How To Love You

How To Love You
Bab 170



"Ada apa Dit?" tanya Hendra.


"Kenapa Dit, kenapa kamu tiba-tiba berhenti?" tanya Tasya penasaran.


"Sepertinya di depan ada kecelakaan, Kak." Kali ini Tania yang menjawab.


"Iya, sepertinya memang begitu," tambah Radit.


"Aku pikir tadi kita hampir menabrak seseorang. Jantungku rasanya mau copot," ucap Tasya sembari memegang dadanya.


"Kamu tenang dulu ya, Sayang," ucap Hendra sembari memeluk istrinya untuk menenangkannya.


"Dimana ada kecelakaan?" tanya Hendra.


"Itu Kak, sekitar 50 meter di depan kita. Kayaknya ada orang tabrakan deh."


Jika yang lainnya masih panik, beda halnya dengan Miko. Senyumannya terus-terusan saja tersungging di bibirnya. Ia merasa sangat senang karena ia membaringkan Tantri di  pangkuannya. Tadinya ia menawarkan pundaknya untuk dijadikan sandaran oleh gadis itu, tapi Tantri malah menolak tawarannya. Eh ujung-ujungnya Tantri malah tertidur berbantalkan pahanya.


Kasihan sekali, kamu pasti capek. Ini semua gara-gara aku yang terlalu egois yang membuat Hendra memaksa kamu untuk ikut bersama kami malam ini. Harusnya kamu istirahat saja dirumah. Batin Miko.


Andai saja ini disiang hari, aku pasti bisa melihat wajah cantikmu dengan jelas. Batin Miko sembari tersenyum senang.


Ingin sekali rasanya Miko menyentuh pipi mulus milik Tantri, tapi sayang ia pun mengurungkan niatnya karena takut Tantri terbangun. Ia pun membiarkan gadis itu tertidur dipangkuannya selama hampir setengah jam lamanya hingga akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Mereka terlambat sampai karena kecelakaan tadi sempat menghalangi jalan mereka.


Setelah mereka sampai, Hendra, Tasya, Radit dan juga Tania segera beranjak turun dari mobil lalu segera menghampiri gerobak milik tukang sate. Setelah memesan makanan untuk mereka berenam, mereka pun lalu mengambil tempat duduk di meja panjang yang tersedia untuk para pelanggan disana. Meja itu muat hingga 10 orang.


"Loh, Tantri sama Kak Miko kemana?" tanya Tasya yang baru menyadari kalau Tantri dan Miko sedang tidak bersama mereka.


"Hem, jangan-jangan Tantri ketiduran lagi Kak di mobil. Soalnya tadi dia memang udah ngantuk banget," jelas Tania.


"Kamu serius, Dek?" tanya Tasya lagi pada Tania.


"Iya Kak, aku serius." jawab Tania meyakinkan.


"Nah, terus Kak Miko kemana? Apa dia juga ketiduran sama seperti Tantri?" tanya Tasya lagi.


"Sebentar sayang aku cek dulu," ujar Hendra lalu segera beranjak menghampiri Miko yang masih  berada didalam mobil.


"Mik, Miko!" panggil Hendra.


"Ssst. Jangan ribut Lo!" ucap Miko.


"Kenapa emang?" tanya Hendra sembari mengecilkan volume suaranya.


"Tantri lagi tidur." jawab Miko seraya berbisik.


"Kenapa nggak Lo bangunin? Emang Lo mau berduaan terus di mobil kayak gitu? Mana bisa bikin perut kenyang. Mending Lo bangunin deh sekarang biar kita bisa makan bareng-bareng nanti," ujar Hendra.


"Yah udah deh, entar Gue coba bangunin." balas Miko.


"Oke, Gue tunggu kalian disana. Jangan lama-lama!" ucap Hendra sembari menunjuk tempat duduknya bersama yang lainnya.


"Siip." kata Miko seraya mengacungkan jari jempolnya.


Setelah Hendra berlalu, barulah Miko mencoba membangunkan Tantri.


"Tantri!" panggil Miko sembari menggoyangkan pelan bahu Tantri.


Merasa ada yang memanggil dan menggoyangkan bahunya, Tantri pun perlahan-lahan membuka matanya.


"Aku dimana? Kok gelap?" batin Tantri.


Tantri menghirup napasnya dalam-dalam. Ia ingin mencium lebih dalam aroma yang mampu menggoda indera penciumannya itu.


"Apa ini? Bantal apa ini? Kenapa rasanya tinggi sekali? Eh, ini paha bukan, tapi paha siapa?" batin Tantri sembari meraba paha Miko yang ia jadikan bantal sejak tadi.


