
Hampir 15 menit Tantri berada dalam kamar mandi. Saat ia keluar, ia sudah tidak mendapati Miko berada di ruangan itu.
"Kemana perginya, yah?" gumam Tantri sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia bahkan mencari Miko di kolong meja. Siapa tahu laki-laki itu bersembunyi di bawah sana. Pikirnya.
Setelah mencari di kolong meja namun tidak menemukan apa-apa, Tantri kemudian mencari Miko di dalam lemari. Mungkin saja kak Miko sedang bersembunyi di dalam sana. Batinnya. Namun ternyata hasilnya nihil. Miko juga tidak ada disana.
"Kemana dia?" gumam Tantri berbicara sendiri.
"Ngapain juga aku nyariin bos nyebelin itu di kolong meja dan didalam lemari. Ada-ada aja aku ini. Mending aku lanjutin kerjaan aku aja," ucap Tantri yang menyadari pemikiran absurdnya. Ia pun segera menuju meja kerjanya dan kembali membuka laptop yang sempat ditutup paksa oleh Miko tadi.
Sementara itu di ruangan Jonathan, Miko sedang terkekeh geli menyaksikan tingkah gadis kesayangannya yang mencarinya di kolong meja dan didalam lemari. Ia sungguh merasa gemas dengan gadis itu.
Ada-ada saja kamu Tri. Memangnya kamu pikir aku ini anak-anak apa yang biasa bersembunyi di kolong meja ataupun di dalam lemari. Batin Miko yang sedang mengawasi Tantri melalui rekaman CCTV di smartphonenya.
Jonathan yang melihat tingkah aneh atasannya jadi kebingungan dan penasaran. Meskipun demikian, namun ia tidak berani untuk bertanya.
Setelah melihat Tantri duduk di meja kerjanya, Miko pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
"Jo! Aku kembali ke ruanganku dulu," ucap Miko.
"Iya, Pak. Silahkan!" balas Jonathan.
"Oh iya, Jo. Aku peringatan sama kamu, berhenti mendekati Tantri," ucap Miko to the point.
Ternyata pak Miko sudah tahu kalau aku sedang mendekati adik sepupunya. Tapi darimana dia tau? Batin Jonathan sedikit terkejut.
"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Jonathan penasaran.
"Dia itu calon istriku, jadi berhenti mendekatinya," jawab Miko lalu melenggang keluar meninggalkan ruangan itu.
"Hah?!" Jonathan mengangakan mulutnya mendengar ucapan Miko. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Calon istri? Bukannya Tantri itu adik sepupunya pak Miko? Kenapa sekarang dia bilang calon istri? Aneh. Apa mungkin karena pak Miko tidak mau aku mendekati adik sepupunya? Mungkin pak Miko takut kalau aku akan menyakiti hati Tantri. Makanya dia mengada-ngada seperti itu. Batin jonathan.
Ah, lain kali aku akan mengajak pak Miko bicara baik-baik. Aku akan mengatakan kalau aku serius ingin menjalin hubungan dengan Tantri. Dan aku tidak pernah bermaksud untuk mempermainkan perasaannya. Batin Jonathan lagi.
****************
Miko membuka pintu ruangannya. Tantri yang mengetahui hal tersebut hanya berpura-pura tidak menyadarinya. Ia memutuskan untuk pura-pura fokus dengan pekerjaannya. Ia merasa kesal pada Miko yang pergi meninggalkan ruangan tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Sedangkan ia, apa-apa harus ia laporkan pada pria itu. Apa-apa harus minta ijin terlebih dahulu.
"Ehem." Miko sengaja berdehem untuk menggoda gadis itu. Tapi Tantri pura-pura tidak dengar dan memilih fokus dengan pekerjaannya. Sedikit pun ia tidak melirik ke arah Miko.
Miko tersenyum melihat Tantri yang pura-pura tidak mendengarnya. Karena pekerjaan Miko sudah beres, ia pun memutuskan untuk berbaring di sofa. Seketika rasa kantuk melanda dirinya.
