
Tasya memberikan obat yang ia beli tadi bersama Hendra di apotek kepada Tania. Setelah memastikan Radit sudah meminum obat penurun panasnya. Hendra, Tasya, Bu Indah, Bu Arini dan juga Pak Gunawan meninggalkan kamar Radit. Karena malam memang sudah semakin larut. Mereka juga punya kesibukan yang padat besok, mengingat resepsinya semakin hari semakin dekat. Mereka harus istirahat yang cukup untuk mempersiapkan tenaganya hari esok. Mereka harus memastikan bahwa tidak ada yang kurang sedikitpun demi kelancaran acaranya besok lusa.
Hendra dan juga Tasya tidak boleh kelelahan. Karena mereka adalah bintangnya nanti, mereka harus istirahat yang cukup untuk mempersiapkan diri menjadi raja dan ratu sehari.
Kamar Hendra & Tasya
Mereka berdua sudah berbaring di tempat tidur. Tasya yang sudah penasaran dari tadi mengenai suaminya yang memohon-mohon agar ibunya mengijinkan Tania untuk merawat dan menemani Radit dikamarnya. Tasya pun akhirnya memutuskan untuk bertanya agar rasa penasarannya mengenai hal tersebut bisa segera hilang.
"Sayang. Kamu kenapa tadi memohon-mohon seperti itu sama ibu? Apa terjadi sesuatu?" tanya Tasya penasaran.
Hendra yang tadinya telentang kini berbalik menghadap istrinya. Ia menatap wajah cantik istrinya sambil mengusap-usapnya menggunakan ibu jarinya.
"Ada apa sayang? Kamu kenapa? Kok diam aja? Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Iya kan? Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Tasya lagi semakin penasaran.
Hendra menghembuskan napasnya kasar, sesungguhnya ia juga merasakan beban berat dihatinya.
"Radit sayang. Aku kasihan sama dia." jawab Hendra.
"Oh, jadi karena kamu kasihan sama Radit. Ah, aku tahu, pasti karena dia sakit kan? Sedangkan tante Risna sama Om Rahmat tidak ada disini. Tapi setahuku Radit bukan anak yang manja seperti itu, sayang." ujar Tasya.
"Bukan. Bukan itu." jawab Hendra.
"Lalu apa sayang? Aku benar-benar tidak mengerti. Memangnya ada apa dengan Radit? Bukannya dia cuma masuk angin aja. Itukan bukan masalah yang serius sayang." Tasya semakin bingung.
"Sayang ini tidak ada hubungannya dengan sakit yang dialami Radit saat ini. Tapi ... bagaimana cara menjelaskannya yah? Oh, iya ... Kamu ingat tidak saat makan malam tadi? Waktu Radit dan Miko sama-sama memberikan makanan di piring Tania." jawab Hendra.
"Iya, aku ingat sayang. Tapi apa hubungannya dengan hal itu. Apa Radit cemburu sama Kak Miko?" Tasya semakin penasaran.
"Ya, aku pikir sih juga begitu. Tapi ada yang lebih parah lagi." jawab Hendra membuat istrinya yang penasaran semakin penasaran lagi.
"Miko mau merebut Tania dari Radit." jawab Hendra.
"Hah? Apa sayang? Dari mana kamu tahu?" Tasya terbelalak kaget mendengar ucapan suaminya.
"Miko sendiri yang mengatakannya langsung padaku." jelas Hendra.
"Hah? Sayang. Aku benar-benar tidak percaya ini. Kenapa Kak Miko mau melakukan hal seperti itu? Bukankah dia baru kemarin bertemu dengan Tania. Kenapa dia bisa membuat kesimpulan seperti itu." tanya Tasya yang tidak kalah bingungnya. Ia tidak menyangka kalau Miko akan melakukan hal seperti itu. Mau merebut Tania dari Radit.
"Itulah yang membuatku pusing dan bingung saat ini, sayang. Aku tahu Miko itu orangnya seperti apa. Dia itu, kalau menginginkan sesuatu, dia pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia mau." jelas Hendra.
"Dan, aku sangat kasihan sama Radit kalau sampai Miko benar-benar merebut Tania darinya. Aku tidak tahu, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada anak itu kalau sampai hal itu benar-benar terjadi. Dia sangat mencintai adik kamu, sayang." imbuh Hendra.
"Sayang. Aku mengerti perasaan kamu. Kamu tenang aja, kita serahkan saja semuanya pada Tania. Kita biarkan dia memilih sendiri, meskipun sebenarnya aku pribadi memang sudah merestui hubungan Tania dengan Radit. Tapi kita tidak tahu isi hati Tania. Entah nanti dia akan memilih siapa salah satu diantara keduanya. Dan yang terpenting kita serahkan semuanya pada Allah. Karena Allah lah yang telah mengatur jodoh setiap hambanya, jadi kita tidak perlu khawatir lagi sayang. Ingat, jodoh itu ditangan Allah." jelas Tasya mencoba menenangkan suaminya.
"Kamu benar sayang. Apa kamu mau tahu kenapa aku juga merasa sangat sedih?" tanya Hendra lagi sambil terus memandang lekat wajah istrinya dengan wajah sayu.
"Memangnya ada apa sayang?" tanya Tasya.
"Yang membuatku merasa sangat sedih ialah ... aku membayangkan kalau seandainya hal itu terjadi pada kita ..." jelas Hendra. Ucapannya terhenti karena Tasya menutup mulutnya dengan jari telunjuk.
"Jangan. Jangan katakan itu lagi sayang. Aku tidak mau dengar." ucap Tasya sambil menggelengkan kepalanya.
"Percaya padaku. Aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Kecuali ajal yang memisahkan kita. Mau sampai ke ujung dunia pun, aku tidak akan pernah menemukan laki-laki seperti kamu sayang. Kamu itu tidak ada duanya. Kamu tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki manapun di dunia ini. Dan, aku harap kamu juga tidak akan pernah meninggalkan aku. Sampai kapanpun, sampai maut memisahkan." jelas Tasya.
Hendra memeluk erat tubuh mungil istrinya, seraya berkata, "Terima kasih sayang. Aku janji, aku tidak akan meninggalkan kamu apapun yang terjadi sampai maut memisahkan kita berdua." janji Hendra lalu mencium puncak kepala istrinya.
Tasya membalas pelukan suaminya. Ia tersenyum bahagia di balik dada bidang milik suaminya tersebut. Tidak bisa ia pungkiri kalau perasaan yang ia miliki untuk suaminya semakin hari semakin besar. Meskipun ia tidak pernah mengatakannya secara langsung pada Hendra. Hendra benar-benar memanjakan Tasya dan memperlakukannya dengan sangat baik dan lembut. Wanita manapun tidak mungkin tidak luluh hatinya jika terus diperlakukan seperti itu.