
Beberapa Hari Kemudian, Pukul 09.30 Pagi
Hari itu adalah hari ulang tahun Tantri yang ke-17 tahun. Seperti janjinya beberapa hari yang lalu, Miko ingin mengajak Tantri jalan-jalan untuk merayakan ulang tahunnya.
Pagi itu Miko datang lebih cepat setengah jam dari janjinya.
Tok tok tok.
Tidak beberapa lama Bu Indah muncul di balik pintu.
"Assalamu'alaikum, Tante." sapa Miko.
"Wa'alaikum salam. Mari silahkan masuk Nak Miko! Tantri masih dikamar mandi." ujar Bu Indah.
"Terima kasih, Tante." Miko pun kemudian masuk dan duduk di kursi tamu seberang Bu Indah.
"Tante, apa Tantri sudah minta ijin pada Tante dan Om?" tanya Miko ingin memastikan. Jika belum, ia sendiri yang akan minta ijin langsung pada Bu Indah.
"Sudah. Memangnya kalian mau kemana?" tanya Bu Indah penasaran.
"Jalan-jalan ke mall, Tante. Tantri katanya ulang tahun hari ini," jawab Miko.
Setelah beberapa saat mengobrol, Bu Indah pun kemudian masuk membuatkan minum didapur untuk tamunya. Saat Bu Indah tengah mengaduk teh yang sudah ia tambahkan dengan sedikit gula dan air panas mendidih, Tantri keluar dari kamar mandi. Ia baru saja selesai mandi didalam sana.
"Ada tamu yah, Bu?" tanya Tantri saat melihat ibunya membuat secangkir teh.
"Iya. Nak Miko sudah ada diluar menunggu kamu. Cepat sana siap-siap!" titah Bu Indah pada anak bungsunya.
"Apa, Bu?" tanya Tantri tidak percaya. Ia begitu terkejut dengan kedatangan Miko yang begitu cepat dan tidak sesuai janji.
Dengan hanya mengenakan jubah mandi lengan panjang dengan panjang selutut serta handuk yang masih membungkus rambutnya, Tantri berlari keluar ingin mengecek keberadaan Miko diruang tamu.
"Astaga! Apa benar Kak Miko sudah ada diluar." batin Tantri terus berlari keluar. Ia tidak sadar akan penampilannya saat itu. Hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk ia sampai diruang tamu.
"Yah ampun. Kenapa, Kak Miko datang cepat sekali? Aku kan baru selesai mandi," ujar Tantri saat melihat Miko sudah duduk manis disana menunggunya.
"Astaga! Kenapa anak ini keluar dengan penampilan seperti ini? Dasar polos!" batin Miko.
Ini pertama kalinya Miko melihat leher putih jenjang milik Tantri. Serta betis dan kakinya yang mulus. Wajahnya yang segar sehabis mandi membuat Tantri terlihat semakin cantik dimata Miko.
"Memangnya kenapa? Apa kamu tidak suka aku menunggumu dirumahmu?" tanya Miko.
"Nggak. Bukannya gitu, Kak. Aku cuma nggak mau, Kak Miko gelisah menungguku terlalu lama," jawab Tantri.
"Aku lebih baik menunggumu disini daripada harus menunggu jam 10 itu tiba," jelas Miko.
"Maksudnya?" tanya Tantri bingung. Ia sulit mencerna maksud dari kata-kata Miko barusan. Seringkali Miko mengeluarkan kata-kata yang sulit dimengerti oleh gadis itu.
"Eh, eh, eh. Anak gadis kok keluar tidak pakai baju. Sana masuk!" tegur Bu Indah yang baru saja dari dalam sembari membawa nampan berisi secangkir teh dan satu toples kue kering.
"Astagfirullah! Ma maaf, Kak aku kedalam dulu," pamit Tantri seraya memeluk dadanya. Ia baru sadar kalau penampilannya barusan kurang sopan. Apalagi diluar ada tamu laki-laki dewasa yang jelas-jelas bukan mahromnya.
"Dasar b*doh, b*doh, b*doh! Memalukan sekali aku ini." gumam Tantri merutuki kebodohannya sendiri.
