How To Love You

How To Love You
Ending



"Pa pa, pa pa."


Raisya terus berlari tanpa menghiraukan teriakan mamanya. Langkah kaki gadis mungil itu terhenti ketika dia memeluk kaki seorang laki-laki berperawakan tinggi yang mengenakan setelan jas berwarna cokelat muda.


Pria itu langsung membawa Raisya ke dalam gendongannya. Raisya memamerkan giginya saat digendong oleh pria itu. Terlihat jelas jika anak itu tidak takut sama sekali pada pria tersebut.


Deg.


Tasya sangat terkejut. Ternyata Raisya digendong oleh  Fathur. Sejenak Tasya berdiri mematung. Dia merasa agak ragu untuk menghampiri, tapi akhirnya dia tetap menghampiri Fathur juga untuk mengambil alih putrinya itu dari gendongan pria tersebut.


"Raisya sayang, sini sama Mama, Nak."


Anehnya, Raisya malah menolak Tasya. Gadis mungil itu malah memeluk leher Fathur dengan manja sambil berkata, "Pa pa pa. Pa, pa."


"Itu Om Fathur Sayang, bukan papa. Papa sekarang sedang pergi ke toilet."


"Biarkan saja, Sya. Tidak apa-apa. Aku juga tidak keberatan jika putrimu memanggilku dengan sebutan Papa." Fathur berkata lalu tersenyum.


Sementara itu, Tasya tidak tahu harus berkata apa. Dia ingin protes tapi dia masih merasa canggung dan tidak enak pria dari masa lalunya tersebut.


"Nah, Raisya sayang, Om akan membawa kamu untuk bermain bersama Rafa. Tadi kamu suka 'kan bermain bersama Rafa?"


Rafa? Siapa Rafa? Dan kenapa Raisya sepertinya sangat akrab dengan kak Fathur?


Dengan kepala yang sudah dipenuhi beberapa pertanyaan dan rasa penasaran, Tasya berjalan mengikuti Fathur yang sedang menggendong Raisya. Meski pun terasa agak canggung, tapi Tasya tetap mengikuti keduanya, dia tidak punya pilihan lain.


Jika saja bukan karena Raisya yang tiba-tiba saja berlari dan terlanjur masuk ke dalam gendongan Fathur, Tasya pasti akan memilih untuk jauh-jauh dari pria dari masa lalunya tersebut. Tasya sangat ingin menjaga perasaan Hendra. Takutnya suaminya itu akan cemburu pada Fathur.


Tasya terus berjalan mengikuti Fathur dan Raisya dari belakang. Ternyata dokter Fani dan Hendra juga sedang mengobrol bersama sambil dokter Fani menggendong Rafa.


Hendra sangat terkejut melihat putrinya digendong oleh Fathur. Di tambah lagi Tasya yang berjalan sekitar 2 meter di belakang pria itu.


Awalnya Hendra merasa sedikit cemburu, tapi akhirnya dia bisa mengendalikan diri dan yakin kalau istrinya pasti tidak akan mungkin mengkhianatinya. Dia sudah sangat mengenal dan mempercayai istri kesayangannya itu.


"Sayang," ucap Hendra sembari mengambil alih Raisya dari gendongan Fathur.


"Papa. Papa."


Hendra mencium pipi putrinya dengan gemas. Sementara itu Tasya berjalan menghampiri suami dan anaknya.


"Sayang, ternyata kamu ada di sini. Saya pikir masih ada di toilet." Tasya berkata pada Hendra.


"Aku baru saja kembali Sayang, dan tidak menyangka bertemu dengan Fani di sini," jelas Hendra.


"Oh." Tasya mengangguk mengerti, lalu berjalan menghampiri Fani yang tengah menggendong Rafa.


"Halo Sayang, nama kamu siapa?" Tasya mengajak Rafa berbicara.


"Rafa, Tante," jawab dokter Fani. Dia yang mewakili putranya menjawab.


Tasya pun mengobrol dengan akrab bersama dokter Fani. Kedua ibu muda itu pun membahas mengenai banyak hal, terutamanya mengenai seputar topik kesehatan anak.


Tasya belajar banyak dari dokter Fani karena dokter Fani lebih ahli di bidang kesehatan dari pada Tasya.


Sementara itu, Hendra dan Fathur hanya terdiam menyaksikan istri mereka masing-masing yang saling akrab satu sama lain, sedangkan mereka berdua sepertinya masih belum bisa berdamai dari masa lalu.


Saat mereka tengah asyik mengobrol, tiba-tiba saja Miko menyuruh seseorang untuk memanggilkan Hendra untuknya, sedangkan Rafa tiba-tiba saja rewel.


Kini Tasya dan Fathur beserta Raisya ditinggal di sana. Tentunya masih di antara ramainya tamu pesta.


Karena merasa canggung ditinggal bertiga, Tasya pun memutuskan untuk pamit pada Fathur.


"Mm ... Kak Fathur. Saya sama Raisya ke sana dulu ya."


"Tunggu sebentar, Sya. Aku ingin berbicara sebentar dengan kamu," kata Fathur sambil menatap lekat wajah Tasya.


Sementara itu Tasya hanya memusatkan pandangannya pada Raisya. Dia tidak berani menatap pria lain selain Hendra.


"Sya, sampai kapan pun ... kamu akan selalu ada di sini. Di hatiku." Fathur berkata sambil memegang dadanya.


Tasya merasa sangat terkejut mendengar pernyataan Fathur.


