
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
...----------------...
Tasya memasak di dapur sesuai dengan bahan-bahan yang tersedia. Bu Arini hanya membantunya sedikit. Setelah semuanya tersaji di meja makan, mereka pun memanggil Hendra dan Pak Gunawan yang sedang berbincang-bincang di teras untuk makan bersama.
"Wah sepertinya enak. Papa sudah tidak sabar dari tadi, bau harumnya menjalar sampai keluar dan menggugah selera. Bikin perut papa jadi keroncongan daru tadi." ujar Pak Gunawan. Ia lalu menarik kursi dan duduk, ia segera mengambil makanan sendiri tanpa diambilkan oleh istrinya seperti biasanya karena ia sudah tidak sabar ingin segera menyantapnya.
Semuanya tersenyum melihat Pak Gunawan yang begitu tidak sabaran. Dan Hendra tahu kalau pasti Tasya yang memasak menu makan siang kali ini hanya dengan mencium aroma masakannya tadi. Dan memang benar, Bu Arini tadi membiarkan Tasya memasak semua makanan di dapur. Ia hanya membantu mengupas bawang dan memotong sayuran saja. Ia ingin menguji kemampuan memasak menantunya.
"Emm ... enak sekali. Sangat lezat dan gurih. Rasanya juga pas. Mantul." puji Pak Gunawan setelah menelan suapan pertama.
"Ini semua menantu kita yang masak pa." jelas Bu Arini sambil tersenyum.
"Benarkah? Wah, anak papa memang hebat. Kamu sangat pandai memilih gadis untuk dijadikan istri. Cantik dan pintar memasak. Benar-benar tidak salah pilih." ujar Pak Gunawan mengacungkan kedua jempolnya pada Hendra.
"Bukan cuma itu pa. Menantu papa juga masih bersegel. Hehe." batin Hendra sambil senyum-senyum.
Tasya tersenyum malu-malu karena dapat pujian dari ayah mertuanya. Ia pun lalu mengambilkan makanan di piring Hendra seperti biasanya.
"Makasih pa." balas Hendra dengan tersenyum.
Mereka pun makan bersama tanpa suara sampai semuanya selesai dengan makanannya.
"Wah kenyang sekali." kata Pak Gunawan sambil mengelus-elus perutnya yang semakin buncit karena kekenyangan.
"Tasya. Lain kali kamu sering-sering kesini memasak untuk kami. Masakan pembantu disini tidak seenak masakan kamu." imbuh Pak Gunawan.
"Baik pa." Tasya tersenyum sambil mengangguk sopan.
"Bagaimana kalau papa saja yang datang kerumah kami? Papa bisa menikmati masakan menantu papa disana setiap hari. Iya kan ma?" tawar Hendra.
"Iya betul sekali. Mama juga setuju." timpal Bu Arini.
"Oh iya, Hend bagaimana dengan bi Ani? Kapan kamu akan menyuruhnya masuk bekerja?" imbuh bu Arini bertanya. Karena khawatir menantunya akan kecapaian kalau harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.
"Jangan khawatir ma. Pagi ini Hendra memanggilnya untuk bersih-bersih. Aku menyuruhnya datang empat kali seminggu untuk datang membersihkan rumah. Setelah itu, dia boleh pulang." jelas Hendra.
Setelah cukup lama mengobrol, Tasya dan Hendra pamit pulang ke rumah mereka. Diperjalanan jalan lorong masuk rumahnya Hendra tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Ada apa sayang? Kenapa berhenti?" tanya Tasya.
"Tunggu sebentar sayang." jawab Hendra lalu turun dari mobil. Ia mengambil seekor anak kucing yang hampir ia tabrak lalu membawanya masuk kedalam mobil.
"Yah ampun sayang. Lucu sekali." mengambil kucing dari tangan Hendra.
"Kamu suka ini kan? Ayo kita bawa kerumah!" seru Hendra.
Tasya mengannguk senang sambil memangku dan mengelus-elus anak kucing itu.
Setelah sampai dirumah. Tasya membersihkan bulu kucing putih oranye itu dengan handuk kecil setelah memberinya makanan.
"Bagaimana kalau Puss saja sayang?" usul Tasya.
"Terserah kamu saja sayang." balas Hendra.
"Biarlah aku kasih nama Puss. Supaya nanti kalau aku keceplosan lagi, pasti dia mengira aku sedang memanggil kucing ini. Hehe." batin Tasya seraya tersenyum.
"Sayang. Simpan saja dulu anak kucing ini di kardus, tunggu sampai kandangnya datang." ujar Hendra.
"Iya sayang." balasnya lalu meletakkan si kucing putih oranye itu di kardus.
"Ayo sayang kita naik ke kamar!" ajak Hendra sambil menaik turunkan alis kanannya.
"Ih genit. Kamu mau apa lagi sayang?" tanya Tasya yang sudah mengerti maksud Hendra.
"Kamu pikir mau apa lagi? Jangan pura-pura tidak tahu." goda Hendra.
"Sayang perut aku sakit." katanya dengan suara melemah.
"Apa sayang? Perut kamu sakit? Apa perlu aku bawa kerumah sakit atau aku panggilkan kamu dokter? Bagian mana yang sakit. Hah?" seketika Hendra panik dan memegang perut istrinya.
"Ih sayang. Kok kamu jadi lebay begini sih." ujar Tasya. Ia tidak menyangka kalau reaksi suaminya akan berlebihan seperti ini.
"Loh, kok aku dibilang lebay, aku kan cuma khawatir sayang kamu kenapa-napa." ujarnya sambil menatap wajah istrinya.
"Yah udah deh, aku minta maaf sayang." katanya sambil memegang kedua pipi suaminya.
Hendra mematuk bibir Tasya karena gemas melihat bibir mungil istrinya.
"Sayang ... kamu tidak malu apa sama si Puss?" ujar Tasya malu karena mendapat serangan tiba-tiba. Wajahnya jadi merona.
"Kenapa juga aku harus malu sama kucing. Justru dia yang harus malu sama kita, siapa suruh tidak punya pasangan. Hehe." Cerocos Hendra. Ia lalu menggendong istrinya masuk menuju kamar.
"Sayang. Turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri." Tasya berontak minta diturunkan.
"Mana mungkin aku membiarkan istriku berjalan menaiki tangga saat perutnya sedang sakit." balas Hendra sambil terus berjalan menaiki tangga.
Tasya memeluk leher Hendra dengan sangat erat sampai wajah mereka bersentuhan. Tasya takut terjatuh apalagi mereka sedang berada di tangga, pasti sangat berbahaya. Ia tidak berkata apa-apa lagi karena tahu suaminya tidak mau dibantah. Dibantah pun juga percuma, Hendra tetap melakukan sesuatu sesuai keinginannya.
Hendra meletakkan Tasya di tempat tidur dengan sangat pelan.
"Bagian mana yang sakit sayang?" tanya Hendra lalu menyingkap gamis istrinya sampai perutnya kelihatan. Tasya jadi malu dibuatnya.
"Sayang. Apa yang kamu lakukan?" berusaha menurunkan gamisnya karena malu tapi Hendra menahannya.
"Kenapa mesti malu sayang. Aku kan sudah sering melihat semuanya." goda Hendra. Sambil menaik turunkan alisnya.
"Sayang. Sepertinya aku sakit perut karena mau datang bulan deh." jelas Tasya.
"Apa? Kamu mau datang bulan? Berarti aku belum berhasil membuat kamu hamil." ujarnya dengan perasaan sedikit kecewa. Ia ingin segera punya anak dari Tasya istrinya.