"Tantri, bangun!" panggil Miko lagi. Ia merasa geli karena Tantri meraba pahanya.


"Kak Miko!" ucap Tantri sembari terburu-buru untuk bangun.


"Astaga, kok aku bisa tidur di pangkuan Kak Miko sih?" tanya Tantri bingung.


Tantri merasa malu sendiri pada Miko. Ia ingat kalau ia pernah menolak tawaran Miko tadi yang ingin meminjamkan bahunya untuk ia tempati bersandar. Ternyata ia malah tertidur di pangkuan laki-laki dewasa berkedok remaja itu.


"Aku minta maaf banget yah Kak. Aku juga nggak tau kenapa aku bisa tertidur dipaha Kak Miko,"


"Tidak apa-apa, aku juga tidak keberatan kok. " balas Miko. Ia mengatakan kalau dirinya tidak keberatan karena memang ia cukup menikmati moment langka tersebut.


Tantri kembali mencium aroma tadi. Ia mengendus-enduskan hidungnya. Aroma itu semakin kuat saat ia mendekatkan hidungnya ke arah Miko.


Jantung Miko berdegup kencang saat ia melihat Tantri semakin mendekatkan kepalanya ke arahnya.


"Anak ini mau apa? Apa dia mau menciumku?" batin Miko keGR-an.


Miko berusaha mengondisikan detak jantungnya yang mulai berdetak tidak karuan.


"Kenapa jantungku rasanya mau copot begini sih? Ini bukan pertama kalinya kan aku mau dicium oleh seorang gadis. Dulu Lyvia juga sering menciumku, tapi rasanya aku tidak segugup ini." batin Miko lagi.


Detak jantung Miko semakin menjadi-jadi saat ia melihat kepala Tantri semakin mendekat ke arahnya.


Aku harus mempersiapkan diri. Batin Miko sembari menarik napasnya dalam-dalam lalu ia memejamkan matanya menunggu Tantri menciumnya.


"Emm, eh ternyata aroma parfum Kak Miko, yah?" ucap Tantri sembari mengendus-endus baju Miko.


Miko membulatkan matanya yang tadinya sempat terpejam, ia jadi malu sendiri karena telah berpikir yang aneh-aneh.


Sial, kenapa aku bisa berpikiran seperti ini sih? Untung saja disini gelap, kalau tidak, mukaku mau ditaro dimana? Aku juga tidak mau Tantri memiliki kesan buruk padaku. Batin Miko.


"Baunya enak banget, Kak. Aku jadi kepengen makan cokelat tau nggak," ucap Tantri sembari masih mencium aroma parfum Miko. Ia merasa suka berlama-lama disana.


"Ka kamu suka?" tanya Miko masih gugup.


Tantri hanya mengangguk. Ia masih betah berlama-lama mencium aroma yang merupakan salah satu makanan kesukaannya tersebut.


Suara apa itu? Apa disekitar sini ada festival? Kok sepertinya ada suara gendang. Batin Tantri.


Setelah Tantri mendengarkan dengan seksama, ia pun mulai menangkap dari mana sumber suara itu berasal. Ia pun lalu menempelkan telinganya di dada Miko untuk memastikan suara itu memang benar-benar berasal dari dalam sana.


Bulu roma Miko berdiri, jantungnya semakin berdetak tidak karuan. Mau bagaimana pun ia lelaki dewasa normal yang pasti mendapat rangsangan saat disentuh oleh seorang wanita.


"Astaga.Jantung Kak Miko kenapa? Kak Miko habis lari maraton yah?" canda Tantri sembari tertawa.


"Eh, mm, itu ... aku ...." Miko tidak tahu harus menjawab apa.


"Kak Miko kenapa sih, kok jantungnya berdebar-debar kencang banget kayak gini? Kak Miko lagi ketakutan ato gimana sih?" tanya Tantri sembari memegang dada Miko dengan sebelah tangannya.


"Jangan seperti itu. Ayo kita turun. Orang-orang pasti sudah menunggu kita," ajak Miko sembari menurunkan tangan Tantri yang menyentuh dadanya. Sebenarnya ia merasa sangat geli karena Tantri menyentuh bagian itu.


Dasar bocah! Kamu pasti tidak tau, kan kalau perlakuanmu barusan membuatku tersiksa. Aku heran dengan anak ini, kenapa sepertinya dia sukses membuat jantungku berdebar hebat? Aku akui, aku memang pernah berpacaran selama beberapa kali, tapi baru kali ini aku merasakan hal yang sangat berbeda. Apa mungkin penyebabnya karena usia kami yang terpaut cukup jauh? Batin Miko.