya. Nggak seksi-seksi amat sih. Tapi bagi perempuan berhijab, hal yang seperti itu adalah aib.
Tania tidak bergeming. Ia terus mencari kunci yang cocok untuk membuka pintu kamar ini.
"Nia. Kalau kamu nggak mau melihatnya. Aku pastikan kamu akan menyesalinya." ucap Radit dengan nada mengancam.
Tania tetap tidak bergeming. Ia tetap fokus mencari kunci yang cocok dengan lubang kunci pintu kamar tersebut.
"Klik." Suara kunci pintu terbuka.
Senyum bahagia tersungging di bibir Tania. Akhirnya, ia bisa keluar dari tempat menyiksa itu. Namun tidak demikian dengan Radit. Ia tidak akan rela melepas Tania dengan mudah begitu saja. Tania segera membuka pintu putih itu, ia hendak melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu.