How To Love You

How To Love You
Bab 230



Kedai Ice Cream


Tantri mengambil tempat duduk di salah satu meja kosong yang sudah disediakan oleh si pemilik kedai. Tidak lama setelah itu, Anton datang menghampirinya sambil membawa 2 cup es krim rasa cokelat dan vanila untuk mereka nikmati bersama.


Anton duduk diseberang meja sahabatnya yang wajahnya terlihat sangat kusut dan murung. Seumur hidup baru kali ini Tantri merasakan sakit hati karena cinta.


"Udah, ayo makan es krimnya. Nggak usah sedih begitu," ucap Anton mencoba menghibur Tantri. Tantri tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis lalu mulai menikmati es krimnya.


"Tri!"


"Hem."


"Memangnya kamu sama kak Miko beneran ada hubungan, yah?" tanya Anton penasaran.


"Menurut kamu gimana?" jawab Tantri balik bertanya sambil mengaduk-aduk es krimnya.


"Ya, kalo menurut aku sih, iya. Kalian pasti punya hubungan." Tantri hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Anton.


"Ton, ternyata sakit hati gara-gara cinta itu beneran nggak enak banget yah," ujar Tantri sambil menatap es krim yang ia aduk-aduk di wadahnya.


"Iya. Kamu benar. Rasanya tuh ngilu banget disini," balas Anton sambil memegang dadanya.


"Kok kamu bisa tau, Ton. Emang kamu pernah?" tanya Tantri penasaran.


"Ya pernah lah. Gimana caranya aku tau kalo aku belum pernah ngalamin sendiri?" jawab Anton.


"Oh yah. Cewek yang kamu sukai itu siapa, Ton? Kasih tau dong. Aku kan penasaran," tanya Tantri antusias. Seketika ia lupa dengan kesedihan yang melandanya barusan.


Cewek itu adalah kamu. Batin Anton.


"Rahasia. Ada lah pokoknya," jawab Anton.


"Haish. Nggak seru kamu, Ton." Tantri memanyunkan bibirnya mendengar Anton tidak mau membeberkan rahasianya.


"Tri, emang bener kamu sama kak Miko udah tunangan?" tanya Anton penasaran.


"Belum sih. Tapi cincin ini tuh pemberian mama Melda, mamanya kak Miko," jawab Tantri.


"Oh. Sejak kapan kalian pacaran?"


"Aku sama kak Miko nggak pacaran. Kami itu cuma dijodohin sama orang tuanya kak Miko."


"Dijodohin? Serius kamu?"


"He'em."


"Emang masih jaman dijodoh-jodohin kayak gitu," ujar Anton.


"Entahlah. Tapi kenyataannya gitu, Ton."


"Apa kamu udah nerima perjodohan itu? tanya Anton. Tantri menjawabnya dengan anggukan.


"Apa kamu ... cinta sama kak Miko?"


"Sepertinya begitu. Kak Miko adalah cinta pertamaku," jawab Tantri jujur. "Tadinya aku berharap kak Miko adalah yang pertama dan yang terakhir buat aku. Tapi aku nggak nyangka, ternyata dia itu cowok brengs*k." Tantri kembali kesal. Rasa sedih, marah, benci, dan kecewa bercampur jadi satu. Rasanya ia ingin melempar cup ice cream yang ada di tangannya. Tapi untunglah ia masih berpikir waras. Ice cream itu tidak salah. Yang salah itu Miko. Pikirnya.


"Percaya nggak percaya sih, Ton. Tapi dengernya aja aku nggak kuat. Apalagi kalo kenyataannya emang kayak gitu. Tapi aku rasa sih, semua itu benar. Buktinya aja kak Miko nggak ngejar aku waktu aku pergi dari sana."


"Kamu jangan salah sangka dulu, Tri. Yang nyuruh aku ngejar kamu itu kak Miko. Tapi, yah ... meskipun nggak disuruh, aku juga pasti bakalan ngejar kamu sih."


"Makasih ya, Ton. Kamu memang sahabat yang baik. Aku jadi kangen Sherina sama Aldo. Kapan yah kita bisa ngumpul bareng lagi?"


Tanpa mereka ketahui, Miko ternyata medengar percakapan mereka sejak tadi. Antara senang dan sedih. Miko tidak tau harus merasakan apa. Sedih karena karena gadis itu tidak mempercayainya. Senang karena ternyata Tantri sudah membalas cintanya juga.