Beberapa jam kemudian, Miko tertidur dengan sangat nyenyak hingga waktu menjelang sore. Saat ia terjaga, perlahan-lahan ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke retina matanya. Setelah mendapatkan kesadaran penuh, Miko kemudian bangkit dari posisinya. Matanya langsung tertuju pada meja kerja Tantri.
"Tri! Tantri! Cepat keluar! Aku kebelet," teriak Miko. Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, ia pun memutuskan untuk memutar knop pintu.
"Tri, apa kamu di dalam sana?" teriak Miko sambil membuka pintu kamar mandi secara perlahan. Miko mencari-cari keberadaan Tantri di dalam sana namun ia tidak menemukannya.
"Kemana dia?" gumam Miko.
Selepas membuang hajat didalam kamar mandi, Miko segera keluar. Miko melirik jam di pergelangan tangannya. Ia begitu terkejut melihat jam menunjukkan sudah lewat jam pulang kerja.
"Astaga! Ternyata sudah lewat waktunya dia pulang. Apa Tantri pulang tanpa menungguku? Tega sekali dia tidak membangunkanku." gumam Miko.
Miko mengambil ponselnya di atas meja. Ia ingin menanyakan di mana posisi Tantri saat itu. Sudah tiga kali sambungan telepon mereka terhubung, namun Tantri tidak menjawabnya sekalipun.
Miko mendengus kesal. Berani-beraninya Tantri tidak menjawab panggilannya. Ia pun kemudian mengirim pesan melalui aplikasi WhatsApp di ponselnya.
π© Miko : Kamu di mana?
π© Tantri : Di rumah
"Ck, tega sekali dia tidak membangunkanku." Miko berdecak kesal mengetahui Tantri sudah ada di rumah. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera mengambil jas, tas kerja dan kunci mobilnya.
****************
Sesampainya di rumah. Miko segera masuk kedalam kamarnya. Setelah berganti pakaian, Miko segera menghampiri pintu kamar Tantri. Ia ingin mendengar penjelasan mengapa Tantri tidak membangunkannya tapi malah memilih meninggalkannya di kantor.
Tok tok tok. Miko mengetuk pintu kamar Tantri. Tidak ada respon sama sekali dari gadis itu. Setelah cukup lama mengetuk pintu kamar tersebut, namun ia tidak kunjung dibukakan pintu juga. Miko pun memutar gagang pintu tersebut. Tapi sayang pintunya terkunci. Tanpa menunggu lama-lama, Miko segera mengambil kunci serep di laci lemari dekat kamarnya. Setelah pintunya berhasil ia buka, Miko pun segera masuk ke dalam sana. Ia melihat Tantri sedang tertidur dengan nyenyak diatas tempat tidur.
Pantas saja tidak ada jawaban. Ternyata dia sedang tidur. Batin miko. Ia pun kemudian berjalan menghampiri Tantri yang sedang tertidur pulas. Ia lalu duduk di pinggir ranjang sambil menatap wajah gadis itu.
Miko memencet hidung Tantri dan mengakibatkan Tantri mangap-mangap karena kesulitan bernafas. Mau tidak mau ia harus bangun dari tidurnya. Tantri sangat marah saat mengetahui kalau miko yang sedang menjahilinya saat ia sedang tertidur.
"Kak Miko apa-apaan sih? Ganggu tidur orang aja," ucap Tantri setelah menepis tangan miko yang memencet hidungnya.
"Kenapa kamu meninggalkanku di resto? Kenapa tidak membangunkan ku? Oh jadi sekarang kamu sudah berani pulang sendiri. Makanya kamu tidak menungguku," kesal miko. Ia mengeluarkan semua uneg-unegnya pada gadis itu.
"Salah, Kak Miko sendiri kenapa nyebelin banget jadi orang," jawab Tantri cemberut.
"Jadi kamu masih marah. Aku kan sudah minta maaf tadi," ujar Miko.
"Aku nggak peduli," balas Tantri.
Miko terkesiap mendengar ucapan Tantri. Semakin lama ia semakin gemas dengan tingkah membangkang gadis itu. Ingin sekali rasanya ia mencomot bibir mungil milik gadis itu yang tidak ada sopan santunnya saat berbicara dengan yang lebih tua.