"Maafkan Tantri yah, Nak Miko. Anak itu sudah berusia 17 tahun tapi masih saja bersifat kekanak-kanakan,"
"Tidak apa-apa kok, Tante." balas Miko.
"Terima kasih, Tante."
****
30 Menit Kemudian,
Setelah Tantri selesai bersiap-siap, mereka pun segera berangkat menuju tempat tujuan. Setelah hampir tiga per empat jam melajukan mobilnya, akhirnya mereka pun sampai ditempat tujuan.
"Ayo turun!" seru Miko setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi bersama mobil pengunjung lainnya.
"Sebentar Kak, aku mau ngerapiin hijab aku dulu." ucap Tantri sembari mengarahkan spion dalam ke arahnya.
"Yah sudah, aku tunggu kamu di luar, yah." ujar Miko seraya membuka pintu mobil untuk keluar dari dalamnya.
"Oke." balas Tantri.
Tantri segera beranjak keluar dari dalam mobil setelah ia selesai merapikan hijab dan mengoleskan sedikit Lip Tint berwarna pink muda di bibirnya. Ia pun segera menghampiri Miko yang berdiri menunggunya di depan mobil.
"Sudah siap?" tanya Miko.
"Iya, Kak." jawab Tantri seraya mengangguk.
"Ayo!" seru Miko seraya menarik tangan Tantri lalu melingkarkan di lengannya.
Kali ini Tantri yang merasa sedikit malu-malu dan canggung pada Miko. Jika sebelumnya ia yang menggandeng tangan Miko duluan, beda halnya dengan kali ini. Setelah mendengar ucapan Sherina tempo hari, ia merasa tidak enak jika terus-terusan saja menempel pada laki-laki itu.
"Kamu kenapa?" tanya Miko. Ia tahu kalau gadis itu sedang malu-malu.
"Ng nggak kok Kak." jawab Tantri sambil menunduk. Ia menyembunyikan blush on alami yang muncul diwajahnya.
Mereka pun lalu berjalan masuk kedalam mall sambil Tantri memeluk lengan Miko. Setiap orang yang melihat mereka pasti menyangka kalau mereka sepasang kekasih saking terlihat mesranya. Mereka terlihat serasi meskipun usia mereka beda jauh. Jika dilihat dari penampilan fisik keduanya saja, tidak akan ada yang menyangka kalau rentang usia antar keduanya ternyata cukup jauh.
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam didalam mall dengan menonton, makan, bermain sepuasnya di time zone, serta Miko sedikit berbelanja sesuatu untuk menunjang penampilan barunya itu. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang karena Tantri tidak mau dibelikan apapun.
"Bagaimana, apakah hari ini menyenangkan?" tanya Miko ditengah perjalanan mereka menuju parkiran.
"Seru banget, Kak. Makasih." balas Tantri tersenyum seraya mendongakkan kepalanya melihat wajah Miko. Tangannya masih setia bergelayut di lengan pria itu.
"Kak, ngomong-ngomong, Kak Miko pakai parfum apa sih? Baunya kok bisa enak banget gini sih," ujar Tantri.
"Kenapa, kamu suka?"
"Ih, aku kan udah bilang sebelumnya Kak. Masa Kak Miko lupa sih? Baunya itu enak banget tau nggak. Aku jadi betah nempel-nempel sama, Kak Miko."
"Masa sih?" tanya Miko malu-malu.
Mana mungkin aku lupa. Aku memang sengaja menyemprotkan parfum lebih banyak ke seluruh tubuhku tadi, biar kamu betah nempel. Batin Miko sambil tersenyum sendiri.
"Iya, merek parfumnya apa sih, Kak?" tanya Tantri penasaran.
"Buat apa kamu tau? Itu kan parfum laki-laki," jawab Miko balik bertanya.
"Iya, aku tau. Tapi kayaknya aku juga pengen beli deh, Kak," jawab Tantri.
"Buat siapa?" tanya Miko dengan nada sedikit melemah. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak. Ia merasa sedikit cemburu karena ia pikir Tantri ingin membeli parfum serupa untuk diberikan kepada laki-laki lain.