"Kak Fathur, saya mohon. Tolong jangan katakan itu lagi. Saya beserta suami dan anak saya sudah sangat bahagia dengan kehidupan kami. Jadi saya minta, tolong Kak Fathur berbahagialah bersama kak Fani dan Rafa."


"Sya, kamu jangan salah paham dulu. Sekarang aku juga bahagia bersama Fani dan Rafa. Tapi ... biar bagaimana pun, namamu tetap tidak bisa aku hilangkan dari sini. Mungkin dia akan tetap berada di sini sampai akhir hayatku."


Fathur sadar, dia pasti akan dihujat oleh banyak pembaca jika mengatakan hal itu. Tapi dia tidak akan pernah bisa hidup tenang jika belum mengatakan hal itu pada Tasya secara langsung.


"Aku bukannya ingin mengacaukan rumah tanggamu atau pun rumah tanggaku sendiri. Tidak sama sekali, Sya. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku mengatakan ini karena aku hanya ingin kamu tahu hal itu. Itu saja, tidak lebih."


Mendengar Fathur yang sudah berbicara kemana-mana, Tasya pun memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Kak Fathur, sepertinya Raisya haus. Saya harus membawanya ke sana untuk minum susu. Permisi."


Tasya berjalan meninggalkan Fathur sambil menggendong Raisya. Sementara itu Fathur terus memandangnya hingga menghilang dibalik punggung tamu lain.


Dret dret.


Ponsel Fathur bergetar di dalam saku celananya. Panggilan dari dokter Fani.


"Baik. Aku akan segera keluar." Fathur pun berjalan keluar meninggalkan pesta setelah menerima panggilan telepon dari istrinya.


...----------------...


Kaindra dan Devano juga sudah bangun. Kedua bayi berusia 7 bulan itu sekarang sudah berada di dalam gendongan orang tuanya masing-masing. Begitu pula dengan Raisya yang kini berada di dalam gendongan Hendra.


Sebelum mereka semua naik bersama-sama ke atas pelaminan untuk berfoto, Hendra lalu berbisik pada Tasya, " Sayang. Kita tidak boleh kalah."


"Kalah apa, Sayang?" Tasya bertanya dengan raut kebingungan.


"Kita tidak boleh kalah dari pengantin baru itu, dari radit dan tania, Kak tama dan juga Dewi."


"Maksudnya kalah apa sih, Sayang? Saya belum mengerti."


"Begini, sepertinya kita harus segera membuatkan Raisya adik, karena kata Radit, dia sudah berencana untuk membuatkan Kaindra adik."


"Jangan sembarangan bicara Sayang, Kaindra masih kecil, mana boleh punya adik."


"Kenapa tidak boleh, Sayang?"


"Kasian, nanti Kaindra nya kurang perhatian dan kurang kasih sayang."


"Loh kenapa kamu bilang begitu Sayang, Kaindra 'kan masih punya dua nenek dan dua kakek. Apalagi tante Risna dan om Rahmat, mereka berdua sangat memanjakan Kaindra, jadi tidak mungkin anak itu kurang perhatian dan kasih sayang setelah punya adik nantinya," jelas Hendra.


"Serta Devano juga, Kak Tama bilang, dia dan Dewi juga sedang program hamil anak kedua," imbuh Hendra.


"Sayang, kamu ini sepertinya sedang mengada-ngada. Saya kurang percaya."


"Aku serius, Sayang. Itu karena Miko bilang, dia dan Tantri ingin langsung membuat anak kembar sekaligus."


Tasya tiba-tiba saja mencubit lengan Hendra.


"Enak saja. Kalian para laki-laki tidak tahu bagaimana rasanya dan bagaimana susahnya hamil dan melahirkan. Jadi jangan seenak jidat ingin menambah anak."


Hendra terkekeh. "Aku hanya bercanda, Sayang. Aku tadi hanya ingin menggodamu saja. Kalau misalkan kamu setuju, sepulang dari sini, kita langsung ... membuatkan Raisya adik." Hendra berbisik pada 3 kata di akhir kalimatnya, lalu kembali terkekeh.


"Dasar genit." Tasya mencubit pinggang Hendra.


"Kak Tasya! Kak Hendra! Ayo naik!" Tania berteriak memanggil kakak dan kakak iparnya untuk naik berfoto bersama di atas pelaminan bersama kedua mempelai.


Kini di atas pelaminan, sudah berdiri empat bersaudara bersama pasangan beserta putra putri mereka masing-masing. Ditambah pak Rudi dan bu Indah yang duduk di bagian paling depan sambil memangku Kaindra dan Devano. Sementara itu Raisya di gendong oleh papanya.


"Siap! Tersenyum! Satu, dua, tiga!" Fotografer yang bertugas mulai mengambil aba-aba.


Ceklek.


Suara kamera yang mengabadikan potret keluarga besar nan bahagia itu mengakhiri cerita ini.


...The End....


...----------------...


...Author sangat berterima kasih pada kalian semua yang sudah membaca dan mendukung cerita receh ini hingga tamat. 🥰...


...Oh iya, jangan lupa baca dan dukung juga karya Author yang lainnya👇...


...1. Anak Genius : Zoe & Zack...



...2. Papa Sambung Idaman...



...3. Pura-Pura Pasutri...



...4. Mencintai Istri Orang...



...5. Dua Papa Hebat Untuk Anakku...



...6. Look At Me, Doctor!...



...7. Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO...


...(Karya : FigurX)...



...8. Dua Dewi...


...(Karya : FigurX)...