Miko pun berjalan pelan dibelakang Tantri. Menatap wanitanya dengan tatapan sendu. Anton yang menyadari hal tersebut memilih untuk mengalah dan membiarkan keduanya bicara dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi.


Bagi Anton, kebahagian Tantri adalah kebahagiaannya juga. Seperti kata orang-orang, cinta tak harus memiliki. Begitu lah Anton. Ia akan berusaha mengikhlaskan Tantri untuk Miko. Asalkan Miko bisa membahagiakan sahabat yang dicintainya itu.


"Tri! Aku mau cari toilet dulu sebentar." Anton pun segera berlalu meninggalkan Tantri. Tantri menundukkan kepalanya di meja saat Anton meninggalkannya. Rasanya, air matanya ingin kembali tertumpah saat kembali mengingat Miko.


Hiks hiks hiks. Tantri menangis tersedu-sedu selepas kepergian Anton. Miko merasa dadanya terasa sesak melihat gadis kesayangannya menangis karenanya. Rasa bencinya pada Lyvia semakin bertambah berkali-kali lipat. Tapi untunglah tadi ia sudah mempermalukan Lyvia didepan orang banyak. Bahkan banyak yang membully Lyvia dan menyebarkan fotonya di sosial media dengan hastag #BuayaBetina, #Pelakor, dan #PHO (Perusak Hubungan Orang).


Miko berjalan menghampiri Tantri, ia sudah berdiri tepat disamping gadis itu.


"Sudah. Jangan membuang-buang air matamu hanya karena kesalahpahaman yang belum kamu ketahui kebenarannya," ucap Miko sambil memegang bahu Tantri. Tantri terkejut. Ia segera mendongakkan kepalanya melihat ke arah Miko. Matanya sudah merah dan basah. Begitu pula dengan pipinya. Ia menatap laki-laki yang dicintainya itu sambil menangis tersedu-sedu. Lidahnya terasa keluh dan tidak bisa berkata apa-apa.


Miko memegang kedua bahu Tantri lalu membuat gadis itu berdiri di hadapannya. Tantri hanya menundukkan kepalanya sambil terus-terusan terisak. Sedangkan Miko menatap wajahnya lekat-lekat.


"Jangan menangis! Kamu hanya salah paham. Aku bisa jelaskan semuanya nanti. Kalau perlu aku akan meminta papa sama mama untuk ikut menjelaskan semuanya padamu nanti," jelas Miko lalu memeluk gadis kesayangannya itu. Ia berusaha menenangkan Tantri dalam pelukannya.


"Sudah, sudah. Jangan menangis lagi. Kamu tahu, aku juga ikut merasa sedih karena kamu tidak mempercayaiku dan lebih memilih mempercayai ucapan perempuan g*la tadi." Tantri mendongakkan kepalanya menatap Miko. Miko lalu menyeka air matanya menggunakan kedua ibu jarinya.


"Sudah, sayang sudah, yah." bujuk Miko.


Cup. Kecupan lembut mendarat di kening Tantri.


"Kak Miko ih. Nggak tau tempat banget. Malu tau diliatin orang-orang," ucap Tantri sambil cemberut.


"Lebih malu mana? Menangis di tempat umum atau--"


"Atau apa?"


"Tidak. Tidak jadi," jawab Miko sambil tersenyum. Ia merasa senang karena sepertinya Tantri sudah tidak marah lagi padanya. Ia pun kemudian mendudukkan Tantri di kursi sembari ia juga ikut duduk.


"Kak Miko nggak bohong, kan tadi?" tanya Tantri sambil menuding Miko.


"Demi Allah, sayang. Aku tidak bohong. Kamu masih belum mempercayaiku?" tanya Miko. Tantri hanya mengangguk pertanda ia belum percaya.


"Astagfirullah, Tri! Lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa percaya?" tanya Miko. Ia tidak habis pikir kenapa gadis itu belum mempercayainya padahal ia sudah bersumpah dengan membawa nama Tuhan.


"Mm ... Kak Miko harus ..."


"Hem," gumam Miko sambil menunggu Tantri melanjutkan ucapannya.


"Bawa aku ..."


"Kemana?" tanya Miko penasaran.