How To Love You

How To Love You
Ikhlaskan



"Kamu sudah selesai bicara? Aku mau keluar." Tasya berkata sambil menghadap ke arah luar. Dia tidak sanggup menatap wajah Fathur karena hanya akan membuat air matanya kembali terjatuh.


"Sya, bolehkah aku bersama kamu sedikit lebih lama lagi di sini? Aku masih ingin bersama kamu, Sya," pinta Fathur.


"Tapi aku gak mau berlama-lama berada di dalam satu mobil yang sama dengan calon suami orang," tegas Tasya.


"Tasya, please. Beri aku waktu. Aku masih butuh waktu buat menerima semua kenyataan ini, Sya. Please .... ini buat yang terakhir kalinya sebelum kita benar-benar berpisah. Tolong temani aku sebentar .... aja. Ya."


Mendengar permintaan Fathur, Tasya semakin terisak. Berat memang harus berpisah dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita. Tapi mau bagaimana lagi, takdir tidak berpihak kepada mereka berdua.


"Penyesalan terbesarku adalah, waktu yang gak bisa diulang kembali. Andai waktu bisa diulang, aku ingin berjuang dan memperbaiki semua kesalahanku sama kamu, Sya. Aku ingin memperjuangkan cinta kita bagaimana pun caranya." Tidak terasa air mata Fathur mulai menetes. Dia sudah tidak kuat lagi membendungnya. Sebelumnya dia tidak pernah menyangka bahwa kisah cinta mereka berdua akan berakhir menjadi semenyedihkan ini.


Cukup lama keduanya sama-sama menangis dalam diam, yang terdengar hanya isakan mereka berdua.


"Sya, maukah kamu memaafkan atas ketidak berdayaanku memperjuangkan cinta kita?" tanya Fathur.


Tasya menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Kamu gak bersalah apa pun, jadi kamu gak perlu minta maaf. Mungkin ini memang sudah takdir kita. Kita memang gak ditakdirkan untuk bersama. Aku juga akan belajar mengikhlaskan kamu, dan aku harap kamu juga bisa seperti itu," kata Tasya, sambil menyeka air matanya menggunakan tissu.


Setelah cukup lama menangis, dia akhirnya mampu menguasai emosinya.


Fathur terdiam sejenak lalu berkata, "Semoga kamu mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari aku, bukan pecundang seperti aku. Dan semoga kamu hidup bahagia selamanya."


Setelah mengucapkan kalimat-kalimat itu, air mata Fathur kembali mengalir dengan deras. Membayangkan Tasya dipersunting oleh pria lain yang bukan dirinya sungguh dia tidak rela.


Tasya berbalik menatap Fathur. Dia merasa tidak tega melihat Fathur yang tidak bisa berhenti menangis.


"Fathur, sudahlah, jangan menangis lagi. Ayo kita sama-sama belajar mengikhlaskan satu sama lain. Apa kamu lupa? Jodoh itu Allah yang ngatur. Allah akan memberikan apa yang hambanya butuhkan, bukan apa yang hambanya inginkan. Mungkin ke depannya kamu akan lebih membutuhkan sosok wanita yang seperti dokter Fani sebagai pendamping hidup ketimbang wanita yang seperti aku."


Fathur tidak menjawab, dia malah menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Fathur liat aku, aku janji sama kamu, aku pasti akan tetap hidup bahagia setelah ini. Dan kamu pun juga harus janji sama aku akan hidup bahagia bersama istrimu kelak. Dengan begitu kita bakalan sama-sama hidup bahagia pada kehidupan kita masing-masing ke depannya. Kamu jangan sedih kayak gitu. Kalau kamu sedih, aku juga jadi ikutan sedih. Kamu jadi laki-laki jangan cengeng dong."


"Sya, terima ka-sih atas keba-hagia-an yang kamu berikan pada-ku selama i-ni." Fathur berkata dengan suara terputus-putus.


"Gak. Harusnya aku yang berterima kasih sama kamu. Kamu yang selama ini sudah berjuang keras membahagiakan aku, mencoba memahami aku, selalu menjaga aku, dan selalu melindungi aku. Aku gak tau apakah dengan berterima kasih aja sudah cukup untuk membalas semuanya," ujar Tasya mencoba menenangkan Fathur.


"Gak. Kamu juga gak perlu berterima kasih sama aku. Aku melakukan semua itu karena aku benar-benar mencintai kamu dari lubuk hati aku yang paling dalam. Aku selalu ingin membahagiakan kamu, membuat kamu tersenyum, selalu menjaga dan selalu melindungi kamu. Keinginan terbesarku untuk memilikimu dan menjadi imammu harus sirna secepat ini. Ternyata Allah berkehendak lain."


"Maka dari itu, mari kita sama-sama belajar mengikhlaskan satu sama lain. Allah pasti sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita berdua pada kehidupan kita di masa depan," ujar Tasya.


"Sya, maukah kamu berjanji satu hal lagi untukku?" tanya Fathur.


"Apa itu?" katanya balik bertanya.


"Berjanjilah kamu gak akan datang ke pesta pernikahan aku."


"Memangnya kenapa?" tanya Tasya, heran.


"Sebab, kamu mungkin sanggup melihat aku bersanding dengan wanita lain karena kamu gadis yang kuat. Tapi aku, aku pasti gak akan pernah sanggup melihat kamu datang ke pesta pernikahanku. Dan aku gak tau apa yang akan terjadi dan apa yang akan aku lakukan jika aku melihat kamu datang. Aku takut aku gak bisa mengendalikan diri, Sya."


"Baik. Aku mengerti, dan aku berjanji gak akan datang."


...----------------...


2 Minggu telah berlalu semenjak pertemuan terakhir antara Tasya dan Fathur, dan hari ini adalah hari pernikahan Fathur dengan dokter Fani. Buliran-buliran air mata terus mengalir dari pelupuk mata gadis itu, namun tidak sederas sebelum-sebelumnya. Mungkin karena perlahan-lahan dia sudah belajar mengikhlaskan Fathur bersama dengan wanita lain.


Harapannya untuk hidup bahagia bersama orang tercinta sudah dia kubur dalam-dalam. Karena memang, sudah tidak ada harapan lagi untuk mereka kembali bersama. Sekarang Fathur sudah resmi menjadi milik wanita lain seutuhnya.


Satu per satu barang-barang pemberian Fathur Tasya masukkan ke dalam sebuah kardus besar sampai penuh saking banyaknya. Gadis itu tidak ingin menyimpannya lagi karena hanya akan membuatnya mengingat masa-masa indah yang pernah mereka lalui bersama.


Setelah memastikan bahwa tidak ada satupun barang pemberian Fathur yang tertinggal, Tasya pun kemudian membawa kardus besar itu ke belakang rumahnya lalu membakar isinya satu persatu. Dengan cara ini semua barang-barang itu tidak akan lagi mengingatkannya pada kenangan-kenangan indahnya bersama pemuda itu.


Setelah semua barang habis terbakar. Tasya pun keluar menggunakan motor kesayangannya menuju sebuah counter yang tidak jauh dari rumahnya. Dia ingin menjual ponsel pemberian Fathur lalu membeli ponsel yang baru, sekalian mengganti nomor ponselnya dengan yang baru juga. Terlalu banyak kenangan yang tersimpan ponsel itu, Tasya tidak mungkin bisa menyimpannya lagi.